<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cendekia.web.id &#187; Qoru</title>
	<atom:link href="http://www.cendekia.web.id/author/stezna/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.cendekia.web.id</link>
	<description>Berbagi cerita berbagi berita dan berkarlota</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 16:15:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Juara 2 Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo: Gubernur Gorontalo, Not-so-Nice Job!!!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 16:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.cendekia.web.id/?p=1280</guid>
		<description><![CDATA[Dibawah ini merupakan tulisan yang menjadi pemenang kedua untuk lomba Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo, oleh Abdul Qohar Salilama, Alumni Insan Cendekia Gorontalo, Angkatan 2.
Gubernur Gorontalo baru aja kepilih. Euforianya udah dimulai jauh sebelum pengumuman dari KPU, malah konvoinya dimulai pada hari pemilihan. Satu hal yang kocak dari pemilihan Gubernur kali ini adalah terjadinya dua kali konvoi dari dua kandidat yang berbeda. Penyebabnya apa lagi kalau bukan SMS hoax. Mungkin karena “Mama” udah kebanyakan pulsa, makannya “Mama” SMS-in semua orang buat ngasih tau pemenang versi KPU.
Sebenarnya saya pribadi gak mau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dibawah ini merupakan tulisan yang menjadi pemenang kedua untuk lomba Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo, oleh Abdul Qohar Salilama, <strong>Alumni Insan Cendekia Gorontalo, Angkatan 2</strong>.<span id="more-1280"></span></em></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><img title="Abdul Qohar Salilama, Insan Cendekia Gorontalo Angkatan 2" src="http://aqsalilama.files.wordpress.com/2012/01/wr-supratmanmoz1.jpg?w=225&amp;h=300" alt="Abdul Qohar Salilama, Pemenang Kedua Lomba Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo" width="143" height="191" /><p class="wp-caption-text">Abdul Qohar Salilama, Pemenang Kedua Lomba Andai Aku Menjadi Gubernur Gorontalo</p></div>
<p>Gubernur Gorontalo baru aja kepilih. Euforianya udah dimulai jauh sebelum pengumuman dari KPU, malah konvoinya dimulai pada hari pemilihan. Satu hal yang kocak dari pemilihan Gubernur kali ini adalah terjadinya dua kali konvoi dari dua kandidat yang berbeda. Penyebabnya apa lagi kalau bukan SMS hoax. Mungkin karena “Mama” udah kebanyakan pulsa, makannya “Mama” SMS-in semua orang buat ngasih tau pemenang versi KPU.</p>
<p>Sebenarnya saya pribadi gak mau jadi gubernur. Selain umur saya yang masih muda, saya juga bukan orang yang berlimpah harta. Bukankah syarat untuk menjadi Kepala Daerah di Indonesia adalah TUA atau KAYA. Jika tidak memenuhi salah satu dari dua syarat tersebut, dapat dipastikan kita tidak akan menjadi Kepala Daerah. Jika suatu saat ada Kepala Daerah yang MUDA atau MISKIN, maka kita harus mendatangi halaman kantor-kantor pemerintah dan melihat ke atas, mungkin bendera yang berkibar bukan lagi MERAH PUTIH.</p>
<p>Berhubung saya tidak akan mungkin jadi gubernur (not now at least), maka saya hanya akan memberikan masukan buat gubernur yang terpilih. Hal pertama yang harus dilakukan oleh Gubernur Gorontalo adalah <strong>menahan diri</strong>. Menahan diri dari mengutak-atik susunan kabinet atas dasar <em>balas jasa </em>dan <em>balas dendam. </em>Lucunya di negeri ini (meminjam istilah Bona Paputungan), kita gak harus pintar dan cakap untuk menjadi pejabat seperti yang tertulis pada Surat Keputusan pengangkatan dalam jabatan. Yang harus kita lakukan hanyalah memeriksa silsilah keluarga, kali aja nyambung dengan pucuk pimpinan, atau mempersiapkan sajak puji-pujian untuk pucuk pimpinan yang dikenal dengan istilah “koprol”. Berhubung hal yang pertama tidak dapat kita usahakan karena berhubungan dengan takdir, maka satu-satunya yang tersisa adalah KOPROL.</p>
