<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cendekia.web.id &#187; Inspirasi dan Motivasi</title>
	<atom:link href="http://www.cendekia.web.id/category/inspirasi-dan-motivasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.cendekia.web.id</link>
	<description>Berbagi cerita berbagi berita dan berkarlota</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 16:15:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Refleksi Menjelang Lebaran &#8211; Maafkan Saya Lahir dan Batin</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/09/refleksi-menjelang-lebaran-maafkan-saya-lahir-dan-batin.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/09/refleksi-menjelang-lebaran-maafkan-saya-lahir-dan-batin.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 02:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1134</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saya melihat di timeline twitter cukup  banyak teman-teman yang mengeluh karena berbagai hal: Ada yang karena  sedang ujian, ada yang putus asa dengan cobaan hidup, ada yang sudah  patah arang dengan kondisi pekerjaan dan semuanya seperti tanpa semangat  dan berlalu begitu saja seperti dalam novel Gone With the Wind.  Sebentar lagi adalah momentum Iedul Fitri dimana sudah menjadi tanggung  jawab moral dan spiritual bagi kita untuk meningkatkan kualitas pribadi  dan jati diri sebagai manusia.
Saat ini, dimana kecerdasan intelektual (IQ) bukan lagi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini saya melihat di <em>timeline</em> twitter cukup  banyak teman-teman yang mengeluh karena berbagai hal: Ada yang karena  sedang ujian, ada yang putus asa dengan cobaan hidup, ada yang sudah  patah arang dengan kondisi pekerjaan dan semuanya seperti tanpa semangat  dan berlalu begitu saja seperti dalam novel Gone With the Wind.  Sebentar lagi adalah momentum Iedul Fitri dimana sudah menjadi tanggung  jawab moral dan spiritual bagi kita untuk meningkatkan kualitas pribadi  dan jati diri sebagai manusia.</p>
<p>Saat ini, dimana kecerdasan intelektual (IQ) bukan lagi sebagai tolok  ukur untuk menghitung pemberdayaan seseorang dimana teori “klasik” yang  hanya menentukan standard “sukses” berdasarkan angka. Setiap manusia  adalah terlahir dengan takdir memiliki kecerdasan penuh yang sesuai  dengan apa yang diimpikan dan dicita-citakan sedari kecil, tentunya  dalam perjalananya dibutuhkan kematangan sifat dan perilaku (EQ) dan  spiritual (SQ) sebagai kontrol atau compliance untuk menuju kesuksesan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Akan tetapi, EQ dan SQ saja tidak cukup sebagai compliance manusia  dalam menjalani proses menuju cita-cita “sukses”, perlu adanya pemahaman  dan sikap mental untuk survive (Adversity Quotient/AQ) dikarenakan  kondisi kehidupan menjelang kiamat ini yang penuh dengan persaingan.  Dalam konsep AQ manusia dikategorikan dalam 3 golongan besar, dan saya  berharap kita semua yang membaca tulisan ini termasuk dalam kategori  ketiga.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>QUITTERS</strong></p>
<p>Individu yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan  berhenti bila menghadapi suatu kesulitan. Ditempat aktivitas kerja,  tipe ini bekerja sekedar cukup untuk hidup, sedikit ambisi, semangat  yang minim, tidak kreatif dan mutu dibawah standar, mereka mengambil  resiko seminim mungkin.</p>
<p><strong>CAMPERS</strong></p>
<p>Individu pernah mencoba menyelesaikan / menanggapi suatu tantangan  namun bila di tengah jalan mengahadapi kesulitan, ia akan berhenti.  Ditempat aktivitas kerja, tipe ini tidak menggunakan seluruh  kemampuannya. Tipe ini bisa melakukan pekerjaan yang menuntut  kreativitas dan mengambil resiko dengan penuh perhitungan.</p>
<p><strong>CLIMBERS</strong></p>
<p>Sebutan untuk orang yang seumur hidup selalu menghadapi suatu  kesulitan sebagai sebuah tantangan dan terus berusaha untuk  menyelesaikan hambatan tersebut hingga mencapai suatu keberhasilan. Di  tempat aktivitas kerja tipe ini menyambut baik tantangan – tantangan dan  memahami bila ada hal-hal yang sifatnya mendesak dan harus segera  diselesaikan. Mereka bisa memotivasi diri sendiri, memiliki semangat  tinggi dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik.</p>
<p>Sembari merenung dan memikirkan termasuk dalam kategori mana, saya  mengucapkan selamat jalan kepada rekan-rekan Datacomm yang menjalani  “ritual” mudik dilebaran tahun ini, hati-hati selama perjalanan karena  seluruh keluarga dan sanak handai taulan akan menyambut kedatangan Anda  dengan segunung ketupat dan sejuta harapan angpao lebaran. <strong>Minal Aidin wal Faidzin, maafkan lahir dan batin. Selamat hari raya Iedul Fitri 1431H. </strong>Sampai bertemu lagi pada hari kerja berikutnya.</p>
<p>Salam Hangat,</p>
<p>Marion Renaldo Rotinsulu<br />
<strong>Network Security Engineer<br />
Managed Services Department</strong></p>
<p><strong>PT. Datacomm Diangraha</strong><br />
Jl. Kapten Pierre Tendean No. 18A<br />
Jakarta 12790 &#8211; Indonesia﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/09/refleksi-menjelang-lebaran-maafkan-saya-lahir-dan-batin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IAIC dan Try Out Ujian Nasional!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/iaic-dan-try-out-ujian-nasional.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/03/iaic-dan-try-out-ujian-nasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 13:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[spmb]]></category>
		<category><![CDATA[try out]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[un]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1110</guid>
		<description><![CDATA[Sebentar lagi, adik-adik kita akan memasuki masa ujian nasional (UN). Berbagai persiapan seharusnya telah dilakukan oleh seluruh siswa yang akan mengikuti UN baik tingkat SD, SMP, dan SMU. Artikel saya ini tidak akan mengomentari tentang pro dan kontra akan UN, karena saya tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk hal itu. Saya hanya mencoba menuangkan ide yang ada di kepala saya tentang UN melalui tulisan ini.
Apakah itu?
