<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cendekia.web.id &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://www.cendekia.web.id/category/opini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.cendekia.web.id</link>
	<description>Berbagi cerita berbagi berita dan berkarlota</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 16:15:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Juara 2 Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo: Gubernur Gorontalo, Not-so-Nice Job!!!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 16:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cendekia.web.id/?p=1280</guid>
		<description><![CDATA[Dibawah ini merupakan tulisan yang menjadi pemenang kedua untuk lomba Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo, oleh Abdul Qohar Salilama, Alumni Insan Cendekia Gorontalo, Angkatan 2.
Gubernur Gorontalo baru aja kepilih. Euforianya udah dimulai jauh sebelum pengumuman dari KPU, malah konvoinya dimulai pada hari pemilihan. Satu hal yang kocak dari pemilihan Gubernur kali ini adalah terjadinya dua kali konvoi dari dua kandidat yang berbeda. Penyebabnya apa lagi kalau bukan SMS hoax. Mungkin karena “Mama” udah kebanyakan pulsa, makannya “Mama” SMS-in semua orang buat ngasih tau pemenang versi KPU.
Sebenarnya saya pribadi gak mau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dibawah ini merupakan tulisan yang menjadi pemenang kedua untuk lomba Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo, oleh Abdul Qohar Salilama, <strong>Alumni Insan Cendekia Gorontalo, Angkatan 2</strong>.<span id="more-1280"></span></em></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><img title="Abdul Qohar Salilama, Insan Cendekia Gorontalo Angkatan 2" src="http://aqsalilama.files.wordpress.com/2012/01/wr-supratmanmoz1.jpg?w=225&amp;h=300" alt="Abdul Qohar Salilama, Pemenang Kedua Lomba Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo" width="143" height="191" /><p class="wp-caption-text">Abdul Qohar Salilama, Pemenang Kedua Lomba Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo</p></div>
<p>Gubernur Gorontalo baru aja kepilih. Euforianya udah dimulai jauh sebelum pengumuman dari KPU, malah konvoinya dimulai pada hari pemilihan. Satu hal yang kocak dari pemilihan Gubernur kali ini adalah terjadinya dua kali konvoi dari dua kandidat yang berbeda. Penyebabnya apa lagi kalau bukan SMS hoax. Mungkin karena “Mama” udah kebanyakan pulsa, makannya “Mama” SMS-in semua orang buat ngasih tau pemenang versi KPU.</p>
<p>Sebenarnya saya pribadi gak mau jadi gubernur. Selain umur saya yang masih muda, saya juga bukan orang yang berlimpah harta. Bukankah syarat untuk menjadi Kepala Daerah di Indonesia adalah TUA atau KAYA. Jika tidak memenuhi salah satu dari dua syarat tersebut, dapat dipastikan kita tidak akan menjadi Kepala Daerah. Jika suatu saat ada Kepala Daerah yang MUDA atau MISKIN, maka kita harus mendatangi halaman kantor-kantor pemerintah dan melihat ke atas, mungkin bendera yang berkibar bukan lagi MERAH PUTIH.</p>
<p>Berhubung saya tidak akan mungkin jadi gubernur (not now at least), maka saya hanya akan memberikan masukan buat gubernur yang terpilih. Hal pertama yang harus dilakukan oleh Gubernur Gorontalo adalah <strong>menahan diri</strong>. Menahan diri dari mengutak-atik susunan kabinet atas dasar <em>balas jasa </em>dan <em>balas dendam. </em>Lucunya di negeri ini (meminjam istilah Bona Paputungan), kita gak harus pintar dan cakap untuk menjadi pejabat seperti yang tertulis pada Surat Keputusan pengangkatan dalam jabatan. Yang harus kita lakukan hanyalah memeriksa silsilah keluarga, kali aja nyambung dengan pucuk pimpinan, atau mempersiapkan sajak puji-pujian untuk pucuk pimpinan yang dikenal dengan istilah “koprol”. Berhubung hal yang pertama tidak dapat kita usahakan karena berhubungan dengan takdir, maka satu-satunya yang tersisa adalah KOPROL.</p>
<p>Parahnya semua Kepala Daerah di Indonesia memiliki 1 program yang sama untuk semester pertama pemerintahannya, yaitu utak-atik kabinet. Kalau diibaratkan, mereka lebih memilih orang yang buta huruf untuk menjadi Kepala Dinas Pendidikan asalkan masih ada hubungan keluarga daripada memilih seorang Profesor tapi tidak ada hubungan sama sekali. Memang benar, perintah dan ide kita akan lebih mudah diterima dan dikerjakan oleh orang yang memiliki hubungan keluarga dengan kita ketimbang orang lain, tapi profesionalitas harus lebih diutamakan. Lebih baik memilih musuh yang berkompeten di bidangnya daripada saudara sedarah tapi bodoh.</p>
<p>Setelah Menahan Diri, langkah selanjutnya adalah membina kembali hubungan dengan kepala daerah tingkat II, walikota dan bupati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sering terjadi perseteruan antara gubernur dan walikota atau bupati. Hal ini sangat-sangat tidak baik untuk pembinaan masyarakat. Gimana bisa kita mengharapkan rakyat yang rukun sementara pemimpinnya saja selalu berseteru? Memang benar untuk mengharapkan ada yang mengalah adalah sesuatu yang mustahil. Yang pasti jika orientasi dari <em>bos-bos </em>ini hanya untuk jabatan, maka perseturuan itu tidak akan berakhir. Sebaliknya jika orientasinya untuk <em>memimpin dan membina </em>masyarakat, maka “mengalah” bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.</p>
<p>INFRASTRUKTUR. Kata ini paling sering dijanjikan dalam kampanye apapun, kepala daerah, legislatif, sampai presiden, tapi paling jarang terealisasi. Khusus Gorontalo, insfrastruktur kita masih jauh dari memadai. Di bidang transportasi, kita masih mempermasalahkan jatah pembangunan dan perbaikan jalan. “Ini jalan provinsi,” kata bupati/walikota. “Ini jalan kabupaten/kota,” kata gubernur. Sekali lagi, jika orientasinya adalah rakyat, maka saling melempar tanggung jawab ini tidak akan terjadi. Hal yang lumrah di negeri ini lagi adalah ketika berbicara mengenai kewajiban dan tanggung jawab, maka kita akan saling melemparkan tanggung jawab. Tapi jika berbicara dana, maka kita akan saling berebut. “Ini adalah dana kabupaten/kota,” kata bupati/walikota. “Ini adalah dana provinsi,” kata gubernur. Padahal para Kepala Daerah ini, baik tingkat I maupun tingkat II, semuanya memiliki prinsip yang sama dalam pembangunan jalan, TAMBAL SULAM. Semakin cepat jalannya lubang, semakin baik, karena proyek perbaikan jalan semakin sering, ujung-ujungnya <em>fee </em>kepala daerah semakin banyak. Jadi, kalo prinspinya sama, kenapa harus saling melempar tanggung jawab? Kan pasti untung, Bos!</p>
<p>Infrastruktur lain yang masih butuh pembenahan adalah telekomunikasi. Provinsi Gorontalo yang sudah berusia 1 dasawarsa ini telekomunikasi selulernya baru dicover oleh beberapa operator seluler, dengan satu operator terbesar. Dari semua operator, tidak satupun yang memiliki sinyal yang <em>lumayan</em> kuat. Semuanya jauh di bawah lumayan. Telekomunikasi adalah salah satu pilar utama untuk memajukan suatu provinsi. Bayangkan berapa rupiah yang rugi karena putusnya hubungan telekomunikasi! Dalam hal ini Gubernur Gorontalo wajib memerintahkan operator seluler untuk meningkatkan layanannya terutama penyediaan <em>sinyal </em>yang handal. Jika operator tetap tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat, maka Gubernur Gorontalo sebaiknya mengundang investor seluler lain untuk ikut bersaing di Gorontalo.</p>