<p>Parahnya semua Kepala Daerah di Indonesia memiliki 1 program yang sama untuk semester pertama pemerintahannya, yaitu utak-atik kabinet. Kalau diibaratkan, mereka lebih memilih orang yang buta huruf untuk menjadi Kepala Dinas Pendidikan asalkan masih ada hubungan keluarga daripada memilih seorang Profesor tapi tidak ada hubungan sama sekali. Memang benar, perintah dan ide kita akan lebih mudah diterima dan dikerjakan oleh orang yang memiliki hubungan keluarga dengan kita ketimbang orang lain, tapi profesionalitas harus lebih diutamakan. Lebih baik memilih musuh yang berkompeten di bidangnya daripada saudara sedarah tapi bodoh.</p>
<p>Setelah Menahan Diri, langkah selanjutnya adalah membina kembali hubungan dengan kepala daerah tingkat II, walikota dan bupati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sering terjadi perseteruan antara gubernur dan walikota atau bupati. Hal ini sangat-sangat tidak baik untuk pembinaan masyarakat. Gimana bisa kita mengharapkan rakyat yang rukun sementara pemimpinnya saja selalu berseteru? Memang benar untuk mengharapkan ada yang mengalah adalah sesuatu yang mustahil. Yang pasti jika orientasi dari <em>bos-bos </em>ini hanya untuk jabatan, maka perseturuan itu tidak akan berakhir. Sebaliknya jika orientasinya untuk <em>memimpin dan membina </em>masyarakat, maka “mengalah” bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.</p>
<p>INFRASTRUKTUR. Kata ini paling sering dijanjikan dalam kampanye apapun, kepala daerah, legislatif, sampai presiden, tapi paling jarang terealisasi. Khusus Gorontalo, insfrastruktur kita masih jauh dari memadai. Di bidang transportasi, kita masih mempermasalahkan jatah pembangunan dan perbaikan jalan. “Ini jalan provinsi,” kata bupati/walikota. “Ini jalan kabupaten/kota,” kata gubernur. Sekali lagi, jika orientasinya adalah rakyat, maka saling melempar tanggung jawab ini tidak akan terjadi. Hal yang lumrah di negeri ini lagi adalah ketika berbicara mengenai kewajiban dan tanggung jawab, maka kita akan saling melemparkan tanggung jawab. Tapi jika berbicara dana, maka kita akan saling berebut. “Ini adalah dana kabupaten/kota,” kata bupati/walikota. “Ini adalah dana provinsi,” kata gubernur. Padahal para Kepala Daerah ini, baik tingkat I maupun tingkat II, semuanya memiliki prinsip yang sama dalam pembangunan jalan, TAMBAL SULAM. Semakin cepat jalannya lubang, semakin baik, karena proyek perbaikan jalan semakin sering, ujung-ujungnya <em>fee </em>kepala daerah semakin banyak. Jadi, kalo prinspinya sama, kenapa harus saling melempar tanggung jawab? Kan pasti untung, Bos!</p>
<p>Infrastruktur lain yang masih butuh pembenahan adalah telekomunikasi. Provinsi Gorontalo yang sudah berusia 1 dasawarsa ini telekomunikasi selulernya baru dicover oleh beberapa operator seluler, dengan satu operator terbesar. Dari semua operator, tidak satupun yang memiliki sinyal yang <em>lumayan</em> kuat. Semuanya jauh di bawah lumayan. Telekomunikasi adalah salah satu pilar utama untuk memajukan suatu provinsi. Bayangkan berapa rupiah yang rugi karena putusnya hubungan telekomunikasi! Dalam hal ini Gubernur Gorontalo wajib memerintahkan operator seluler untuk meningkatkan layanannya terutama penyediaan <em>sinyal </em>yang handal. Jika operator tetap tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat, maka Gubernur Gorontalo sebaiknya mengundang investor seluler lain untuk ikut bersaing di Gorontalo.</p>