Try Out UN online! Sekarang lagi maraknya orang mengadakan try out online. Namun saya melihat latar belakang pengadaan try out online dimuati oleh sebuah kepentingan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebentar lagi, adik-adik kita akan memasuki masa ujian nasional (UN). Berbagai persiapan seharusnya telah dilakukan oleh seluruh siswa yang akan mengikuti UN baik tingkat SD, SMP, dan SMU. Artikel saya ini tidak akan mengomentari tentang pro dan kontra akan UN, karena saya tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk hal itu. Saya hanya mencoba menuangkan ide yang ada di kepala saya tentang UN melalui tulisan ini.</p>
<p>Apakah itu?</p>
<p><strong>Try Out UN online!</strong> Sekarang lagi maraknya orang mengadakan <em>try out online</em>. Namun saya melihat latar belakang pengadaan <em>try out online</em> dimuati oleh sebuah kepentingan politis dan keuntungan tanpa memandang lebih jauh akan kepentingan pendidikan yang sebenar-benarnya. Misalnya, yang diadakan oleh salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi, saya melihat perusahaan tersebut lebih menitikberatkan kepada kepentingan keuntungan dari sebuah project, bukan kepentingan pendidikan seutuhnya. Ada juga partai politik yang mengadakan <em>try out UN</em> untuk menjaring pemilih-pemilih muda.</p>
<p>Pikiran saya tergerak akan suatu hal, mengapa ikatan alumni kita tidak melakukan sebuah tindakan sosial? Tindakan apakah itu?? <strong><em>Try out</em> ujian nasional yang memang mementingkan kepentingan pendidikan</strong>! Saya pikir alumni kita banyak yang mumpuni dibidang ini. Saya yakin guru-guru kita di Insan Cendekia baik Serpong dan Gorontalo pasti akan mendukung langkah kita ini. Selain itu, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya. Saya hanya berkeinginan kita bisa membantu pemerintah untuk pemerataan mutu pendidikan melalui try out. Saya juga berkeyakinan dengan semakin banyak latihan soal-soal ujian nasional, kita akan semakin mampu menghadapi ujian nasional. Sehingga tidak perlu lagi kecurangan-kecurangan terjadi yang sedang marak-maraknya sekarang ini.</p>
<p>Mengenai teknik membuat software online untuk ujian nasional, saya yakin insan cendekia memiliki banyak tenaga yang mampu melaksanakan pekerjaan pembuatan software online untuk try out ini. Banyak alumni insan cendekia yang sekolah di bidang teknologi informasi. Saya yakin, jika niat kita positif dan langkah kita positif yang akan dilakukan, pasti banyak yang mau menyumbangkan tenaga serta pikirannya. Lebih-lebih lagi ada yang mau menyumbangkan sedikit materiil.</p>
<p>Bagaimana dengan soal-soal yang ada dalam try outnya? Disinilah kita memerlukan komunikasi yang baik dengan guru-guru kita yang masih berada di insan cendekia. Misalnya saya membangun komunikasi yang baik dengan Bapak <strong>Ahmad Hidayatullah</strong> mengenai ide ini. Saya yakin beliau pasti mendukung dan mau memberikan bantuan berupa contoh soal ujian nasional dari waktu ke waktu beserta kunci jawaban dan pembahasannya. <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ide ini sebenarnya telah menjadi wacana sejak 5 tahun yang lalu, dengan penggagas idenya saudara Fonson Rumampuk. Namun, belum ada langkah kongkrit dari kita. Saya juga telah ditawari oleh Bapak Sriyanto Tangahu, ST, M.Psi. untuk mengajak beberapa alumni mengembangkan try out semacam ini. Menurut beliau, try out semacam ini sangat penting dan amat sangat dibutuhkan!</p>
<p>Saya meyakini sudah saatnya kita menunjukkan kita alumni yang insan cendekia, yaitu kita tidak mementingkan kepentingan pribadi kita, namun kita juga berpikir kepentingan bangsa dan negara secara umum.</p>
<p>Sekarang, saya ingin menanyakan Apakah kita siap??  langkah awal apa yang harus kita lakukan? ??? B-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/03/iaic-dan-try-out-ujian-nasional.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Seorang Siswa : Jangan sampai Iman Kita Terperosok!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/catatan-seorang-siswa-jangan-sampai-iman-kita-terperosok.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/03/catatan-seorang-siswa-jangan-sampai-iman-kita-terperosok.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 08:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebenarnya telah di publish di halaman komentar di bawah tulisan yang berjudul Memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (Catatan Seorang Siswa). Saya hanya mencoba menjadikan ini sebagai tulisan yang baru, biar tampak fresh terus blog alumni insan cendekia ini. . Apalagi telah diramaikan oleh Kepala Sekolah kita Bapak Drs. Ahmad Hidayatullah, M.Pd.
Berikut cuplikan tulisannya saudara Dini Ayu Putri Dilapanga, Salah satu alumni kita dari angkatan 4 Insan Cendekia Gorontalo yang juga seorang penulis novel remaja.
Saya setuju dgn tulisan penulis “biarkan mereka berkembang, biarkan  melakukan kesalahan”. Tapi jgn sampe ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini sebenarnya telah di publish di halaman komentar di bawah tulisan yang berjudul <a href="http://cendekia.web.id/2010/02/memperbaiki-sistem-pendidikan-di-indonesia-catatan-seorang-siswa.html/comment-page-1#comment-1971"><em>Memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (Catatan Seorang Siswa)</em></a>. Saya hanya mencoba menjadikan ini sebagai tulisan yang baru, biar tampak fresh terus blog alumni insan cendekia ini. . Apalagi telah diramaikan oleh Kepala Sekolah kita <strong>Bapak Drs. Ahmad Hidayatullah, M.Pd.</strong></p>
<p>Berikut cuplikan tulisannya saudara <a href="http://d1ni.wordpress.com/" target="_blank">Dini Ayu Putri Dilapanga</a>, Salah satu alumni kita dari angkatan 4 Insan Cendekia Gorontalo yang juga seorang penulis novel remaja.</p>
<p>Saya setuju dgn tulisan penulis “biarkan mereka berkembang, biarkan  melakukan kesalahan”. Tapi jgn sampe melakukan kesalahan fatal. Banyak  kesalahan yg tdk bs diperbaiki &amp; banyak org mnyesal krnanya.  Sebenarnya….. Di sinilah tugas para pendidik… Mengarahkan supaya si anak  didik tdk kebablasan. Kadang mmg perlu berbuat tegas. Perlu sekali2 di  hukum push up d depan masjid (biar kolestrol ga numpuk joy). Tp setelah  itu perlu minum air dingin, perlu diberi pengertian &amp; pemahaman (pak  ahmad sering melakukan ini).</p>
<p>saya ingat pernah disuruh masuk selokan busuk dpn asrama sm pak ahmad  krn bolos sholat subuh. Tp saya trimakasih banyak pak. Setiap kali saya  berada dlm kondisi keimanan yg paling rapuh pun, saya tahu hanya akidah  yg perlu diperjuangkan di hati &amp; otak saya. Klo sampe anak cendekia  melakukan kesalahan bodoh…. Misalnya lepas jilbab atau mungkin lepas  agama (murtad)….. Kayaknya perlu dipertanyakan…. “ngapain lo capek2  mondok 3 thn?” hehehe….</p>
<p>Memang sesama manusia ga ada hak menghakimi kualitas keimanan  seseorang. Itu tugas yg di Atas. Tp merupakan kewajiban utk  mengingatkan. Hari ini mungkin boleh bolos sholat, besok bisa jadi lepas  jilbab, lalu mgu dpn jadi murtad….</p>
<p>Saya walopun sering tergoda dgn pesona &amp; kegilaan duniawi, berada  dlm kondisi &amp; lingkungan yg sulit… apalagi skarang kerja di kantor  yg org muslimnya cm 3 org, ibu kost org cina keturunan, trus d belakang  kost bekas kandang babi, t4 makan muslim cm ada 2…… Kadang ngerasa ga  kuat klo teman2 komentar, “ngapain sih tutup2 kepala gitu?”…. Atau,  tergoda dgn komentar bos saya… “km pasti bakal tampil cantik klo lepas  jilbab..” Saya tau di titik itulah saya bersyukur pernah di cendekia. Di  darah saya sudah mengalir doktrin ibu rahma…. Perempuan spesial dgn  “jilbab” pasti punya pendirian tegas &amp; identitas diri yg jelas. Krn  ga butuh pamer tubuh utk terlihat spesial.</p>
<p>Saya sbnarnya pernah buka jilbab, tp bersyukur tdk pernah lebih dr 24  jam buka jilbab di dpn publik. Hehehe….. Dan, sekarang sedang berniat  memanjangkan jilbab. Doakan!</p>