<p>Infrastruktur lain menurut saya yang masih butuh perhatian gubernur adalah listrik. Dalam beberapa tahun terakhir PLN sebagai pemegang hak monopoli penyedia listrik telah memperluas cakupannya dengan memonopoli caci maki masyarakat Gorontalo. Masyarakat yang selama ini tidak pernah dipuaskan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah tidak mau menerima alasan dalam bentuk apapun. Yang mereka tahu adalah listrik jalan terus. Tugas Gubernur Gorontalo sebagai pelayan masyarakat adalah menyediakan listrik bagaimanapun caranya.</p>
<p>Terakhir yang penting menurut saya adalah BBM. Memasuki tahun 2012 ini, masyarakat Gorontalo masih dipusingkan dengan antrian BBM. Sekali lagi, berapa rupiah yang terbuang hanya karena harus menghabiskan beberapa jam untuk sekedar mengisi bensin? Lucunya lagi, bensin eceran bertebaran di mana-mana, bahkan di sekitar lokasi pom bensin. Aturan pelarangan pengisian jerigen tidak diindahkan oleh petugas pom bensin walaupun sudah dijaga oleh pihak kepolisian. Maklum yang jaga <em>Polisi Tidur</em>. Belum lagi para penjual bensin eceran secara kreatif telah menemukan cara pemasokan bensin tanpa melalui jerigen, misalnya dengan menampung sementara bensin yang akan dijual pada tangki motor mereka. Aturan pembatasan BBM bersubsidi harus diiringi dengan aturan ‘Pelarangan BBM Eceran’.</p>
<p>Gubernur Gorontalo berkewajiban untuk menyediakan dan meningkatkan infrastruktur-infrastruktur tersebut bagaimanapun caranya. Bukankah Anda dipilih untuk menggunakan segala daya upaya dalam rangka pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat? Jika diibaratkan Masyarakat Gorontalo adalah majikan, maka Gubernur Gorontalo adalah budak. Bukankah masyarakat yang menggaji gubernurnya? Sehingga apapun harus dilakukan Gubernur Gorontalo untuk melayani dan menyenangkan Masyarakat Gorontalo. Dan satu lagi, yang sering dilakukan oleh Kepala Daerah pada umumnya adalah penggunaan jalan raya seenaknya. Mengapa wibawa Bung Karno masih tetap terjaga sampai saat ini? Karena beliau menghormati rakyatnya. Beliau selalu menyapa rakyatnya. Selama ini kita lihat para Kepala Daerah dengan angkuh dan serakahnya menggunakan jalan umum. Biasanya dilengkapi dengan mobil patwal lengkap dengan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu. Kurang ajarnya lagi, masyarakat harus mengalah dan memberikan jalannya dipakai oleh Kepala Daerah ini. Lho, yang majikan siapa, yang budak siapa? Mending kalo kinerjanya sama cepatnya dengan mobilnya. Saya sangat mengharapkan Gubernur Gorontalo untuk tidak mempercepat mobilnya ketika melewati jalan rakyat. Lebih bagus lagi kalo kaca mobilnya terbuka sambil menyapa masyarakat. Jika itu yang dilakukan, saya pastikan wibawa Anda akan tetap terjaga sampai kapanpun. Bukankah ketika melewati <em>Shiratal Mustaqim </em>Anda tidak dijaga patwal? Jadi untuk apa kita arogan dalam menggunakan jalan di dunia, sementara kita tertatih-tatih ketika melewati <em>Sirathal Mustaqim</em>. Ingat, Gubernur Gorontalo tidak lebih hebat dan tidak lebih besar daripada Hitler, Mussolini, dan Khadafi. Dan di mana mereka sekarang? Mereka meninggalkan dunia ini tanpa membawa pasukannya apalagi hartanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Nyanyi, Hukum Penjara dan Denda Uang</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2011/05/1180.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2011/05/1180.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 10:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yahya Dunggio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cendekia.web.id/?p=1180</guid>
		<description><![CDATA[If u guys are filipinos you better watch out to sing your anthem.
Hari ini tanggal 10 may 2011, I&#8217;ve just read news from vivanews.com. Salah satu beritanya adalah tentang salah seorang penyanyi kebangsaan filipina yang sudah meretas karir sebagai penyanyi internasional. Namanya adalah Charice Pempengco, Charice adalah salah satu dari penyanyi asia yang berhasil menembus Hollywood. Kepiawaiannya dalam menyanyi tidak diragukan lagi. Kepiawaianya tersebut membawa dia menjadi bintang tamu diacara Oprah Show dan berduet dengan idolanya Celine Dion.
Ada hal yang menarik yang mau saya angkat dari berita yang saya baca ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If u guys are filipinos you better watch out to sing your anthem.</p>
<p>Hari ini tanggal 10 may 2011, I&#8217;ve just read news from vivanews.com. Salah satu beritanya adalah tentang salah seorang penyanyi kebangsaan filipina yang sudah meretas karir sebagai penyanyi internasional. Namanya adalah Charice Pempengco, Charice adalah salah satu dari penyanyi asia yang berhasil menembus Hollywood. Kepiawaiannya dalam menyanyi tidak diragukan lagi. Kepiawaianya tersebut membawa dia menjadi bintang tamu diacara Oprah Show dan berduet dengan idolanya Celine Dion.</p>
<p>Ada hal yang menarik yang mau saya angkat dari berita yang saya baca tersebut. Dalam tulisan yang dimuat oleh vivanews.com tersebut disebutkan bahwa bagi siapa yang <strong><em>salah</em></strong><em> </em>menyanyikan lagu kebangsaan Filipina maka akan dihukum, hukuman penjara paling lama satu tahun dan denda uang. Apa benar demikian adanya. Jika betul seperti itu, maka hal ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Kenapa menjadi sesuatu yang luar biasa karena jika kita bandingkan dengan negara kita Indonesia, maka buat kita orang Indonesia hal yang seperti ini adalah hal yang sepele. Sejauh yang saya tahu selama masa pendidikan dari SD sampai SMU, tidak pernah kita diajarkan tentang pentingnya menyanyikan lagu kebangsaan kita dengan baik dan benar. Kita hanya diajarkan bahwa setiap hari senin pada waktu upacara bendera wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita. Sedangkan buat orang Filipina ternyata lagu kebangsaan adalah sesuatu yang sakral yang mana harus diatur dengan undang-undang. Salah menyanyikan berarti hukuman.</p>
<p>Kalau hal ini diterapkan di Indonesia mungkin akan banyak yang meringkuk di penjara hanya karena salah menyanyikan lagu kebangsaan.  Dan mungkin saya sendiri adalah salah satunya. Hehehe…</p>
<p>Eniwei, Undang undang ini apa gak terlalu berlebihan ya kira-kira. You guys have the answer I think.</p>
<p>====== Just Sharing ======</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2011/05/1180.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PTN vs Sekolah Kedinasan</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2011/04/ptn-vs-sekolah-kedinasan.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2011/04/ptn-vs-sekolah-kedinasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 14:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yahya Dunggio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cendekia.web.id/?p=1171</guid>
		<description><![CDATA[Sepintas kalo kita bertanya kepada siswa kelas III tentang rencana mereka setelah lulus, maka umum jawabannya mereka adalah melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang notabene adalah perguruan tinggi favorit, seperti ITB, UI, UGM dan PTN favorit lainnya.