<p>Infrastruktur lain menurut saya yang masih butuh perhatian gubernur adalah listrik. Dalam beberapa tahun terakhir PLN sebagai pemegang hak monopoli penyedia listrik telah memperluas cakupannya dengan memonopoli caci maki masyarakat Gorontalo. Masyarakat yang selama ini tidak pernah dipuaskan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah tidak mau menerima alasan dalam bentuk apapun. Yang mereka tahu adalah listrik jalan terus. Tugas Gubernur Gorontalo sebagai pelayan masyarakat adalah menyediakan listrik bagaimanapun caranya.</p>
<p>Terakhir yang penting menurut saya adalah BBM. Memasuki tahun 2012 ini, masyarakat Gorontalo masih dipusingkan dengan antrian BBM. Sekali lagi, berapa rupiah yang terbuang hanya karena harus menghabiskan beberapa jam untuk sekedar mengisi bensin? Lucunya lagi, bensin eceran bertebaran di mana-mana, bahkan di sekitar lokasi pom bensin. Aturan pelarangan pengisian jerigen tidak diindahkan oleh petugas pom bensin walaupun sudah dijaga oleh pihak kepolisian. Maklum yang jaga <em>Polisi Tidur</em>. Belum lagi para penjual bensin eceran secara kreatif telah menemukan cara pemasokan bensin tanpa melalui jerigen, misalnya dengan menampung sementara bensin yang akan dijual pada tangki motor mereka. Aturan pembatasan BBM bersubsidi harus diiringi dengan aturan ‘Pelarangan BBM Eceran’.</p>
<p>Gubernur Gorontalo berkewajiban untuk menyediakan dan meningkatkan infrastruktur-infrastruktur tersebut bagaimanapun caranya. Bukankah Anda dipilih untuk menggunakan segala daya upaya dalam rangka pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat? Jika diibaratkan Masyarakat Gorontalo adalah majikan, maka Gubernur Gorontalo adalah budak. Bukankah masyarakat yang menggaji gubernurnya? Sehingga apapun harus dilakukan Gubernur Gorontalo untuk melayani dan menyenangkan Masyarakat Gorontalo. Dan satu lagi, yang sering dilakukan oleh Kepala Daerah pada umumnya adalah penggunaan jalan raya seenaknya. Mengapa wibawa Bung Karno masih tetap terjaga sampai saat ini? Karena beliau menghormati rakyatnya. Beliau selalu menyapa rakyatnya. Selama ini kita lihat para Kepala Daerah dengan angkuh dan serakahnya menggunakan jalan umum. Biasanya dilengkapi dengan mobil patwal lengkap dengan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu. Kurang ajarnya lagi, masyarakat harus mengalah dan memberikan jalannya dipakai oleh Kepala Daerah ini. Lho, yang majikan siapa, yang budak siapa? Mending kalo kinerjanya sama cepatnya dengan mobilnya. Saya sangat mengharapkan Gubernur Gorontalo untuk tidak mempercepat mobilnya ketika melewati jalan rakyat. Lebih bagus lagi kalo kaca mobilnya terbuka sambil menyapa masyarakat. Jika itu yang dilakukan, saya pastikan wibawa Anda akan tetap terjaga sampai kapanpun. Bukankah ketika melewati <em>Shiratal Mustaqim </em>Anda tidak dijaga patwal? Jadi untuk apa kita arogan dalam menggunakan jalan di dunia, sementara kita tertatih-tatih ketika melewati <em>Sirathal Mustaqim</em>. Ingat, Gubernur Gorontalo tidak lebih hebat dan tidak lebih besar daripada Hitler, Mussolini, dan Khadafi. Dan di mana mereka sekarang? Mereka meninggalkan dunia ini tanpa membawa pasukannya apalagi hartanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2012/01/juara-2-andai-aku-menjadi-gubernur-gorontalo-gubernur-gorontalo-not-so-nice-job.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Menjalankan Pemilu</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2009/04/selamat-menjalankan-pemilu.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2009/04/selamat-menjalankan-pemilu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 06:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[SELAMAT KEPADA:

Rekan-rekan PNS beberapa Pemda di Gorontalo yang wajib KUNING.