<p>di dunia yg kapitalis, agak gila, dan kadang di luar logika ini…..  Saya menemukan banyak org sukses bukan krn pintar atau IQ super. Tp krn  punya identitas diri yg kuat, akidah, &amp; konsistensi yg kuat terhadap  keduanya. Simplenya gini, “<strong>Bagimana mo konsisten sama pekerjaan, urusan  agama &amp; akidah aja ga jelas gimana. Gimana bisa disiplin di t4  kerja, urusan sholat aja bolong2.</strong>”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/03/catatan-seorang-siswa-jangan-sampai-iman-kita-terperosok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memimpin di saat Muda, WHY NOT?</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/02/memimpin-di-saat-muda-why-not.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/02/memimpin-di-saat-muda-why-not.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 16:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iyon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh : Iswahyudi Mertosono
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, begitu banyak pelajaran yang patut diambil hikmah sebagai referensi untuk membangun peradaban yang lebih baik. Salah satu aspek peradaban manusia adalah adanya pemimpin-pemimpin peradaban yang melakukan quantum leap pada banyak bidang yang kemudian mengantarkan manusia pada peradaban baru yang lebih baik. Para pemimpin ini terlahir dalam berbagai kondisi dan zamannya masing-masing dengan semua boundary condition yang secara alamiah terbentuk sebagai proses dari peradaban manusia itu sendiri. Hal menarik dari sejarah para pemimpin ini adalah masa-masa kepemimpinannya berada pada saat mereka masih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ditulis oleh : <em>Iswa</em></strong><strong><em>h</em></strong><strong><em>yudi Mertosono</em></strong></p>
<p>Dalam sejarah panjang peradaban manusia, begitu banyak pelajaran yang patut diambil hikmah sebagai referensi untuk membangun peradaban yang lebih baik. Salah satu aspek peradaban manusia adalah adanya pemimpin-pemimpin peradaban yang melakukan quantum leap pada banyak bidang yang kemudian mengantarkan manusia pada peradaban baru yang lebih baik. Para pemimpin ini terlahir dalam berbagai kondisi dan zamannya masing-masing dengan semua boundary condition yang secara alamiah terbentuk sebagai proses dari peradaban manusia itu sendiri. Hal menarik dari sejarah para pemimpin ini adalah masa-masa kepemimpinannya berada pada saat mereka masih muda. Sejarah mencatat nama-nama seperti Napaleon Bonaparte, Bill Gates, Habibie, Soedirman adalah orang-orang yang memimpin bidangnya masing-masing di saat mereka masih muda, malah sebagian dari mereka terbilang masih sangat muda. Pertanyaannya apa sebenarnya yang membuat orang-orang besar ini sudah menjadi pemimpin di saat usia mereka masih muda.</p>
<p><span id="more-1051"></span>Dalam salah satu 10 MUST READS HARVARD BUSINESS REVIEW (HBR) Daniel Goleman menuliskan hasil penelitiannya tentang WHAT MAKES A LEADER? Yang kemudian menjadi Best of HBR 1998. Penelitian ini berisi tentang hal-hal mendasar yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin yang bukan saja menjadi LEADER, BIG LEADER tetapi bisa mencapai apa yang di sebut sebagai GREAT LEADER. Dalam tulisannya Goleman sebagai orang yang mengungkapkan istilah EMOTIONAL INTELLIGENCE pertama kali di khalayak umum menyatakan bahwa KEPINTARAN, DETERMINASI, KETAHANAN, dan VISI tidaklah cukup menjadikan seseorang menjadi seorang pemimpin, tetapi GREAT LEADER sejati adalah orang yang memiliki EMOTIONAL INTELLIGENCE yang tinggi. disinilah letak keunggulan para GREAT LEADER melewati sekat-sekat waktu sehingga mereka dapat meluncur dengan kecepatan cahaya dan merubah diri mereka menjadi GREAT LEADER saat usia mereka masih muda.</p>
<p>Lebih lanjut lagi Goleman menjelaskan hasil risetnya bahwa tingginya tingkat KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) para GREAT LEADER meliputi penguasaan yang sangat baik terhadap 5 hal mendasar dalam kecerdasan emosional yaitu KESADARAN PRIBADI (SELF-AWARENESS), KONTROL DIRI (SELF-REGULATION), MOTIVASI (MOTIVATION), KEAHLIAN BERSOSIALISASI (SOCIAL SKILL), dan EMPATI (EMPATHY). Kelima hal inilah yang perlu dilatih untuk mentransformasikan diri kita menjadi orang-orang yang menjadi GREAT LEADER di saat usia kita masih muda.</p>
<p>Letak permasalahan beratnya seorang anak muda menjadi pemimpin adalah adanya stigma bahwa disaat usia muda tingkat kematangan emosional seseorang masih rendah sehingga kapabilitasnya dalam memimpin menjadi rendah, Sehingga pembenaran bahwa pemimpin adalah orang-orang yang memiliki kematangan emosi yang berbanding lurus dengan kematangan usia seseorang mendapat pembenaran yang sempurna yang kemudian berangsur-angsur menjadi premis yang mendarah daging dan sulit untuk dibantah. Goleman membenarkan bahwa tingkat kecerdasan emosional manusia meningkat dengan bertambahnya usia, hanya saja ini tidak berarti bahwa kecerdasan emosional bukan merupakan sesuatu yang bersifat GIVEN tetapi merupakan sesuatu yang bersifat LEARNABLE.</p>
<p>Hal ini lah yang dipaparkan oleh goleman dalam karyanya. Lebih lanjut Daniel Goleman menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki IQ dan technical skill yang mumpuni memiliki peluang untuk menjadi pemimpin dalam bidang tertentu, hanya saja tanpa kecerdasan emosional yang baik maka kedua kemampuan tersebut tidak akan mampu menjadikan seseorang berjulukan GREAT LEADER hal inilah kenapa kemudian EMOTIONAL INTELLIGENCE disebut oleh Goleman sebagai the sine qua non of leadership. Menjadi hal yang menarik kemudian adalah penjelasan yang diberikan Goleman tentang parameter ukur yang dapat kita gunakan untuk mengetahui seberapa besar kecerdasan emosional melekat pada diri kita. Dari kelima kemampuan mendasar dari kecerdasan emosional Goleman kemudian memberikan ciri-ciri mengenai kelima hal tersebut yaitu :</p>
<p>Self-Awareness: Percaya diri (Self confidence), Penilaian diri yang realistic (realistic self-assessment), memiliki kemapuan mengungkapkan dan menanggapi rasa humor.<br />
Self-Regulation: Integritas (integrity), terbuka terhadap perubahan (openness to change), tidak terganggu dengan ambiguitas.<br />
Motivation: kemampuan yang kuat untuk mengarahkan diri dalam mencapai tujuan (strong drive to achieve), optimistis walaupun menghadpi kegagalan, komitmen organisasi (Organizational commitment).<br />
Emphaty: Ahli dalam menemukan dan membangun talenta, sensitifitas pada budaya yang berbeda, berorientasi pada pelayanan pelanggan.<br />
Social Skill: efektif dalam memimpin perubahan, persuasif, ahli dalam membangun dan memimpin tim.<br />
Hal-hal inilah yang harus kemudian diasah dan diperkuat oleh para kaum muda, sehingga kehandalan dalam memimpin menjadi paten pribadi seorang anak muda yang siap memimpin dengan melewati sekat-sekat umur, pengalaman dan budaya.<br />
Inilah tulisan yang akan menjadi pengantar bagi tulisan saya mengenai kemampuan-kemapuan mendasar dari EMOTIONAL INTELLIGENCE yang dapat menghantarkan generasi muda menjadi seorang yang mendapat sandangan GREAT LEADER.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/02/memimpin-di-saat-muda-why-not.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog, jadi pengusaha ato dokter?</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/02/ngeblog-jadi-pengusaha-ato-dokter.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2010/02/ngeblog-jadi-pengusaha-ato-dokter.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 09:50:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mha5an</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[insan cendekia]]></category>
		<category><![CDATA[insan cendekia gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[insan cendekia serpong]]></category>