Terlepas dari keinginan tersebut ada hal yang sedikit menggelitik untuk dikupas, yaitu masih sedikitnya minat para siswa kelas III untuk menempuh jalur lain, selain melanjutkan ke PTN, yakni sekolah kedinasan. Dari pengalaman saya pribadi ketika saya selesai pendidikan SMU, pemikiran saya pun kurang lebih sama dengan pemikiran siswa kelas III pada umumnya. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepintas kalo kita bertanya kepada siswa kelas III tentang rencana mereka setelah lulus, maka umum jawabannya mereka adalah melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang notabene adalah perguruan tinggi favorit, seperti ITB, UI, UGM dan PTN favorit lainnya.</p>
<p>Terlepas dari keinginan tersebut ada hal yang sedikit menggelitik untuk dikupas, yaitu masih sedikitnya minat para siswa kelas III untuk menempuh jalur lain, selain melanjutkan ke PTN, yakni sekolah kedinasan. Dari pengalaman saya pribadi ketika saya selesai pendidikan SMU, pemikiran saya pun kurang lebih sama dengan pemikiran siswa kelas III pada umumnya. Berpikir bahwa PTN adalah yang terbaik untuk pendidikan selanjutnya.</p>
<p>Sedikit kilas balik, masih jelas diingatan ketika selesai terima ijazah yang pertama terpikir adalah PTN mana yang harus di masuki dan jurusan apa kira-kira yang bisa diambil. Dan setelah melalui pertimbangan dan sedikit spekulasi akhirnya saya putuskan untuk <em>nembak</em> kedokteran UNIBRAW sebagai pilihan pertama dan Teknik ELektro UNHAS pilihan kedua. Tapi kemudian timbul sedikit kekhawatiran, <em>gimana kira-kira kalo di UMPTN nanti kedua pilihan ini gak lolos</em>, akhirnya terpikirkan untuk mencari alternative lain yang mungkin bisa dijadikan sebagai cadangan atau kalo orang gorontalo bilang buat jaga-jaga <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Walhasil, STAN jadi solusinya. Kenapa STAN, waktu itu kebetulan sudah ada kakak kelas yang juga melanjutkan pendidikannya di sekolah kedinasan tersebut. Akhirnya dengan informasi yang secukupnya bersama teman-teman lainnya sepakat untuk ikut mendaftar STAN. And the story continue &#8230;&#8230;</p>
<p>Singkatnya, setelah ikut test ternyata lulus UMPTN pilihan ke-2 dan lulus STAN. Thank to GOD for that. Tapi sekarang harus dihadapkan pada dua pilihan, apakah lanjut ke PTN atau sekolah kedinasan. In the end, tiba pada satu keputusan yang mana saya milih STAN sebagai tempat untuk melanjutkan penddikan berikutnya.</p>
<p>Alasan paling mendasar kenapa STAN adalah kondisi financial. Yang mana jika melanjutkan ke PTN maka beban <em>ortu</em> akan semakin lebih besar, kerena waktu itu kedua saudara juga sementara dalam proses kuliah. Dengan tidak melihat prospek dari STAN, saya tetapkanlah STAN sebagai ‘my best place to continue my education’.</p>
<p>Dan sekarang aku bisa melihat, bahwa apa yang telah aku lakukan telah dengan sangat membantu ortu. Aku rasa itu adalah salah satu keputusan yang paling spekulatif dan paling benar yang aku lakukan sejauh ini, Dan semuanya tentunya tidak terlepas dari campur tangan Tuhan yang Maha Kuasa.</p>
<p>sekarang 10 tahun sudah setelah masa SMU, dan aq bisa bayangkan kalo aq milih PTN waktu itu, bukan hanya waktu kuliah yang lama tapi juga biaya yang keluar juga pastinya sangat-sangatlah besar. Terlepas dari keberhasilan teman-teman lainnya yang juga berhasil meretas pendidikan di PTN dan bisa mendapatkan pekerjaan yang terbaik  buat mereka, saya berpikir bahwa memilih sekolah kedinasan masih memiliki nilai lebih dibandingkan dengan harus memilih jalur PTN or PTS.</p>
<p>Sekolah kedinasan menawarkan masa pendidikan yang lebih singkat dan biaya yang lebih terjangkau, dan bahkan tidak jarang biaya pendidikannya digratiskan. Keseriusan dalam menjalani masa pendidikan dalam sekolah kedinasan sangat ditekankan, sehingga tidak ada kesempatan buat para mahasiswa menyia-nyiakan waktunya. Siswa dituntut untuk selalu <em>concern</em> dengan pendidikannya. Lain ketika kita kuliah, godaan untuk bersikap santai sangatlah kuat, sehingga kadang-kadang masa pendidikan di PTN menjadi sedikt molor.</p>
<p>Hal lain yang ditawarkan oleh sekolah kedinasan adalah jaminan kerja bagi para mahasiswanya. 99% lulusan sekolah kedinasan akan bisa langsung kerja karena adanya ikatan dinas dari instansinya. Lain halnya jika kita lulusan PTN, kadang-kadang kita masih harus diuji untuk bisa bersaing dgn para lulusan-lulusan lain dari berbagai universitas. Hal ini menjadikan lulusan sekolah kedinasan satu langkah didepan dibandingkan dengan lulusan PTN.</p>
<p>Tulisan ini saya muat hanya sekedar sebagai bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sebentar lagi akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.</p>
<p>Terlepas dari banyak hal yang harus dipertimbangkan, dua hal yang mesti dikedepankan, yaitu keberanian dalam mengambil keputusan dan tentunya keseriusan dalam menentukan langkah berikutnya.</p>
<p>Good luck to all MAN Insan Cendekia Gorontalo’s students, Wish the best for u all.</p>
<p>============== + + + ===============</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2011/04/ptn-vs-sekolah-kedinasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ukhuwah</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2011/04/hakikat-ukhuwah.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2011/04/hakikat-ukhuwah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 11:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jajang.sobari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cendekia.web.id/?p=1165</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Rasulullah SAW sampai ke Madinah, beliau segera mempersaudarakan Kaum Muhajirin (orang-orang yang ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah) dengan orang-orang Anshar (Penduduk Madinah). Persaudaraan yang dibangun atas kesamaan aqidah, kesamaan visi dan kesadaraan nilai-nilai insani. Inilah sejarah persaudaraan anak-anak manusia yang melahirkan peradaban baru, yaitu peradaban al-musawah atau egaliter.