Partai Kuning yang mendapatkan tambahan suara WAJIB dan GRATIS.

Semoga tetap tabah dan sabar. Jangan melawan. Ingat janji PNS, &#8220;akan menjilat sebasah-basahnya kepada atasan&#8221;!!!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">SELAMAT KEPADA:</p>
<ol style="text-align: center;">
<li>Rekan-rekan PNS beberapa Pemda di Gorontalo yang wajib KUNING.</li>
<li>Partai Kuning yang mendapatkan tambahan suara WAJIB dan GRATIS.</li>
</ol>
<p style="text-align: center;">Semoga tetap tabah dan sabar. Jangan melawan. Ingat janji PNS, &#8220;akan menjilat sebasah-basahnya kepada atasan&#8221;!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2009/04/selamat-menjalankan-pemilu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bung Serang Kembali!!!</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/12/mari-bung-serang-kembali.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/12/mari-bung-serang-kembali.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 06:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[akreditasi]]></category>
		<category><![CDATA[ichsan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[Setelah 3 pekan berturut-turut hari kerja diubah menjadi 7 hari sepekan, akhirnya sampailah kerjaan saya pada puncaknya. Penerimaan CPNS Departemen Agama. Kalau setahun lalu saya menjadi peserta, sekarang saya menjadi panitia penerimaan. Secara saya kerjanya di bagian Kepegawaian Kanwil Depag Gorontalo.
Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang UNG, saat ini saya malah datang dengan bukti yang lebih real lagi. Saat ini tahap penerimaan sudah mencapai pengumuman hasil seleksi berkas. Tidak sedikit yang kecewa karena sudah gugur lebih dulu, padahal masih di tahap berkas. Normalnya setiap orang akan berkata, &#8220;At least izinkan saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Setelah 3 pekan berturut-turut hari kerja diubah menjadi 7 hari sepekan, akhirnya sampailah kerjaan saya pada puncaknya. Penerimaan CPNS Departemen Agama. Kalau setahun lalu saya menjadi peserta, sekarang saya menjadi panitia penerimaan. Secara saya kerjanya di bagian Kepegawaian Kanwil Depag Gorontalo.</p>
<p style="justify;">Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang <a href="http://cendekia.web.id/2008/05/07/ung-universitas-nan-guok.html/">UNG</a>, saat ini saya malah datang dengan bukti yang lebih real lagi. Saat ini tahap penerimaan sudah mencapai pengumuman hasil seleksi berkas. Tidak sedikit yang kecewa karena sudah gugur lebih dulu, padahal masih di tahap berkas. Normalnya setiap orang akan berkata, &#8220;At least izinkan saya ikut ujian. Hasilnya baru setelah itu&#8230;&#8221;</p>
<p style="justify;">Yang menarik perhatian adalah banyaknya pelamar yang tidak memenuhi syarat karena alasan IJAZAH TIDAK TERAKREDITASI dan kebanyakan berasal dari UNIVERSITAS PADAHAL KURSUS, (Ichsan). Untuk Univ. Ichsan Sarjana Komputernya semuanya belum terakreditasi. STMIK Ichsan lebih parah lagi. Belum ada satupun prodi atau jurusan yang terakreditasi. Jangankan yang swasta, UNG saja masih banyak prodi yang belum terakreditasi. Saya rasa dr. Ivan, Bu Yuke tahulah itu&#8230;</p>