		<category><![CDATA[peluang bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[Kirain blog ini dah wafat, eh ternyata masih ada nafas-nafas terakhir. Meski sekarang FB telah mengambil alih banyak waktu kita, bahkan para guru di sana, tapi bagi saya, ngeblog ga  boleh berhenti. Menulis memang bagi saya masih sulit, namun makin sulit lagi bila kita tak punya niat untuk menulis. Menulis harus kita jadikan sebagai budaya, tentu saja menulislah yang santun, bukan berita bohong. Akan lebih baik lagi bila wadah ini dimanfaatkan pada Alumni IC dan para guru tuk berbagi pengetahuan. Namun, sejak dibuatnya blog ini, saya ga ingat lagi, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kirain</em> blog ini <em>dah </em>wafat, eh ternyata masih ada nafas-nafas terakhir. Meski sekarang FB telah mengambil alih banyak waktu kita, bahkan para guru di sana, tapi bagi saya, <em>ngeblog ga </em> boleh berhenti. Menulis memang bagi saya masih sulit, namun makin sulit lagi bila kita tak punya niat untuk menulis. Menulis harus kita jadikan sebagai budaya, tentu saja menulislah yang santun, bukan berita bohong. Akan lebih baik lagi bila wadah ini dimanfaatkan pada Alumni IC dan para guru tuk berbagi pengetahuan. Namun, sejak dibuatnya blog ini, saya <em>ga </em>ingat lagi, siapa saja guru ataupun &#8220;mantan&#8221; guru IC yang pernah berkunjung ke blog ini.</p>
<p>Hampir 7 tahun lamanya saya dahulu kuliah di Bandung. Kota yang serba ada. Apapun ada di sana. Telah terbiasa saya melihat ada seorang kakek (usia 70-an) memikul keranjang kacang rebus, berjualan keliling perumahan. Ada lagi makanan favorit semasa kos, Nasi goreng Tek-tek, jualan keliling dari gang satu ke lainnya, rasanya maknyoos, entah bumbu apa yang ia pake, sampai pernah saya berpikir, jangan-jangan dia pake campuran ganja. <em>hihihi</em>&#8230;. Bila anda termasuk yang suka bepergian dan berbelanja, maka tak asing lagi sederet FO ataupun Kafe di sini. Saking ketatnya persaingan, maka pemilik usaha akan memutar otaknya untuk berjalannya usaha itu. Menawarkan sesuatu yang unik, ataupun harga yang murah, ataupun mahal sekalian, itu tergantung pasar yang dibidik.</p>
<p>Saya tidak dilahirkan di lingkungan pengusaha, tapi keluarga plat merah, sayapun tak pernah ikut <em>training interpreter, </em>semasa kuliahpun saya masuk golongan mahasiswa yang <em>tak </em>suka berorganisasi. Tapi hidup di Bandung membuat mata dan telinga ini sedikit belajar, bahwa manfaatkanlah keterbatasan kondisi menjadi peluang usaha. &#8220;Hawa&#8221; ini tidak kurasakan di Gorontalo maupun di hutan. Kebanyakan orang terbuai <em>tuk nerimo</em> keterbatasan dan membiarkan menjadi lumrah.</p>
<p>Saya tak menyarankan anda tuk menjadi penjual kacang, ataupun penjaja nasi goreng yang enak, biarkanlah mereka dengan pelanggannya, tapi marilah kita belajar menjadi pengusaha, apapun bentuknya.</p>
<p>Kini saya kembali ke Bandung, impianku tetap ku simpan, <em>moga </em>bisa terwujud di suatu masa nanti. Lepas dari itu semua, Saya akan sedikit cerita tentang kehidupan saya dan sejawat di Bandung. Janganlah anda bercita-cita menjadi kaya dengan menjadi dokter. Ini bukan penyesalan memilih profesi, tapi saya hanya ingin menyadarkan sebagian masyarakat yang berangan-angan kaya dengan menjadi dokter.</p>
<p>Rata-rata pendidikan dokter ditempuh dalam 5,5 sampai 7 tahun. Di saat anda tengah &#8220;stess&#8221; dengan jaga dan menjadi koas, teman-teman anda di tehnik telah menikmati gaji pertamanya. Saat Anda lulus, teman anda telah &#8220;berpengalaman&#8221; 1-2 tahun di perusahaan, yang itu sangat menjadi nilai tambah saat melamar kerja di tempat lain. Setelah lulus, dokter sebenarnya masih diharamkan praktek, ia harus ikut ujian kompetensi yang hanya dilakukan 4x setahun, dan kalaupun lulus ia harus menunggu keluarnya STR dari jakarta, barulah ia boleh mendaftar SIP untuk izin praktek.</p>
<p>Anda akan menemui <em>bejibunny</em>a klinik Bandung dan Sekitarnya. Akses erhadap sarana kesehatan di kota ini sangat mudah. Biasanya biaya berobat di klinik ini bervariasi. Ada yang flat 30.ooo, ada yang sesuai tarif. Biasanya duduk di klinik itu, seorang dokter yang akan memeriksa pasien. <strong><em>katanya </em></strong>Pemilik klinik biasanya dengan baik hati akan memberi <strong><em>upah</em></strong> pada dokter itu sekitar 2500-5000/pasien. Saya pun tak pernah menjumpai klinik yang begitu baik memberi 5000/pasien. Ada juga yang membayar dokternya dengan 5000/jam (120.000/24jam). coba di hitung, berapa penghasilan para sejawat itu, 3,6 jt/bulan. Mengalahkan gaji pokok PNS gol IVa. Tapi sapa yang dengan gila akan kerja 30&#215;24 jam? Disaat yg sama, bila anda kedatangan pasien miskin, anda tak berdaya untuk bisa menggratiskannya.</p>
<p>Begitulah nasib sebagian sejawat dokter. Sementara pemiliknya <em>ongkang-ongkang </em>kali di rumah. Sang kuli dokter harus mempertanggungjawabkan tindakannya saat menghadapi masa hidup dan mati pasien. Tragis&#8230;!!! Tapi begitulah hidup. Tak sesederhana yang dibayangkan.</p>
<p>Saya pun tak menyarankan anda menjadi dokter kuli di atas. Tapi, lihatlah betapa pengusaha dapat seenaknya menggaji orang yang kuliahnya 7 tahun!!!</p>
<p>Sekarang kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana kalo kita iseng jadi pengusaha? Saya pun punya cita-cita itu tapi tidak seperti itu (?). Masalah klasik yang kita hadapi adalah MODAL.</p>
<p>Dimana peran Alumni? Alumni memiliki Potensi yang sangat besar. Dahulu, saya punya cita-cita membuat klinik di dekat IC, tapi malesnya minta ampun, karena saya tau tak akan lama di Gorontalo. Bayangkan bila poliklinik di Sekolah itu, di ubah menjadi klinik 24 jam di luar. Tujuannya, selain untuk usaha, Sekolah tak akan kesulitan mencari dokter yang mau kapanpun datang ke IC bila ada kasus gawat darurat. Mungkin itu hanya impuanku. Gimana kalau bentuk yang lain&#8230;</p>
<p>Kemanakah anak anda kelak akan di khitan? tentu saat ini anda bisa langsung menjawab, di mantri ono no.. atau ke dokter Ivan aja, atau ke dokter spesialis Urologi aja langsung yi dokter Icat! hihihihi pernahkan anda berangan&#8221; anda tetangga anda kan menjawab, <strong>Klinik Khitan Cendekia</strong> aja!! dokternya terampil terampil lho! bisa pakai cara biasa, bisa pake laser, ataopun kalo mo sama spesialis di sana juga ada dokter urologi.</p>
<p><strong>Klinik Khusus Gigi</strong> pun bisa kita buat.. Berapa sih modalnya? Buat aja PT. dan jual saham ke Alumni.</p>
<p>Di wilayah usaha lainpun bisa kita buat. Bayangkan kalo tiap pemerintah punya proyek, alumni yang di pemerintah akan &#8220;<em>membocori</em>&#8221; info proyek dan tender. tentunya kejujuran yang paling utama. Hahahahah ini sih cuma asal nulis tapi sapa tau ada yang mau bergerak.</p>
<p>Selamat berpikir, dan Lakukanlah.. Wujudkan cita-citamu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2010/02/ngeblog-jadi-pengusaha-ato-dokter.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerimaan CPNS Lulusan Sarjana di Departemen Keuangan</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/06/penerimaan-cpns-lulusan-sarjana-di-departemen-keuangan.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/06/penerimaan-cpns-lulusan-sarjana-di-departemen-keuangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 08:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[departemen keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[depkeu]]></category>
		<category><![CDATA[lowongan kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sarjana]]></category>
		<category><![CDATA[STAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Sekedar meneruskan informasi yang baru saya dapatkan dari seorang sahabat, siapa tahu dari teman-teman ada yang berminat. Nih ada penerimaan sarjana untuk menjadi calon pegawai negeri sipil di lingkungan Departemen Keuangan (Depkeu).