Dalam konteks peradaban al-musawah inilah, setiap manusia dipandang sama, yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaannya kepada Allah. Seluruh ummat Islam digambarkan seperti berjejernya gigi sisir (kaasnanil musthi) yang sama rata sehingga ketuika digunakan untuk merapikan rambut, nampaklah rapid an indahnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Rasulullah SAW sampai ke Madinah, beliau segera mempersaudarakan Kaum Muhajirin (orang-orang yang ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah) dengan orang-orang Anshar (Penduduk Madinah). Persaudaraan yang dibangun atas kesamaan aqidah, kesamaan visi dan kesadaraan nilai-nilai insani. Inilah sejarah persaudaraan anak-anak manusia yang melahirkan peradaban baru, yaitu peradaban al-musawah atau egaliter.</p>
<p>Dalam konteks peradaban al-musawah inilah, setiap manusia dipandang sama, yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaannya kepada Allah. Seluruh ummat Islam digambarkan seperti berjejernya gigi sisir (kaasnanil musthi) yang sama rata sehingga ketuika digunakan untuk merapikan rambut, nampaklah rapid an indahnya rambut tersebut.</p>
<p>Untuk terciptanya sebuah persaudaraan atau ukhuwah, Allah memberikan kriteria yang sangat sederhana seperti terkandung dalam QS. Al-Taubah : 11</p>
<p>Artinya:<br />
11. Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang Mengetahui. (QS. Al-Taubah: 11)</p>
<p>Dari ayat di atas, jelaslah bahwa jika seseorang itu senantiasa bertaubat, tetap mendirikan shalat dan selalu membayar zakat, maka dia itu adalah saudara kalian dalam agama. Dengan tiga kriteria tersebut, maka persaudaraan dalam Islam tidak didasarkan atas hubungan saling menguntungkan atau hanya pertalian kekeluargaan atau kesamaan etnis dan ras serta warna kulit, tetapi seluruhnya didasarkan kepada kesadaran akan butuhnya tempat kembali yang selamat dan menyelamatkan yaitu taubat, kesadaran spiritual dengan cara mendekat kepada Allah lewat Shalat, kesadaran sebagai makhluk social dengan ritual zakat.</p>
<p>Cobalah anda bayangkan, jika ukhuwah atas dasar saling menguntungkan, maka tentu malanglah nasib orang-orang yang tidak lagi produktif dan tidak memberi keuntungan kepada yang lain, jadilah mereka kaum marjinal.</p>
<p>Olehnya Nabi SAW mengajarkan: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam sabdanya yang lain: al-yadul ulya khoiran minal yadis sulfa (tangan di atas lebih baikdari tangan yang di bawah) Maka kemudian moto peradaban al-musawah untuk ukhuwah adalah Give and Give.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2011/04/hakikat-ukhuwah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa sih open-source software itu?</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/apa-sih-open-source-software-itu.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/03/apa-sih-open-source-software-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 16:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[crack]]></category>
		<category><![CDATA[excel]]></category>
		<category><![CDATA[foss]]></category>
		<category><![CDATA[microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[oss]]></category>
		<category><![CDATA[power point]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[word]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Dewasa ini mungkin kita seringkali mendengar istilah open source. Saya merasa khawatir karena kekurangan informasi tentang pengertian open source, membuat kita berpikir bahwa open source itu berarti “melegalkan” pembajakan. Tulisan saya kali ini hanya ingin menyampaikan apa sih sebenarnya open source itu?
Mungkin definisi singkat tentang open source adalah, software-software yang memiliki lisensi Open Source. Jadi, di dunia ini ada dua jenis lisensi: berlisensi open source(GNU/GPL) dan berbayar, biasanya dilindungi oleh lembaga hak cipta.
Terus seperti apakah software yang berlisensi open source itu? Software open source itu adalah software yang bias unduh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa ini mungkin kita seringkali mendengar istilah <strong><em>open source</em></strong>. Saya merasa khawatir karena kekurangan informasi tentang pengertian <strong><em>open source</em></strong>, membuat kita berpikir bahwa <em>open source</em> itu berarti “melegalkan” pembajakan. Tulisan saya kali ini hanya ingin menyampaikan apa sih sebenarnya open source itu?</p>
<p>Mungkin definisi singkat tentang open source adalah, software-software yang memiliki lisensi <em>Open Source</em>. Jadi, di dunia ini ada dua jenis lisensi: berlisensi open source(GNU/GPL) dan berbayar, biasanya dilindungi oleh lembaga hak cipta.</p>
<p>Terus seperti apakah software yang berlisensi open source itu? <em>Software open source</em> itu adalah software yang bias unduh gratis, dan tidak memiliki <em>Time to Try</em>. Saya bisa menyimpulkan ada <strong>3 ciri pokok software yang berlisensi <em>open source</em></strong>.</p>
<ol>
<li>Anda tidak memerlukan program <em>crack</em> untuk menggunakan <em>full feature</em> dari software tersebut.</li>
<li>Anda tidak membutuhkan serial number orang lain untuk kemudian dimasukkan di software tersebut.</li>
<li>Jika software yang digunakan tidak memiliki <em>time to try</em>, itu artinya software anda berlisensi <em>open source</em>.</li>
</ol>
<p>Itu definisi dan cirri-ciri yang paling gampang dari <em>open source</em>.</p>
<p>Semoga dengan adanya tulisan ini, kita semakin menghindari penggunaan produk bajakan. Karena menggunakan produk bajakan itu sama halnya dengan kita menambah dosa kita di dunia ini. Membajak itu perbuatan kurang benar. Diusahakan sebisa mungkin menggunakan produk yang berlisensi.</p>
<p>Saya sampai sekarang berusaha menggunakan produk open source, dan menghindari penggunaan produk bajakan. Alhamdulillah, jika spt<em><strong> Microsoft Office</strong></em>, saya mampu membeli lisensi resminya <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  karena sekarang sudah sangat murah buat Word, Excel, Power Point.</p>
<p>Mari kita membiasakan diri menggunakan produk bukan bajakan <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/03/apa-sih-open-source-software-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MOMENTUM BAGI KITA JUGA</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 10:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOPEA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Cendekia]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[Gegap gempita terasa sesak memenuhi tahun dua ribu sembilan di negeri ini. Hiruk pikuk dan pesta pora seakan tak mau kalah dengan berita nestapa dan bencana. Silih berganti mereka menghiasi media informasi. Sungguh, terasa baru kemarin meriahnya tanggal satu masehi, hijriyah dan imlek. Semaraknya mempertontonkan prosesi masing-masing yang unik satu sama lain. Dan sekarang rakyat sedang disuguhi kemeriahan lain yang langka dan yang berbeda. Ya, pemilihan umum.
Dia langka sebab hanya hadir sekali dalam lima tahun. Dia berbeda karena banyak hal yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, yaitu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Gegap gempita terasa sesak memenuhi tahun dua ribu sembilan di negeri ini. Hiruk pikuk dan pesta pora seakan tak mau kalah dengan berita nestapa dan bencana. Silih berganti mereka menghiasi media informasi. Sungguh, terasa baru kemarin meriahnya tanggal satu masehi, hijriyah dan imlek. Semaraknya mempertontonkan prosesi masing-masing yang unik satu sama lain. Dan sekarang rakyat sedang disuguhi kemeriahan lain yang langka dan yang berbeda. Ya, pemilihan umum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Dia langka sebab hanya hadir sekali dalam lima tahun. Dia berbeda karena banyak hal yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, yaitu ramenya diskusi, debat, adu argumentasi, logika, kampanye serta selebrasi tentang segala instrumen yang terlibat dalam pemilu. Laksana melodi demokrasi yang tetap harmonis dentumannya meski penuh orkestra konflik dan kontroversi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pemilu Untuk Legitimasi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Ini adalah sebuah hipotesa tentang pentingnya pemilu bagi rakyat bangsa ini. Bangsa berketuhanan esa yang menegakkan negaranya pada sendi-sendi demokrasi. Sistem yang konon menjadi pilihan dua pertiga rakyat bumi. Sistem yang memang tidak sempurna tapi paling tidak dapat menyempurnakan desain sistem yang holistik. Maka kesederhanaan hipotesa ini pula demi kesederhanaan proses kita memahami bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">“<em>Legitimasi merupakan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Konsep legitimasi berkaitan dengan sikap yang dipimpin (masyarakat atau kelompok manusia) terhadap kewenangan pemimpin. Artinya, apakah masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat masyarakat itu atau tidak?? Apabila masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat mereka nanti, maka dapat dikatakan pemimpin tersebut berlegitimasi. Jadi, legitimasi adalah seberapa besar penerimaan, pengakuan, dan dukungan masyarakat terhadap sistem kepemimpinan beserta produk peraturannya</em>.” (Ramlan, 1992).