<p style="justify;">Berdasarkan JUKNIS (Petunjuk Teknis) yang kami terima dari Depag Pusat, untuk ijazah yang dikeluarkan tahun 2000 dan sesudahnya harus dari prodi yang terakreditasi. Sementara untuk ijazah yang dikeluarkan sebelum tahun 2000 harus berstatus DISAMAKAN.</p>
<p style="justify;">Pastilah keputusan ini membuat banyak pihak yang kecewa. Masih tebayang wajah2 muda adik-adik saya tersebut yang kecewa. Padahal dengan semangat 45 mereka mendaftar sebagai Sarjana Baru (Fresh Graduate). Tidak sedikit yang komplain sambil marah-marah. &#8220;Kenapa di Pemda boleh, di sini tidak?&#8221;</p>
<p style="justify;">Berhubung saya penganut sarkasme, saya menjawab dengan tidak mengait-ngaitkan juknis. &#8220;What the hell with that?!&#8221; Saya saja baru tau juknis setelah menjadi PNS. Maka saya jawab,</p>
<p style="justify;">&#8220;Pemda itu pusing kalo masyarakatnya banyak yang pengangguran, makanya dibolehin. Kalo di kita, untuk ngurusin departemen ini butuh orang yang BENAR-BENAR SARJANA.&#8221;</p>
<p style="justify;">Ini bukti wahai Saudara-saudaraku. Logikanya kalo pun komplain, komplainnya di Perguruan Tinggi yang meluluskannya. Kenapa gak diurus akreditasinya? Kalo belum memenuhi syarat akreditas, ya cari tahu WHY. Padahal mungkin saja para pelamar ini lebih pintar dari alumni PT yang terakreditas. Yang kasihan siapa? Yang dikorbankan siapa? Yang GUOBLOK siapa? dr. Ivan, &#8220;orang bodoh&#8221;, dan yang pernah kontra dengan saya di tulisan UNG, ada yang bisa jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut???</p>
<p style="justify;">Skali lagi, saya bicara berdasarkan BUKTI bukan HUANGANGO. Walaupun saya tidak bawa nama TUHAN tapi yang saya bicarakan ini adalah KENYATAAN. Menuju kesempurnaan tidak harus mengorbankan orang lain. Sebelum banyak komen yang tidak mengena, saya tegaskan kembali, saya tidak menyalahkan mahasiswanya, tapi institusinya. Jangan kayak tulisan UNG. Jelas2 judulnya Universitas Nan Guoblok, masa banyak yang berpikir saya &#8220;menggoblok-goblokkan&#8221; mahasiswanya. Ini IQ minus berapa???</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/12/mari-bung-serang-kembali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah Blog Ini diperlukan?</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/07/masihkah-blog-ini-diperlukan.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/07/masihkah-blog-ini-diperlukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 13:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[Dengan lahirnya forum, secara pribadi saya malah lebih sering nongkrongin forum daripada blog. Selain karena bisa OOT, di forum juga kita bisa menulis secara native. Artinya tidak diperlukan &#8220;bahasa menulis&#8221;. Yang saya takutkan, blog ini akan ditinggalkan. Orang-orang kalaupun punya ide, bakalan lari ke forum. &#8220;You don&#8217;t have to be a good writer when you&#8217;re there!&#8221; Bagaimana dengan cita-cita situs ini bisa menghasilkan dari segi materi?