Ini merupakan kesempatan yang bisa dibilang cukup langka karena tak setiap tahun Departemen Keuangan membuka lowongan penerimaan CPNS dari lulusan Sarjana. Karena Depertemen Keuangan telah memiliki balai diklat sendiri yang mampu mencukupi kebutuhan pegawainya, yaitu Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Penerimaan CPNS dari lulusan Sarjana terakhir kalinya dilaksanakan pada tahun 2002.
Nah, buat temen-temen yang tertarik silakan kunjungi situs resminya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekedar meneruskan informasi yang baru saya dapatkan dari <a href="http://bangpay.org">seorang sahabat</a>, siapa tahu dari teman-teman ada yang berminat. Nih ada penerimaan sarjana untuk menjadi calon pegawai negeri sipil di lingkungan <a href="http://depkeu.go.id">Departemen Keuangan (Depkeu)</a>.</p>
<p>Ini merupakan kesempatan yang bisa dibilang cukup langka karena tak setiap tahun Departemen Keuangan membuka lowongan penerimaan CPNS dari lulusan Sarjana. Karena Depertemen Keuangan telah memiliki balai diklat sendiri yang mampu mencukupi kebutuhan pegawainya, yaitu <a href="http://stan.ac.id">Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)</a></p>
<p>Penerimaan CPNS dari lulusan Sarjana terakhir kalinya dilaksanakan pada tahun 2002.</p>
<p>Nah, buat temen-temen yang tertarik silakan kunjungi <a href="http://ppns.depkeu.go.id">situs resminya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/06/penerimaan-cpns-lulusan-sarjana-di-departemen-keuangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOA = Law of Attract + Action</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/06/loa-law-of-attract-action.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/06/loa-law-of-attract-action.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ronal Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh : Ronal Hutagalung
 
LOA adalah hukum yang menerangkan bahwa Anda dapat menarik apapun dalam kehidupan ini dengan menggunakan kekuatan Thinking, Feeling, dan Action (Ronal Hutagalung)
Setelah boomingnya buku The secrets, buku-buku lainnya yang bertemakan LOA ikut menjamur dipasaran. Ramai orang menuliskan, membicarakan, mendiskusikan, dan menjadikan konsep ini sebagai materi dari training yang diberikan.
Saya sangat terpesona dengan teori LOA. Teori ini sangat membantu saya dalam melakukan Breakthrough. Menyadari betapa dahsyatnya potensi yang dimiliki manusia. Betapa sempurna makhluk Ciptaan-Nya yang bernama manusia.
Namun satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya setelah membaca sekian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="0in 0in 10pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="0in 0in 10pt;"><strong><span style="small;"><span style="Calibri;">Oleh : Ronal Hutagalung</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span style="Calibri;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><em><span style="small;"><span style="Calibri;">LOA adalah hukum yang menerangkan bahwa Anda dapat menarik apapun dalam kehidupan ini dengan menggunakan kekuatan Thinking, Feeling, dan Action (Ronal Hutagalung)</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Setelah boomingnya buku <em>The secrets</em>, buku-buku lainnya yang bertemakan LOA ikut menjamur dipasaran. Ramai orang menuliskan, membicarakan, mendiskusikan, dan menjadikan konsep ini sebagai materi dari training yang diberikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Saya sangat terpesona dengan teori LOA. Teori ini sangat membantu saya dalam melakukan Breakthrough. Menyadari betapa dahsyatnya potensi yang dimiliki manusia. Betapa sempurna makhluk Ciptaan-Nya yang bernama manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Namun satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya setelah membaca sekian banyak buku yang mengupas LOA adalah apakah memang sesederhana itu hukum tersebut? Dan apakah hukum ini bisa betul-betul efektif bekerja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Saya sangat percaya dengan kekuatan pikiran. Setiap pencapaian di muka bumi ini dimulai dari pikiran. Bohlam tidak akan ditemukan jika saja Thomas Edison tidak berpikir tentang suatu benda yang dapat memancarkan cahaya layaknya matahari. Demikian halnya ketika Anda menginginkan sebuah rumah, Anda tidak mungkin mendapatkannya jika sebelumnya Anda tidak berpikir untuk membangun atau membeli sebuah rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span id="more-422"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Calibri;"><span style="yes;"> </span>Tapi apakah betul seperti yang dituliskan atau disampaikan oleh para pembicara dalam Buku / DVD <em>The secret</em> bahwa hanya dengan memikirkan sesuatu maka kita akan menarik apa yang kita pikirkan tersebut. Benarkah hanya dengan melakukan tiga hal yaitu, meminta, percaya, dan menerima maka semua yang kita inginkan akan terwujud?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Mungkinkah hanya dengan memikirkan memiliki tabungan sebesar 100 juta, mempercayai, dan menerimanya maka tabungan 100 juta akan menjadi milik Anda?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Mungkinkah hanya dengan memikirkan memiliki kehidupan keluarga yang bahagia, mempercayai, dan menerimanya maka kehidupan keluarga Anda akan harmonis, penuh cinta kasih dan kebahagiaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Calibri;">Secara pribadi saya percaya bahwa <em>The Law of Attraction</em> adalah hukum yang dahsyat. Kunci untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagaiaan. Hanya saja, ada hal yang harus ditambahkan dari semua konsep LOA yang disampaikan oleh Rhonda Byrne beserta para pembicara yang ikut menyumbangkan pikirannya dalam <em>The Secret</em>, <em>The Law of Attraction</em> yang dijabarkan oleh </span><span>Michael J Losier dalam bukunya, dan LOA versi Timur yang dituliskan dalam buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span><span style="small;">Jika coba kita pecah kata Attraction, maka kita bisa mendapatkan dua kata terpisah yaitu <em>Attract</em> (tarik) dan <em>Action</em> (aksi). Selama ini, LOA hanya membahas aspek Attract-nya. Dimana pikiran dan perasaan positif akan mendatangkan hal positif dengan jumlah yang lebih banyak kepada diri kita. Sementara ada satu hal lain dari LOA yang itu dikesampingkan, padahal hal inilah yang menjadikan LOA menjadi betul-betul efektif bekerja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span>Jika kita kembali kepada pertanyaan diatas tentang </span><span style="Calibri;">mungkinkah hanya dengan memikirkan memiliki tabungan sebesar 100 juta, mempercayai, dan menerimanya maka tabungan 100 juta akan menjadi milik Anda? Maka saya akan menjawabnya tidak mungkin jika tidak ada ACTION.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Mungkinkah hanya dengan memikirkan memiliki kehidupan keluarga yang bahagia, mempercayai, dan menerimanya maka kehidupan keluarga Anda akan harmonis, penuh cinta kasih dan kebahagiaan? Saya pun kembali akan menjawabnya tidak mungkin jika tidak ada ACTION.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Untuk bisa mendapatkan uang 100 juta, anda butuh menciptakan sebab atau melakukan action. Menciptakan sebab atau melakukan action misalnya karena Anda telah bekerja dengan baik, maka anda diberikan bonus sebesar 100 juta oleh perusahaan. Karena proyek yang Anda kerjakan cukup besar, maka Anda mendapatkan keuntungan yang cukup besar hingga 100 juta. Karena anda mengirimkan kupon undian maka Anda berhasil menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah 100 juta. Karena anda orang yang baik hati maka seorang dermawan memberikan Anda uang secara Cuma-Cuma sebesar 100 juta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Keluarga yang harmonis hanya akan tercipta ketika Anda dapat memenuhi kebutuhan keluarga, <span style="yes;"> </span>mampu membangun komunikasi effektif didalam keluarga, senantiasa meluangkan waktu bercengkrama dengan pasangan dan anak-anak, menjadi teladan, membangun kebiasaan positif, dan berbagai ACTION lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Sehingga, LOA bukanlah <em>Law of Attraction</em> namun <em>Law of Attract &amp; Action</em>. LOA adalah hukum yang menerangkan bahwa Anda dapat menarik apapun dalam kehidupan ini dengan menggunakan kekuatan <em>Thinking, Feeling, </em>dan<em> Action</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="11.0pt;"><span style="Calibri;">Penulis adalah Director SMART Resources ; Education &amp; Training, Motivator &amp; Public Speaker yang berpengalaman dalam memberikan seminar, training , maupun workshop di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta. Owner SUCCESS book store dan READ café. Contact : 085228047189</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/06/loa-law-of-attract-action.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MITOS DIBALIK TES IQ</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/06/mitos-dibalik-tes-iq.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/06/mitos-dibalik-tes-iq.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ronal Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh : Ronal Hutagalung
Penulis adalah Master Trainer SMART TRAINING CENTER dan Owner SUCCESS BOOK STORE
Suatu ketika ada seorang ibu yang bertanya “Mungkin nggak ya anak saya berhasil, sementara hasil tes IQ-nya tergolong rendah”?. Pertanyaan itu mungkin tidak asing bagi Anda semua karena bisa jadi meski Anda belum pernah ikut tes IQ sekalipun, ada sebuah kekhawatiran apabila ternyata tes IQ saya jelek, tamatlah harapan saya untuk sukses.