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Oleh karena itu maka pemilu absolut. Serupa akta tanah, dia berperan sebagai bukti yang menunjukkan besar kadar legitimasi. Dia adalah cara tunggal mendapatkan legitimasi yang prosedural dan konstitusional. Maka tidak kaget MUI pun ikut khusyuk ber-<em>ijtihad</em> hingga berfatwa bahwa haram menjadi nonpartisan dalam pemilu. Padahal para ulama itu bukannya tidak paham bahwa pemilu dan demokrasi bukan identitas <em>khilafah </em>dalam Islam. Terpenting bagi mereka adalah membuktikan legitimasi dari 200 juta lebih penduduk Indonesia. Yang tentunya sangat jauh berbeda kondisinya ketika waktu itu Abu Bakar dilegitimasi oleh para sahabat yang semuanya sholeh untuk menggantikan kepemimpinan Rasulullah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Mengapa legitimasi begitu mutlak? Dan apakah setiap pemimpin (ketua ini-itu, kepala ini-itu, presiden ini-itu, dll) harus menggenggam legitimasi? Sebab dia mendatangkan kestabilan dalam proses kepemimpinan. Kestabilan yang lahir dari pengakuan dan dukungan masyarakat itu membuahkan kemungkinan untuk perubahan sosial ke arah yang semakin positif. Semakin hari semakin menguntungkan masyarakat itu sendiri. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pemilu Untuk IAICG</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Euforia demokrasi di atas hendaknya menjelma menjadi inspirasi. Sebagai tabiat manusia intelek yang selalu menarik hikmah di setiap situasi. Seperti selalu, berusaha mendalami sesuatu yang baru. Termasuk momentum demokrasi itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Tanpa terasa kita tak kuasa menahan masa. Serasa kemarin almamater tercinta yang telah menempa fondasi nilai, kita tinggalkan. Kita tinggalkan demi petualangan di universitas kehidupan. Seolah tidak capek, dia akan melahirkan satu dasawarsa generasi emas. Sepuluh tahun persaudaraan karena almamater.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Ibarat umur sebocah muslim, maka tiba saat komunitas kita di<em>khitan</em>. Momentum penanda dia memasuki gerbang kedewasaan dan kemandirian. Ketika waktu dimana dia mulai dihitung dosa dan pahalanya di mata manusia dan pencipta. Keberadaan dan sumbangsihnya pada lingkungan mulai dinanti dan dinilai. Ya, dinilai, apakah sebatas nama besarnya saja, atau sebatas remeh temeh fasilitas dan sistem pendidikan tiga tahun saja, atau kah pada karya dan pengabdian kolektif sebagai pelunasan investasi yang panjang dari suatu sistem pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Maka di usia sepuluh tahun, komunitas ini harus dapat mengartikulasikan jati dirinya, visi, misi, manfaat serta kepentingannya kepada kelompok manusia lain. Ujungnya jelas, yaitu untuk mewarnai corak peri kehidupan di lingkup lingkungan yang lebih besar daripada yang bisa diwarnai oleh pesona individu kita masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Kita disatukan oleh banyak faktor sebagai hasil derivatif dari pergumulan tiga tahun di almamater. Kemiripan nilai dasar yang kita anut tentang sifat, sikap, kepercayaan, kecenderungan, cita-cita, semangat, dan lain-lain akhirnya telah menyepakatkan kita untuk mengorganisasikan diri melalui ikatan alumni (IAICG). Tinggallah kita sebagai kelompok yang terorganisasi harus mengatur sistem interen yang jelas. Kita juga layak memiliki pola kepemimpinan yang moderen dan demokratis, sumber keuangan untuk membiayai kegiatan, dan pola komunikasi dan koordinasi baik ke dalam atau ke luar organisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span> </span></em>Jika menengok sejarah, memang wadah silaturahmi menjadi alasan semuanya ber-IAICG. Saat itu umur belumlah akil balig. Adalah wajar senantiasa merindukan masa bersama dan bermain dalam ajang silaturahmi. Dan waktu terus berlari. Komunitas terasa hambar. Sebagian mulai sadar bahwa potensi kita terlalu hebat untuk sekedar kumpul-kumpul laksana arisan. Sekarang yang dibutuhkan adalah puncak Himalaya tujuan bersama sebagai pembakar energi dorong semangat penaklukan. Penaklukan akan hal-hal yang besar, sulit, tinggi, tak mungkin, berliku, dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Katakanlah itu yang disebut konsorsium. Konsorsium usaha ekonomi yang paling masuk akal. Contohkan seperti Bukaka Group, Bakrie Group, dll. Dapatkah dibayangkan cara mewujudkannya jika kita bukanlah penganut budaya korporatisme? Adalah komunikasi, kompromi, negosiasi, administrasi, prosedurasi, <em>team work</em>, musyawarah, mufakat dan masih banyak lagi nilai yang harusnya mulai kita selami. Dan IAICG adalah wadah yang paling terjangkau. Di dalamnya semua dapat berlatih mengorganisasikan diri sebagai sebuah kelompok. Pesertanya akan memulai investasi baru. Mereka mulai menanam waktu pada hal-hal yang mungkin belum terukur nilainya saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Ringkas cerita, IAICG memang banyak yang tidak membutuhkannya. Namun kacamata rasional nan optimis melihat sebaliknya. Semua dapat menggunakan sarana belajar yang satu ini untuk pertumbuhan individu dan harapan masa depan yang lebih baik. Tinggal menanti saat banyak alumnus yang mengubah sudut pandangnya. Dari yang tadinya sempit dan picik menjadi lebih berwawasan dan positif. Maka di saat itu komunitas alumni akan berubah. Dari rapuh menjadi kokoh. Tercerai berai menjadi bersatu. Kaku menjadi toleran. Curiga menjadi percaya. Egois menjadi kompromi. Tak acuh menjadi cinta kasih. Perhatian, kepedulian, kata pujian dan terima kasih bertaburan di setiap jumpa. Sungguh indah bukan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span><span> </span>Singkat kata, segalanya mengarah pada tentang apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk Ikatan Alumni Insan Cendekia Gorontalo. Panjang lebar di atas hanyalah penghantar untuk semuanya dapat berpikir Besar. Dan almamater menuntut untuk dilakukan banyak hal kecil. Seperti pemilihan umum. Sekali lagi tanpa pemilihan umum, tidak akan pernah kita dapatkan legitimasi yang terukur dan hitam di atas putih dari saudara alumni lainnya. Pemilu adalah kunci pintu keluar dari lorong buntu selama ini. Solusi pantas atas kronis akut yang diderita IAICG sekian waktu. Dengan niat dan upaya maksimal untuk melaksanakannya, InsyaAllah banyak pihak akan menarik hikmah dari momentum ini. Momentum demokrasi. Momentum bagi kita juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Terima kasih,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>Kami yang belum final.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">NB: <span><a href="http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html">HABIBIE, CENDEKIA, &amp; ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO</a><a href="http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html" target="_blank">.</a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 288pt; text-align: justify;"><em><span> </span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Pemilu Bagi Pengusaha</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/04/makna-pemilu-bagi-pengusaha.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/04/makna-pemilu-bagi-pengusaha.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 09:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=962</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ada sedikit ulasan,  setelah berbincang-bincang dengan Bapak Sandiaga S. Uno salah satu pengusaha muda sukses yang ada di Indonesia. ulasan ini juga terdapat pada notes-nya beliau.   
Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memiliki hajatan besar berupa pemilihan umum (pemilu). Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, hajatan ini benar-benar besar bukan hanya karena kelas hajatannya, tetapi juga karena jumlah pemilihnya yang sangat besar.