Tanggung jawab admin kedua situs, yang kebetulan orangnya sama, bertambah lagi. Beliau harus bisa menilai kepantasan suatu tulisan berada di blog atau di forum. Atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan lahirnya <a href="http://cendekia.web.id/forum/">forum</a>, secara pribadi saya malah lebih sering nongkrongin forum daripada blog. Selain karena bisa OOT, di forum juga kita bisa menulis secara native. Artinya tidak diperlukan &#8220;bahasa menulis&#8221;. Yang saya takutkan, blog ini akan ditinggalkan. Orang-orang kalaupun punya ide, bakalan lari ke forum. <em>&#8220;You don&#8217;t have to be a good writer when you&#8217;re there!</em>&#8221; Bagaimana dengan cita-cita situs ini bisa menghasilkan dari segi materi?</p>
<p>Tanggung jawab admin kedua situs, yang kebetulan orangnya sama, bertambah lagi. Beliau harus bisa menilai kepantasan suatu tulisan berada di blog atau di forum. Atau beliau juga dapat membuat aturan seperti forum untuk opini, blog untuk fakta, atau sebaliknya.</p>
<p>Belum lagi jika forum sudah ramai dikunjungi. Seperti forum-forum besar lainnya, ketika anggotanya sudah banyak, maka keluar aturan yang melarang OOT. OOT biasanya terjadi pada komentar. Saling ledek, debat, dll. Dan seperti pengalaman saya pada forum2 sebelumnya, ketika keluar larangan OOT, jumlah postingan saya menurun drastis. <em>&#8220;Because rule is suck!&#8221;</em></p>
<p>Lalu, apa solusi agar kedua situs kita tersebut bisa tetap ramai dikunjungi? Kalo saya sih, pemberian batasan yang jelas. Kalo menurut admin? Menurut penulis lain? (kalimat tanya seperti ini harusnya di forum ya?)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/07/masihkah-blog-ini-diperlukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke mana SIC?</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ke-mana-sic.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ke-mana-sic.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 03:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Cendekia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Ngenalin situsnya cendekia ke bini, doi malah emosi.
&#8220;Koq nggak ada tentang SMU ICG?&#8221; katanya agak emosi.
&#8220;Ada koq di sejarah tentang ICG,&#8221; jawab saya.
Sempat diremehkan, nama MAN membalas SMU dengan telak. Dari nama situs sampai isi situs semuanya tentang MAN. Foto-foto yang dipampang, tentang profil, prestasi di tiap halaman situs semuanya tentang MAN ICG. Tampaknya SMU ICG benar2 sudah menjadi &#8220;sejarah&#8221; doang. Itu juga dalam bentuk silinder bertuliskan &#8220;SMU Insan Cendekia &#8211; Magnet School (1996)&#8221; yang nempel di porsi kecilnya sebuah panah yang melengkung dan membesar di akhirnya.
Hal ini ternyata tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="justify;">Ngenalin <a href="http://id.maninsancendekia.com">situsnya cendekia</a> ke bini, doi malah emosi.</p>
<p style="justify;">&#8220;Koq nggak ada tentang SMU ICG?&#8221; katanya agak emosi.</p>
<p style="justify;">&#8220;Ada koq di <a href="http://id.maninsancendekia.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=47">sejarah tentang ICG</a>,&#8221; jawab saya.</p>
<p style="justify;">Sempat diremehkan, nama MAN membalas SMU dengan telak. Dari nama situs sampai isi situs semuanya tentang MAN. Foto-foto yang dipampang, tentang profil, prestasi di tiap halaman situs semuanya tentang MAN ICG. Tampaknya SMU ICG benar2 sudah menjadi &#8220;sejarah&#8221; doang. Itu juga dalam bentuk silinder bertuliskan &#8220;SMU Insan Cendekia &#8211; Magnet School (1996)&#8221; yang nempel di porsi kecilnya sebuah panah yang melengkung dan membesar di akhirnya.</p>