Nah, sekarang apakah memang benar ada keterkaitan antara nilai hasil tes IQ dan keberhasilan seseorang? Apakah sebuah jaminan bahwa orang yang ber IQ tinggi akan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><span style="14pt;"><span style="Calibri;">Oleh : Ronal Hutagalung</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><span style="10pt;"><span style="Calibri;">Penulis adalah Master Trainer SMART TRAINING CENTER dan Owner SUCCESS BOOK STORE</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Suatu ketika ada seorang ibu yang bertanya “Mungkin nggak ya anak saya berhasil, sementara hasil tes IQ-nya tergolong rendah”?. Pertanyaan itu mungkin tidak asing bagi Anda semua karena bisa jadi meski Anda belum pernah ikut tes IQ sekalipun, ada sebuah kekhawatiran apabila ternyata tes IQ saya jelek, tamatlah harapan saya untuk sukses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Nah, sekarang apakah memang benar ada keterkaitan antara nilai hasil tes IQ dan keberhasilan seseorang? Apakah sebuah jaminan bahwa orang yang ber IQ tinggi akan lebih sukses dibandingkan orang yang memiliki IQ rendah? Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu seperti apa tes IQ tersebut. Sepengetahuan saya, tes IQ terutama hanya menguji dua jenis kecerdasan saja, yaitu kecerdasan logika/matematika dan linguistic serta sedikit kecerdasan visual-spasial. Sehingga hasil tes ini tidaklah dapat dijadikan sebagai acuan bagi keberhasilan hidup seseorang. Menurut Gardner , dalam teori Multiple Intelegence, manusi mempunyai delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan logika/matematika, linguistic, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, natural, musical, dan visual-spatial. Sementara itu tes IQ juga tidak dapat menguji kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span id="more-423"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Suatu mitos yang berkembang di masyarakat adalah bahwa IQ itu bersifat permanen. Sehingga orang yang memiliki IQ rendah maka itulah kutukan hidup yang harus diterimanya. Berdasarkan penelitian terkini, IQ bukanlah sesuatu yang sifatnya permanen. IQ seseorang dapat turun maupun naik. Suatu penelitian yang pernah dilakukan di Souhwest State University sejak tahun 1989, dengan teknik tertentu, yang dapat mengaktifkan berbagai bagian otak secara simultan, didapatkan hasil yang snagat mencengangkan. Hanya dengan melatih teknik tersebut selama 25 jam, IQ dapat meningkat sebesar 20 point. Yang lebih menakjubkan lagi di sebuah institusi ternama di Swiss, dengan menggunakan bantuan peralatan mutakhir, terjadi peningkatan IQ sebesar 30% lebih tinggi dari IQ semula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Cara lainnya yang lebih mudah untuk dapat meningkatkan IQ adalah dengan mendengarkan music Mozart<span style="yes;"> </span>“Sonata for Two Pianos in D”. mendengarkan music ini selama 15 menit akan meningkatkan IQ sebesar 8 hingga 9 point. Frekuensi yang dibutuhkan untuk dapat mengisi dan mengaktifkan sel otak adalah frekuensi 8.000 Hz atau 8 KHz. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa music Mozart sangat kaya dengan frekuensi 8 KHz. Itulah sebabnya kenapa getaran dan frekuensi dari alunan music Mozart<span style="yes;"> </span>yang diterima oleh telinga kita membuat kita merasa segar. Berbeda halnya dengan music dengan frekuensi rendah seperti Heavy Metal dan rock yang sangat menguras energy sel otak dan membuat tubuh kita lelah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Musik Mozart dan Baroque juga dapat sangat membantu dalam proses pembelajaran. Untuk memudahkan kita memasukkan informasi kedalam otak, gunakanlah music instrument dengan tempo 55-57 bit per menit. Sedangkan untuk curah gagasan, diskusi, kerja kelompok, atau tugas yang membutuhkan proses berpikir kreatif gunakanlah music dengan tempo di atas 100 bit per menit. Tempo music ini dapat mempengaruhi detak jantung. Musik dengan tempo 55-57 bit permenit, atau rata-rata 60 bit permenit, akan menurunkan detak jantung hingga 60 kali per menit.Detak jantung 60 kali permenit adalah detak jantung orang yang dalam keadaan rileks. Kondisi tubuh yang rileks selanjutnya akan berhubungan dengan kondisi getaran otak, yaitu gelombang Alfa ( 8 – 12 KHz). Kondisi Alfa adalah kondisi yang paling baik untuk belajar. Sedangkan music dengan tempo tinggi membawa gelombang otak masuk kedalam kondisi Beta dimana hanya sesuai untuk berpikir kritis dan cepat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Selanjutnya kita kembali kepada pertanyaan diatas, apakah ada kaitan antara nilai IQ dengan keberhasilan hidup seseorang? Kontribusi IQ dalam menentukan keberhasilan seseorang hanya berkisar 10 %. Sisanya sebesar 90% adalah kontribusi dari EQ (Kecerdasan Emosi). IQ berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis, sedangkan EQ terkait dengan kemampuan pengendalian diri, level kesadaran, penguasaan dan pemanfaatan emosi demi kemajuan diri. Inilah yang menjawab mengapa ada begitu banyak orang yang sangat pintar (ber IQ tinggi) namun memiliki prestasi yang biasa-biasa. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa jalur saraf yang berasal dari pusat emosi (sistim limbic) yang menuju ke pusat berpikir(korteks prefrontal) jumlahnya jauh lebih banyak daripada sebaliknya. Hal ini berarti emosi mengalahkan logika. Dengan kata lain, kemampuan berpikir seseorang lebih ditentukan oleh kondisi emosinya diaripada sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Di<span style="yes;"> </span>masyarakat, nilai IQ yang tinggi bisa menjadi sebab diterimanya seseorang dalam sebuah pekerjaan, organisasi, maupun komunitas. Akan tetapi kualias EQ-lah yang akan menentukan seberapa baik orang tersebut eksis di dalamnya dan seberapa cepat dia di promosikan. Mungkin Anda pernah menemukan orang-orang dengan nilai IQ tinggi (cerdas) namun cenderung memiliki sikap negative seperti individualis, mudah tersinggung, sombong, arogan, tidak dapat bekerja dalam tim. Secara hasil kerja, tidak ada yang dapat meragukan kualitasnya. Hanya saja, dikarenakan sikap negative yang dimiliki, orang-orang dengan IQ yang tinggi ini menjadi pribadi yang tidak menyenangkan dan cenderung merusak suasana disekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">IQ hanyalah salah satu indicator yang banyak digunakan untuk memprediksi prestasi akademis. Anak yang memiliki IQ yang tinggi biasanya memiliki prestasi yang baik. Semakin tinggi IQ-nya secara umum semakin tinggi pula prestasi akademiknya. Namun, IQ tidak dapat digunakan untuk memprediksi prestasi hidup. Prestasi hidup lebih ditentukan oleh kecakapan hidup yang dikuasai oleh anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eli Ginzberg mengungkapkan bahwa mahasiswa yang lulus dengan mendapatkan penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mahasisaw yang mendapatkan penghargaan prestasi akademisnya, mahasiswa yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata cenderung berprestasi biasa saja dalam hidup mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Di Amerika pernah dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui 100 faktor yang menentukan pencapaian keberhasilan hidup. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata factor “IQ yang tinggi” berada pada urutan ke 21, masuk ke sekolah yang top pada urutan 23, dan lulus dengan nilai yang sangat baik atau cum laude pada urutan 30. Factor-faktor penentu keberhasilan hidup dari 1 sampai 10, yaitu : (1) bersikap jujur kepada semua orang; (2)mempunyai disiplin yang baik; (3) pintar bergaul; (4)bekerja lebih keras daripada yang lain; (5)memiliki semangat dan kepribadian yang kompetitif; (6) memiliki kualitaskepemimpinan yang baik dan kuat; (7) mengatur hidup dengan sangat baik; (8)memiliki kemampuan untuk menjual idea tau produk; (9)melihat peluang yang tidak dilihat ornag lain; (10) berani mengambil resiko keuangan bila memberikan hasil yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">Jika demikian, apakah perlu melakukan tes IQ pada anak? Hal ini tergantung keperluannya apa. Tes IQ sebaiknya digunakan untuk menemukan factor-faktor yang menyebabkan anak sulit belajar. Tes IQ yang tidak dilakukan dengan hati-hati dapat berakibat buruk bagi anak. Hasil tes IQ, berapapun hasilnya, baik tinggi maupun rendah akan menjadi label yang melekat pada diri anak, yang kemudian menjadi bagian pembentuk konsep dirinya. Disinilah letak bahayanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Calibri;">SALAM SUKSES (Line Discuss 0435-8732025)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/06/mitos-dibalik-tes-iq.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Muda, Hidup Produktif!!!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/05/hidup-muda-hidup-produktif.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/05/hidup-muda-hidup-produktif.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 10:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdin S. Rauf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[ “Jangan biarkan usia mudamu berlalu begitu saja nak!” Begitulah kata-kata nenek saya yang sampai sekarang masih saja terngiang-ngiang dalam batin. Ada benarnya juga petuah itu. setidaknya saya bisa berkaca dari kehidupan orang-orang muda jaman ini. 
            Begitu pun semenjak berguru di Insan Cendekia, kata-kata pak Ahmad pun masih bersarang dalam lubuk jiwa saya ini. “Berbuatlah yang terbaik, bermanfaat bagi orang lain!” Nasihat ini terus saja mengekor dalam perjalanan hidup saya. 
            Jujur saja, semenjak berguru di Insan cendekia, rasa-rasanya tiap hari, semua siswa menjalaninya dengan aktivitas yang produktif. Mulai dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="yes;"> </span>“Jangan biarkan usia mudamu berlalu begitu saja nak!” Begitulah kata-kata nenek saya yang sampai sekarang masih saja terngiang-ngiang dalam batin. Ada benarnya juga petuah itu. setidaknya saya bisa berkaca dari kehidupan orang-orang muda jaman ini. <span id="more-404"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;">            </span>Begitu pun semenjak berguru di Insan Cendekia, kata-kata pak Ahmad pun masih bersarang dalam lubuk jiwa saya ini. “Berbuatlah yang terbaik, bermanfaat bagi orang lain!” Nasihat ini terus saja mengekor dalam perjalanan hidup saya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;">            </span>Jujur saja, semenjak berguru di Insan cendekia, rasa-rasanya tiap hari, semua siswa menjalaninya dengan aktivitas yang produktif. Mulai dari kedisiplinan waktu, tadarus al-Quran, makan di kantin, berangkat ke gedung pendidikan, dan seterusnya. Betapa hidup kita teratur dan produktif. Tentunya, kita pun masih menikmati suasana canda dan gurau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;">            </span>Nah, bagaimana kehidupan kita setelah selesai berguru di Insan Cendekia, dan memasuki dunia kampus? Masih produktifkah kita? tentunya terkembali ke pribadi masing-masing. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;">            </span>Kalau kita masih menghadirkan kehidupan Insan Cendekia dalam jiwa, saya yakin hidup kita semakin produktif.<span style="yes;">  </span>Di Insan Cendekia, kita telah dibekali nilai-nilai luhur: kemandirian, ketangguhan, kesabaran, kasih sayang, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen emosi, spiritual, dan seterusnya. Nah, kalau kebiasaan-kebiasaan itu tetap saja kita biasakan dalam kehidupan kampus, maka –saya sangat yakin—kita menjadi pribadi produktif. Produktif dari segi apa pun seperti berprestasi di kampus, menjadi aktivis, ikut BEM, jadi asisten Dosen, menjadi pengusaha, dan lain sebagainya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="200%;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;">            </span>Lagi-lagi, itu semua terkembali pada pribadi masing-masing. Saya tidak ingin menggurui teman-teman, karena memang saya bukan guru. Namun, setidaknya, mungkin ini bisa dijadikan salah satu rujukan kita untuk segera menghitung-hitung masa muda kita. Mumpung belum tua, ada baiknya, mulai saat ini kita sesegera mungkin mengupayakan diri menjadi pribadi produktif. Bagaimana?[] </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/05/hidup-muda-hidup-produktif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran dan (akhirnya) Nikah Sesama Alumnus IC</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/05/pacaran-dan-akhirnya-nikah-sesama-alumnus-ic.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/05/pacaran-dan-akhirnya-nikah-sesama-alumnus-ic.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ronald H. Langi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf, kalo judulnya seperti itu, soalnya saya bingung mo nentuin judul yang pas. Mikir lebih lama, ntar keburu deadline report audit saya, hehe&#8230;tapi one thing for sure, y’all know what it is. Dan yang pasti, bayangan kenangan di IC dulu (ato masih sampe skrg?) akan singgah di ruang imajinasi kita.
Mari kita lihat, berapa persen lulusan IC yang akhirnya pacaran dengan lulusan IC juga yang berbuntut ke jenjang pelaminan, mostly sih satu tingkat, tapi ada juga yang berbeda tingkat. 