Jika kita menelusuri beberapa kali pemilu, terutama setelah berakhirnya Orde Baru, kematangan demokrasi di Indonesia masih jauh dari harapan. Beberapa kekisruhan antar warga terkait dengan pilihan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Berikut ada sedikit ulasan,  setelah berbincang-bincang dengan Bapak <a title="Sandiaga Salahuddin Uno" href="http://www.facebook.com/pages/Sandiaga-Salahuddin-Uno/92828041744" target="_blank">Sandiaga S. Uno</a> salah satu pengusaha muda sukses yang ada di Indonesia. ulasan ini juga terdapat pada notes-nya beliau. </em> <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memiliki hajatan besar berupa pemilihan umum (pemilu). Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, hajatan ini benar-benar besar bukan hanya karena kelas hajatannya, tetapi juga karena jumlah pemilihnya yang sangat besar.</p>
<p>Jika kita menelusuri beberapa kali pemilu, terutama setelah berakhirnya Orde Baru, kematangan demokrasi di Indonesia masih jauh dari harapan. Beberapa kekisruhan antar warga terkait dengan pilihan politik yang berbeda masih mewarnai kampanye politik di negeri ini. Imbasnya adalah tercipta situasi yang kurang kondusif bagi aktivitas dunia usaha. Dapat dibayangkan bagaimana repotnya pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usaha dalam situasi sosial politik yang memanas.</p>
<p><span id="more-962"></span>Dalam situasi yang tenang saja sering muncul hambatan dalam menjalankan usaha. Contoh sederhananya adalah bagaimana pedagang pasar membatalkan niatnya untuk berdagang di pasar karena jalan yang akan dilaluinya masih dipenuhi dengan massa yang berjaga-jaga akibat keributan yang terjadi sebelumnya. Dalam konteks yang lebih besar, terganggunya aktivitas para pedagang pasar di beberapa tempat akan mengakibatkan ribuan pelaku usaha menghentikan aktivitas usahanya, artinya banyak rumah tangga akan terganggu dengan situasi yang tidak kondusif tersebut.</p>
<p>Agak sulit menghitung berapa kerugian negara akibat mandeknya aktivitas usaha mereka, tetapi sudah pasti cukup signifikan. Bagi pelaku usaha menengah ke atas, terdapat kecenderungan untuk bersikap wait and see dan menunda pengembangan usaha atau investasi dalam rentang kampanye pemilu. Meneruskan rencana untuk mengembangkan usaha atau investasi dalam situasi yang tidak menentu sama saja dengan salah perhitungan atau bunuh diri. Pengalaman menunjukkan bahwa di Indonesia, perubahan pemimpin berimbas pada perubahan kebijakan. Bagi dunia usaha, perubahan kebijakan berarti perubahan strategi bisnis, penyesuaian baru, dan bahkan sampai perubahan penyelenggaraan organisasi usaha. Beruntung bahwa sebagian besar pelaku usaha dilndonesia adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah yang memiliki organisasi yang fleksibel.</p>
<p>Krisis moneter 1998 yang berlangsung berbulan-bulan saja dapat diatasi oleh para pelaku usaha ini, padahal krisis moneter menyerang langsung sisi perekonomian. Terbukti bahwa para pelaku usaha di Indonesia masih tetap eksis sampai saat ini. Dibandingkan dengan krisis moneter, situasi yang timbul sebagai dampak negatif dari penyelenggaraan pemilu sesungguhnya tidak terlalu memengaruhi kegiatan usaha. Hanya saja seperti tertulis di atas, cukup menyebalkan.</p>
<p>Setelah pemilu berlangsung, para pelaku usaha tetap melakukan usahanya. Siapapun yang terpilih tidak membuat mereka tiba-tiba menjadi besar usahanya. Mungkin ada beberapa yang bertambah besar, tetapi sebagian besar akan tetap berada dalam jalur kurva yang telah dilewati sebelumnya.</p>
<p><strong>Ada Juga yang Diuntungkan<br />
</strong><br />
Meski mendatangkan risiko, pemilu juga mendatangkan peluang bisnis bagi beberapa kelompok usaha. Yang paling kelihatan adalah pengusaha di produksi media kampanye dan perlengkapannya (banner, kaus, spanduk, brosur, jasa boga, dll) serta biro konsultasi politik serta lembaga survei.</p>
<p>Misalnya sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) mengalami lonjakan signifikan pada pemilu kali ini. Asosiasi Pertekstilan Indonesia memperkirakan jumlah order untuk produk TPT pada tahun ini bisa menembus angka Rp5 triliun. Rumah produksi dan televisi juga mendapatkan berkah. Durasi tayang kampanye yang dilakukan parpol untuk pemilu legislatif maupun perkenalan calon presidensudahmelampaui durasi iklan produk komersial. Belanja iklan selama masa kampanye Pemilu 2004 memberikan kontribusi sekitar 18% dari total belanja iklan. Pasangan SBY-JK misalnya pada masa kampanyenya menghabiskan Rp50 miliar untuk iklan di televisi. Belanja iklan selama masa kampanye 2004 sendiri, seperti diungkapkan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) RTS Masli, mencapai Rp3-4 triliun. Survei Nielsen Media Research seperti dikutip pada buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan, selama masa kampanye Pemilu 2004, PDIP dan Partai Golkar paling banyak beriklan. PDIP mengeluarkan dana Rp39,25 miliar untuk satu bulan kampanye, sedangkan Partai Golkar membelanjakan Rp21,75 miliar yang tidak termasuk iklan media luar ruang.</p>
<p>Tahun ini, sudah pasti angkanya akan naik. Partai Golkar sendiri memperkirakan akan membelanjakan Rp200 miliar untuk belanja kampanye 2009. Berdasarkan pengumuman KPU, jumlah caleg sementara yang akan bertarung pada Pemilu 2009 mencapai 11.868 orang, meningkat dari 2004 yang &#8220;hanya&#8221; 6.044 orang. Mereka berasal dari 77 daerah pemilihan di 33 provinsi. Mereka akan memperebutkan 560 kursi DPR. Berdasarkan data ini setidaknya belanja iklan akan mencapai 10 triliun. Menyadari besarnya biaya kampanye dan imbasnya kepada sektor riil, Presiden SBY sampai mengeluarkan imbauan agar parpol menggenjot belanja kampanye dalam Pembukaan Sidang Dewan Pleno I HIPMI baru baru ini.</p>
<p><strong>Peran lain<br />
</strong><br />
Sebagian kalangan pengusaha memandang pemilu sebagai momentum untuk perubahan dan keterlibatan pengusaha adalah keniscayaan. Dari sini dapat dipahami mengapa makin banyak pengusaha masuk ke dunia politik. Keterlibatan pengusaha dalam bidang politik memiliki alasan yang beragam. Sebagian menyatakan bahwa selama ini aspirasi mereka sebagai pengusaha kurang diperhatikan oleh para wakil rakyat. Para pengusaha yang mencalonkan diri pada kategori ini akan lebih banyak membawa aspirasi dari sektor usahanya. Sebagian lagi mengaku tergerak untuk menyumbangkan perannya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara agar mencapai taraf kemakmuran yang lebih baik.</p>
<p>Para pengusaha dalam kelompok ini memandang bahwa ada kekurangan yang mengakibatkan bangsa Indonesia lamban akselerasinya dalam mencapai kemakmuran. Ada yang berpandangan bahwa para politik 11 selama ini hanya beretorika dan menelurkan kebijakan yang tidak. Sementara sebagian lain merupakan pengusaha yang sedang menurun usahanya sehingga merambah dunia politik dengan menjadi caleg yang dipandang sebagai sebuah alternative bagi kehidupannya. Apa pun latar belakang atau motif pengusaha masuk ke dunia politik, warna kewirausahaan sangat diperlukan oleh bangsa ini, terutama di parlemen, agar dunia usaha memiliki &#8220;pengaman&#8221; bagi terjadinya kemungkinan keluarnya kebijakan yang kontraproduktif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.</p>
<p>Bangsa Indonesia telah melangkah sedikit demi sedikit untuk membangun perekonomian. Perlu beberapa langkah lagi untuk menjadi bangsa yang memiliki kemandirian ekonomi. Hal itu hanya bisa dicapai dengan kerja sama berbagai elemen bangsa baik eksekutif, legislatif, dunia usaha maupun masyarakat pada umumnya. Semoga kedewasaan bangsa Indonesia sudah lebih baik sehingga pemilu kali ini tidak menimbulkan guncangan sosial politik yang berarti sehingga tidak mengganggu aktivitas usaha. Diperlukan peran besar dari kader parpol untuk membangun kedewasaan berpolitik bagi dirinya sendiri, bagi parpolnya, dan bagi para pendukungnya. Semoga para pengusaha yang mencalonkan diri mampu membawa nilai tambah bagi perkembangan perekonomian Indonesia jika terpilih nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/04/makna-pemilu-bagi-pengusaha.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IAICG dan Alumni</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/02/iaicg-dan-alumni.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/02/iaicg-dan-alumni.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 03:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Cendekia]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menerima sebuah pertanyaan dari salah satu alumni yang tidak perlu disebutkan namanya disini. Dua hal pokok yang ditanyakan yaitu sebenarnya apa sih fungsi IAICG ?? kemudian apakah saya tidak merasa bahwa alumni insan cendekia gorontalo sekarang ini sudah banyak yang keluar jalur ??