<p style="justify;">Hal ini ternyata tidak hanya ditemukan di situs web. (Yah, nama webnya aja maninsancendekia, jadi wajarlah&#8230;) Jika kita berkunjung sebentar di gedung TU, piala2 yang terpajang di situ juga merupakan piala yang diraih oleh MAN. Mungkin juga majangnya pake sistem rekor. Jadi kalo rekornya udah terpatahkan ngapain juga dipajang, menuh-menuhin tempat aja.</p>
<p style="justify;">Saran saya di sekitar kampus ICG didirikan satu gedung yang dinamakan MUSEUM SIC. Mirip museum Real Madrid yang menyimpan trofi dan gambar sejak zaman belum ada tipi. Yah, sekedar buat mengenanglah&#8230;</p>
<p style="justify;">Masa pas alumnus SIC bikin aib doang baru dikenang kisahnya sampe di sepupu-sepupunya cleaning service???</p>
<p style="justify;">Suatu saat pas ada alumni SIC yang jadi pemimpin baru kita mati2an mengklaim bahwa dia lulusan ICG&#8230; Yang kayak gitu kan udah wajib di Indonesia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ke-mana-sic.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UNG (Universitas Nan Gu***ok?)</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ung-universitas-nan-guok.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ung-universitas-nan-guok.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 05:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu pengumuman kelulusan berkas CPNS Provinsi Gorontalo diumumkan. Nama saya tercantum di semua tempat yang saya lamar, Provinsi Gorontalo, Kota Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara (Gorut). Di Gorut data yang diumumkan lebih lengkap dari tempat lain. Selain nama dan nomor tes, juga dicantumkan IPK. Kaget saya melihat saingan saya untuk formasi Teknik Informatika di Gorut. Rata-rata IPKnya di atas 3,3. Bahkan yang tertinggi adalah seorang wanita yang IPKnya 3,85.
&#8220;She must be a God!&#8221;, kata saya.
Bayangkan saja untuk jurusan Teknik Informatika IPK seperti itu merupakan IPK Tuhan. Logikanya dia lebih pintar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari itu pengumuman kelulusan berkas CPNS Provinsi Gorontalo diumumkan. Nama saya tercantum di semua tempat yang saya lamar, Provinsi Gorontalo, Kota Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara (Gorut). Di Gorut data yang diumumkan lebih lengkap dari tempat lain. Selain nama dan nomor tes, juga dicantumkan IPK. Kaget saya melihat saingan saya untuk formasi Teknik Informatika di Gorut. Rata-rata IPKnya di atas 3,3. Bahkan yang tertinggi adalah seorang wanita yang IPKnya 3,85.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;She must be a God!&#8221;, kata saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan saja untuk jurusan Teknik Informatika IPK seperti itu merupakan IPK Tuhan. Logikanya dia lebih pintar dari Onno Purba, bahkan Dimitri Mahayana. Tapi siapa dia? Kenapa saya tidak mengenalnya? Usut punya usut ternyata dia adalah lulusan &#8216;Kampus Ijo&#8217;, Universitas Ichsan. Sontak saya tertawa terbahak-bahak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oalah&#8230;, ternyata lulusan kursus&#8230;&#8221;, lanjut saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-388"></span>Fakta IPK selangit ini bukan hanya terdapat di Ichsan yang merupakan universitas swasta, namun juga dapat ditemukan di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang katanya &#8216;paling universitas&#8217; di Gorontalo. Dari tiga teman saya yang menjadi dosen di UNG, menceritakan bahwa mereka dilarang oleh sang rektor untuk memberikan nilai &#8216;C&#8217; kepada mahasiswanya. Suatu saat saya dimintai tolong oleh teman saya untuk membuat soal Bahasa Inggris untuk mahasiswanya. Tentunya sebelum membuat soal kita harus mengetahui dulu apa yang telah diajarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;What? Kayak gini? Buat mahasiswa?&#8221;, tanya saya kaget. Sumpah, masih lebih sulit ketika saya di SMU Insan Cendekia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya. Dulu 2 kali gua ngambil Bahasa Inggris karena yang pertama dapat &#8216;D&#8217;, pas liat di sini&#8230;&#8221;, jawab teman saya yang merupakan lulusan universitas terkenal di Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Semudah gini aja sebenarnya paling tinggi dapat &#8216;D&#8217;&#8221;, lanjutnya yang kemudian membawa saya ke kisah tentang haramnya &#8216;C&#8217; di UNG.</p>