Oh ya, sebelum masuk ke inti pembicaraan, saya ingin mengucapkan congratz ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;"><span>Mohon maaf, kalo judulnya seperti itu, soalnya saya bingung mo nentuin judul yang pas. </span><span>Mikir lebih lama, ntar keburu deadline report audit saya, hehe&#8230;tapi one thing for sure, y’all know what it is. Dan yang pasti, bayangan kenangan di IC dulu (ato masih sampe skrg?) akan singgah di ruang imajinasi kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Mari kita lihat, berapa persen lulusan IC yang akhirnya pacaran dengan lulusan IC juga yang berbuntut ke jenjang pelaminan, mostly sih satu tingkat, tapi ada juga yang berbeda tingkat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Oh ya, sebelum masuk ke inti pembicaraan, saya ingin mengucapkan congratz buat teman saya yang akhirnya jadian lagi dengan alumnus IC…see bro, pepatah “nasi kuning dan pisang goreng di warung maade ga kelihatan, tapi sirloin steak dan cappuccino di excelso tampak” itu benar adanya, udah tahu ada barang berkualitas made in GTO, malah nyari made in Europe, ujung-ujungnya ente kesedak…</span><span style="Wingdings;"><span> </span></span><span>mudah-mudahan langgeng sampe pelaminan, yang penting ente jangan macam2 lagi, ingat kata pak Jajang, zinah itu MAKRUH…hehe, </span><span>juga buat teman-teman saya yang baru punya anak, juga yang baru nikah, insya Allah jadi keluarga sakinah, terus doakan saya menyusul…menyusul kaweng, bukan nikah…</span><span>so ozqar, kapan saya punya ponakan??? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kembali ke laptop, udah ngitung persentasenya? Kalo saya hitung dari yang saya tahu, maybe approximately 80% ya…dari angkt 1, ini yang paling banyak, angkt 2, panas2 tai ayam, angkt 3 kedua paling banyak setelah 1, angkt 4 dst yang masih dalam taraf pacaran, dst dst&#8230;correct me if im wrong yah, 80% itu termasuk yang masih pacaran lho, saya juga amazed dengan persentase itu, tapi itulah angka yang bagi saya masuk akal. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Oke, kita tinggalkan angka itu, mo berapapun, angka itu hanya dugaan, belum diuji dengan yang namanya error sampling dan berbagai metode statistik lainnya. Yang ingin saya kemukakan kenapa fenomena ini terjadi? Nahhhhhhhhhhhhhhh&#8230;.anda semua pasti punya argumentasi sendiri, punya pemikiran sendiri, kenapa fenomena ini selalu muncul. Bagi saya sendiri, ada satu yang utama, JODOH ITU DI TANGAN ALLAH DAN ORANG BAIK AKAN DIBERIKAN ALLAH JODOH YANG BAIK PULA, walaupun kembali ke pribadi masing-masing, tidak bisa dipungkiri generally alumnus IC punya better knowledge about islam dibanding generasi muda lainnya (kecuali saya, raport agama mesjid ga pernah diatas 6, damn&#8230;sebego itukah diri saya terhadap agama?), at least ga kalah sama lulusan pesantren (lha wong sekarang aja status sekolah udah madrasah kan&#8230;). seperti kata Dini, kita ga punya hak untuk menjudge people, saya juga ga ingin memberi status pada tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang, sehingga saya mencoba berpikir dari sisi orang awam, bahwa lulusan IC adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang agama sehingga mereka (noted, saya pakai kata mereka bukan kita) adalah orang-orang BAIK. Sekali lagi, saya melihat dari sudut pandang netral, jika ada alumnus IC yang nyeleneh, itu kembali ke orangnya, it is definitely their own business. </span><span>Hehehe&#8230;mohon maaf jika saya jadi sok tahu, but as ozqar said, blog is only for NATO thing only, is’nt it? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Selain alasan di atas, bagi saya pribadi, alasan kita milih calon atau pasangan sesama alumnus IC mungkin karena saking seringnya kita lihat dia waktu di IC, even cuman curi-curi pandang ataupun caper kalo ada dia, seringnya kita berkomunikasi dengan dia, timbul perasaan nyaman kepada pasangan yang sudah kita kenal, pasangan yang cukup tahu alasan dibalik polah tingkah laku kita. Kita juga sudah tahu sifat dia, walaupun kalo sifat itu berkaitan dengan hati, dan seperti orang bilang, “dalamnya hati siapa yang tahu?”, but at least sifatnya dia berkesan di perasaan kita. Untuk yang udah pisah karena kuliahnya jauh, even komunikasinya hanya by ponsel, tiap hari hal yang bisa memberikan ketenangan bagi kita hanyalah suara dia, yang bagi kita sangat merdu, semerdu teriakan Ryan Giggs ketika dribblenya berhasil mengecoh lawan dan bola berhasil masuk ke jala lawan itu (ryan giggs is a legend, along with paolo maldini, Javier zanetti, a great player with an outside pitch’s humble living)</span><span> hehe…lagi euphoria ma golnya giggs ke wigan niyh…</span><span>sowwie&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kembali ke laptop, ambil contoh teman saya yang saya sebut di atas, setelah sekian lama “melanglang buana” dengan berbagai tipe cewek yang tentunya seksi dan cantik, akhirnya dia kembali ke pangkuan sesame alumnus IC lagi (dulu pernah juga, tapi yang ini baru lagi…hehe). Ketika saya tanya alasannya, secara gamblang dia menjawab “tau we…pokonya dia yang kita pilih”. Jawaban dia menambah keyakinan saya untuk mengambil kesimpulan bahwa 2-3 tahun dalam 1 lingkungan (waktu di IC) akan membuat perasaan kita lebih peka dan kuat terhadap sesama insan IC. Mungkin juga hal ini yang menyebabkan kenapa pada umumnya alumnus2 IC pada tahun awal kuliahnya lebih sering berkumpul antar sesama alumnus IC ketimbang hangout dengan teman-teman barunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Cinta? sayang? Itu hanyalah interface dari core aplikasi yang bertajuk perasaan, bukan hanya tema wajib lagu anda jika ingin menjadi artis terkenal dan album anda laris manis. “kurungan” selama 3 tahun di IC mungkin menciptakan ikatan yang cukup kuat antar sesama alumni, dan jika ini terjadi antara cowok dan cewek, hanya butuh sebuah trigger untuk mentransformasi ikatan itu menjadi rasa cinta,hehe&#8230;</span><span style="Wingdings;"><span> </span></span><span> </span><span>Sekali lagi, jodoh merupakan enkripsi yang hanya bisa didecode oleh Sang Pencipta. Kita hanya bisa menduga-duga, hanya bisa berharap kalau pasangan yang kita sayangi sekarang adalah jodoh kita juga, terlepas dia adalah alumnus IC atau bukan. Makanya supaya ga patah hati, juga terhindar dari dosa, langsung nikah jo (tapi belum tentu dengan nikah, anda sudah menemukan jodoh anda lho…</span><span>berapa banyak pasangan yang cerai? just my personal opinion, ga perlu dibahas lebih jauh…hehehe)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Sooooo…kenapa akhirnya memilih pasangan sesama alumnus IC? Alasan aslinya kembali ke pribadi masing-masing. Setiap individu punya lekukan kedalaman hati yang merupakan kunci bagi hati pasangannya. Semua alasan yang saya kemukakan hanyalah pandangan pribadi saya. Saya yakin teman-teman saya punya pendapat lain atau yang punya pasangan bukan alumnus IC bisa mengemukakan alasan masing-masing, atau lebih jauh, yang pernah patah hati dengan sesama anggota keluarga besar IC bisa memberikan argumentasinya</span><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Maaf ya jika tulisan saya panjang banget dan kayaknya bertele-tele, mumpung lagi punya untuk menuangkan opini niyh&#8230;seperti cele bilang, mari kita berbagi cerita, berbagi berita, berkarlota&#8230;dan bagi saya pribadi, ga tahu jodoh kita itu adalah sebuah penderitaan, apalagi ketika putus&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/05/pacaran-dan-akhirnya-nikah-sesama-alumnus-ic.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