Entah apa yang ada dibenak si alumni tadi sehingga harus mengajukan pertanyaan tersebut kepada saya. Mengingat saya bukanlah penggagas, pendiri, ataupun pengurus di IAICG. Mungkin kalau ada yang menganggap saya adalah bagian dari struktur organisasi IAICG karena sudah lancang membuat blog ini, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menerima sebuah pertanyaan dari salah satu alumni yang tidak perlu disebutkan namanya disini. Dua hal pokok yang ditanyakan yaitu sebenarnya apa sih fungsi IAICG ?? kemudian apakah saya tidak merasa bahwa alumni insan cendekia gorontalo sekarang ini sudah banyak yang keluar jalur ??</p>
<p style="text-align: justify;">Entah apa yang ada dibenak si alumni tadi sehingga harus mengajukan pertanyaan tersebut kepada saya. Mengingat saya bukanlah penggagas, pendiri, ataupun pengurus di IAICG. Mungkin kalau ada yang menganggap saya adalah bagian dari struktur organisasi IAICG karena sudah lancang membuat blog ini, silahkan anda baca dan cermati lagi halaman <a href="http://cendekia.web.id/tentang-kami" target="_blank">Tentang Kami</a> blog ini yang sudah ada sejak pertama kali blog ini dibuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi sudahlah, karena saya juga termasuk dalam alumni Insan Cendekia Gorontalo yang mau tidak mau harus menjadi anggota IAICG, maka saya akan coba sedikit menjawab pertanyaan tersebut sekalian sharing  opini saya tentang IAICG dan alumni &#8211; alumni Insan Cendekia Gorontalo yang menurut dia sudah banyak keluar jalur (mungkin saya juga termasuk didalamnya).<span id="more-850"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih fungsi IAICG ??</p>
<p style="text-align: justify;">Mari sejenak kita menengok kebelakang tentang sejarah dan latar belakang berdirinya IAICG, <a href="http://alumni-ic.awardspace.com/index1.php?page=fe66f4b51d" target="_blank">yang bisa anda baca di websitenya</a>. Disana sudah jelas bahwa IAICG berdiri karena para alumni membutuhkan sebuah wadah untuk bersilaturahmi. Perkara wadah yang dibangun tersebut bisa berfungsi dengan baik atau tidak, itu bukan urusan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang jelas tanpa melalui sebuah wadah yang bernama organisasi yang disana ada latar belakang, struktur organisasi, dan visi &#8211; misi yang saya yakini <strong>100% anda malas untuk membacanya</strong>, menurut saya silaturahmi sesama Alumni Insan Cendekia Gorontalo masih tetap bisa berjalan. Buktinya saya sebagai salah satu alumni setiap harinya bisa bersilaturahmi dengan alumni &#8211; alumni lainnya tanpa sepengetahuan pengurus IAICG hehehe <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, apa dong fungsi IAICG ?? Saya juga tidak tau <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang kedua</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah saya merasa alumni &#8211; alumni sekarang ini sudah banyak yang keluar jalur ??</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk pertanyaan yang kedua ini saya tidak bisa berkomentar banyak, karena mungkin saja saya termasuk alumni yang sudah keluar jalur seperti yang dimaksud. Yang bisa saya katakan hanyalah Insan Cendekia Gorontalo hanyalah sebuah<strong> institusi pendidikan biasa</strong>, sama halnya dengan SMA ataupun MAN lainnya. Insan Cendekia bukanlah lembaga pendidikan yang <strong>mengharuskan</strong> alumninya berjilbab misalnya, karena setelah menjadi seorang alumni semua yang mereka lakukan adalah tanggung jawab mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Insan Cendekia hanya mengajarkan seorang muslimah wajib berjilbab, yang namanya orang islam wajib sholat 5 waktu bukan hanya seminggu sekali saat jum&#8217;atan, dan lain sebagainya. Perkara alumninya menjadi seorang muslim atau muslimah yang taat, itu bukan urusan mereka. Percayalah, sekolah itu gak akan peduli dengan anda. Mereka terlalu sibuk membangun reputasi yang semakin hari semakin melambung ketimbang ngurusin alumni &#8211; alumninya yang sudah keluar jalur seperti yang dimaksud.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah.. sudahlah&#8230; Lupakan IAICG !! karena IAICG bahkan belum bisa mengurus dirinya sendiri sebagai sebuah organisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hanya itu sedikit opini saya tentang dua pertanyaan yang diutarakan tadi. Silahkan jika ada yang punya opini lain,  seperti biasa kolom komentar masih terbuka lebar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/02/iaicg-dan-alumni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Dokter Sudah Tidak Dibutuhkan Lagi</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/02/ketika-dokter-sudah-tidak-dibutuhkan-lagi.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/02/ketika-dokter-sudah-tidak-dibutuhkan-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 10:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yahya Dunggio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/2009/02/09/ketika-dokter-sudah-tidak-dibutuhkan-lagi.html</guid>
		<description><![CDATA[Ketika dunia kedokteran semakin maju dengan berbagai terobosan ilmiahnya, tiba-tiba entah bagaimana mulanya dari Jombang, Jawa Timur, berhembus berita tentang keberadaan anak kecil yang punya kehebatan untuk menyembuhkan penyakit orang. Dan, dengan semakin ramainya dibicarakan akhirnya sang anak “ajaib” tersebut dijuluki sebagai dukun cilik. Percaya atau tidak, keberadaan kehebatan dukun cilik tersebut sepertinya mendapat banyak pengakuan dari masyarakat sekitarnya. Ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang ngantri untuk mendapatkan pengobatan dari sang dukun.
Bagi saya sebagai orang keturunan gorontalo kepercayaan tentang kehebatan seorang dukun itu juga ada. Kembali ke percaya atau tidak, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika dunia kedokteran semakin maju dengan berbagai terobosan ilmiahnya, tiba-tiba entah bagaimana mulanya dari Jombang, Jawa Timur, berhembus berita tentang keberadaan anak kecil yang punya kehebatan untuk menyembuhkan penyakit orang. Dan, dengan semakin ramainya dibicarakan akhirnya sang anak “ajaib” tersebut dijuluki sebagai dukun cilik. Percaya atau tidak, keberadaan kehebatan dukun cilik tersebut sepertinya mendapat banyak pengakuan dari masyarakat sekitarnya. Ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang ngantri untuk mendapatkan pengobatan dari sang dukun.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya sebagai orang keturunan gorontalo kepercayaan tentang kehebatan seorang dukun itu juga ada. Kembali ke percaya atau tidak, di gorontalo memang ada yang namanya dukun-dukun yang punya kemampuan mengobati penyakit. Dan sebagian dari mereka memang mempunyai kemampuan tersebut. Meskipun kita tidak pernah tahu darimana dan bagaimana mereka mendapatkan keahlian mereka tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari berita-berita yang dimuat di media didapati bahwa keberadaan dukun cilik ini telah membawa masyarakat kepada era dimana pengobatan secara medis seperti bukan lagi hal yang menjanjikan. Mereka lebih percaya dengan keampuhan batu ajaib sang dukun yang katanya cukup direndam dalam gelas yang berisi air untuk kemudian diminumkan ke pasien. Berhasil tidaknya pengobatan tersebut mungkin hanya mereka yang datang berobat ketempat tersebutlah yang tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa hal yang menarik dari keberadaan sang dukun ini, tidak hanya cara pengobatanya yang sederhana, tapi juga ketidakmauannya untuk mendapatkan untung secara besar-besaran dari kelebihannya tersebut. Dari berita yang beredar disebutkan bahwa sang dukun cilik tidak mau menerima uang pemberian pasiennya. Dan, kalaupun ada yang ngasih, jumlahnya tidak pernah lebih dari Rp 15 ribu. Hal yang sangat diluar kebiasaan, jika kita bandingkan dengan tarif yang dipasang oleh dokter-dokter umum ataupun dokter spesialis. Sungguh seperti bumi dan langit perbedaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini seperti sebuah cibiran bagi dunia kedokteran. Seolah-olah untuk menyembuhkan sebuah penyakit kita nggak perlu harus sekolah tinggi-tinggi, nggak perlu ngeluarin duit banyak, ngggak perlu stres-stresan di bangku kuliah. Ironis sekali bukan, tapi itulah kenyataannya. Jadi, masihkah kita perlu beli obat-obatan mahal hanya untuk nyembuhin sebuah penyakit. Atau masihkah perlu buat kita jauh-jauh ke Singapura hanya demi untuk mendapatkan pengobatan disana? Hanya mereka para pasien dukun ciliklah mungkin yang tahu jawabannya. At least, selamat buat sang dukun cilik, karena udah bisa membuat para pasiennya percaya kepadanya melebihi kepercayaan mereka terhadap kemampauan seorang dokter ahli manapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/02/ketika-dokter-sudah-tidak-dibutuhkan-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan keadilan tuhan</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/01/827.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/01/827.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 03:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yahya Dunggio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/2009/01/10/827.html</guid>
		<description><![CDATA[Hal yang aneh memang kalau kita mempertanyakan keadilan Tuhan ke kita. Tapi  nggak bisa kita pungkiri kalo kata-kata ini kadang terbersit di pemikirannya kita. Dan saya termasuk diantaranya. Pada saat kita merasa down didera oleh berbagai macam permasalahan atau pada saat kita menyadari bahwa ternyata hidup kita tidak sesempurna orang lain maka yang muncul adalah pertanyaan ini “ Sudahkah Tuhan benar-benar adil ke kita, ataukah Tuhan sedang mempermainkan kita”.
Berangkat dari hal tersebut mungkin ada baiknya kalo kita melihat kembali pengertian dari kata adil tersebut. Dari beberapa tulisan yang saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hal yang aneh memang kalau kita mempertanyakan keadilan Tuhan ke kita. Tapi  nggak bisa kita pungkiri kalo kata-kata ini kadang terbersit di pemikirannya kita. Dan saya termasuk diantaranya. Pada saat kita merasa down didera oleh berbagai macam permasalahan atau pada saat kita menyadari bahwa ternyata hidup kita tidak sesempurna orang lain maka yang muncul adalah pertanyaan ini “ Sudahkah Tuhan benar-benar adil ke kita, ataukah Tuhan sedang mempermainkan kita”.</p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat dari hal tersebut mungkin ada baiknya kalo kita melihat kembali pengertian dari kata adil tersebut. Dari beberapa tulisan yang saya dapat diartikan bahwa adil itu adalah meletakkkan sesuatu pada tempatnya atau menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang. Pengertian ini mungkin udah cukup mewakili pengertian adil buat kita. Tapi dari pandangan saya pribadi pengertian ini lebih cenderung ditujukan ke kita sebagai manusia tidak ke Tuhan kita. Pertanyaan yang timbul mungkin adalah kenapa bisa kita mempertanyakan keadilan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Buat orang muslim yang taat mereka mungkin akan mengatakan bahwa Tuhan sudahlah adil ke kita umatnya. Tapi apakah sudah seperti itu, coba kita lihat kembali kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi disekitar kita. Bukankah begitu banyak orang yang mengeluh karena mereka merasa tidak seperti orang lain. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang dilahirkan dengan fisik yang tidak sempurna atau dengan kata lain dalam kondisi yang cacat, yang terjadi kemudian pada saat dewasa dia akan merasa terpinggirkan. Ada sebagian orang mengatakan “Oh, itu biasa. Toh bisa jadi dibalik kecacatannya itu dia punya sesuatu yang lain yang bisa dia andalkan”. Pernyataan ini mungkin bisa di bilang benar, tapi tidak 100% persen benar. Karena ada juga yang yang cacat, tapi nggak punya kelebihan lain yang bisa dia andalakan. Atau, kalaupun dia punya kelebihan lain, apakah itu bakal menutupi kekecewaannya tentang kecacatannya? I will say “I don&#8217;t think so”. Itu baru salah dari sekian banyak perisriwa or hal2 yang aneh di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal lain lagi yang bisa saya utarakan adalah apakah tidak mungkin kalo Tuhan sebenarnya mengirim kita ke dunia ini hanya untuk dijadikan sebagai pemuas nafsunya belaka. Dia menciptakan kita dalam berbagai bentuk, kita diberi pikiran dan akal sehat tapi dilain pihak kita juga di beri nafsu. Dua hal yang bertentangan dan diberikan dalam wakru yang bersamaaan, dalam Al-Qur&#8217;an mungkin udah dijelaskan ketika terjadi dialog antara Dia dengan malaikat. Malaikat sempat mempertanyakan kenapa Tuhan mengutus kita kebumi ini, yang sudah jelas-jelas adalah makhluk yang pembangkang. Tapi oleh Tuhan dijawab bahwa Dia lebih tahu akan hal itu. Dan, seperti yang kita lihat sekarang, ternyata peryataan sang malaikat lebih bisa kita terima, karena pada kenyataannya kita memang tercipta hanya untuk merusak. Adakah diantara kita yang benar-benar pingin menjaga dunia ini? Kalaupun ada, itu hanya segelintir. Sisanya adalah perusak lingkungan. Jadi kesimpulannnya adalah Tuhan menciptakan bumi dan isinya, untuk suatu saat dihancurkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini bisa kita lihat bahwa sebenarnya kita diciptakan hanya untuk dipermainkan. Kita disuruh untuk berbuat kebajikan tapi dilain pihak Tuhan juga mencipatakan nafsu didalam diri kita untuk menghancurkan kebajikan tersebut. So, apakah salah jika kita berbuat jahat? Bukankah itu bagian dari fitrah kita. Sekarang setelah kita berbuat jahat, akhirnya dikemudian hari kita malah dihukum akan hal tersebut. Dengan alasan bahwa kita telah berbuat jahat. Hal yang menggelikan bukan. Pada akhirnya yang ada adalah kita diadakan hanya untuk dipermainkan. Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pandangan saya ini tapi itulah yang ada dalam pikiran saya. Dan semoga Tuhan tidak menghukum saya untuk hal ini. Karena, kita adalah makhluk yang demokratis. Dan kalau demokrasi itu tidak berlaku buat Tuhan berarti kembali saya katakan bahwa itu tidaklah adil.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin itu dulu yang bisa saya tulis untuk sekarang ini, dan bagi yang tidak setuju tentang pandangan saya ini, maka dipersilahkan untuk berpendapat. Finally I just wanna say “live for  freedom”<br />
Ψ*** Ψ</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/01/827.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