<p style="text-align: justify;">Wheeww&#8230; Kalo begini terus kapan adik-adikku yang sesuku ini bisa maju? Motif UNG dan universitas lain di Gorontalo jelas, mereka ingin output yang punya nilai tinggi tapi kualitasnya rendah (sebenarnya &#8216;rendah&#8217; bukan kata yang tepat untuk menggambarkan buruknya kualitas, karena &#8216;rendah&#8217; berarti masih ada, tapi tidak tinggi. Kira-kira ada yang lebih di bawah dari &#8216;rendah&#8217; gak ya?).</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hal ini dilakukan untuk mendapatkan akreditasi. Sekedar perbandingan, Teknik Informatika STT Telkom sejak saya masuk sampai sekarang akreditasinya &#8216;A&#8217;. Tapi dari segi nilai, Demi Allah, untuk mendapatkan nilai &#8216;C&#8217; saja susahnya minta maaf. Pernah untuk mata kuliah Artificial Intellegence (Kecerdasan Buatan) kami satu angkatan (2001) hanya satu orang yang mendapat nilai &#8216;A&#8217; dan satu orang yang mendapat &#8216;C&#8217;. Sisanya mendapat nilai &#8216;E&#8217;. Jika niatnya untuk mencari akreditas dan nama baik lulusan, maka &#8216;aib&#8217; seperti ini tidak mungkin terjadi. Namun, tetap saja, STT Telkom tidak peduli berapa lulusannya yang mendapat <em>cum laude</em>. Kenapa bisa &#8216;A&#8217;, karena akreditasi tidak hanya dilihat dari besar kecilnya IPK lulusan, tapi juga dilihat di mana saja lulusannya tersebar, dan posisi apa saja yang dipegang oleh lulusannya. Alumnus STT Telkom tersebar di perusahaan-perusahaan top nasional. Bahkan di sepanjang jalan Thamrin Jakarta, Anda dapat menemui lulusan STT Telkom di gedung-gedung yang tersebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya tujuan perguruan-perguruan tinggi di Gorontalo hanya agar menghasilkan lulusan yang minimal bisa lulus berkas pada penerimaan PNS. Lihat aja, lulusan-lulusannya tersebar di counter-counter HP atau di Supermarket, kalaupun ada yang di swasta hanyalah di perusahaan finance yang tidak membutuhkan skill khusus.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu waktu saya melihat transkrip nilai teman saya yang kuliah di UNG jurusan Teknik Informatika. Di transkrip itu terlihat ada sebuah mata kuliah yang bernama &#8216;Aplikasi Office (MS Word, MS Excel, Power Point)&#8217;. Mata kuliah tersebut diajarkan di kelas, ada SKSnya, bagi mahasiswa D3 Teknik Informatika. Mata kuliah yang sama yang diajarkan di SMU Insan Cendekia, sekarang MAN Insan Cendekia sejak kelas 1.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di mana-mana D3 lebih jago dari segi skill dibanding S1&#8243;, kata saya kepada teman saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Koq kalian malah lebih buruk dari SMU?&#8221;, lanjut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalo kamu kesulitan di mata kuliah ini, temui anak kelas 1 MAN Insan Cendekia. Saya yakin, mereka lebih tau&#8221;, saran saya kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa dapat disamakan dengan suatu produk. Konsumen yang membeli dan kemudian menggunakan produk ini adalah lapangan kerja atau perusahaan. Pabriknya adalah perguruan tinggi. Gimana produk mahasiswa di Gorontalo laku di pasaran, gak usah internasional dulu, nasional kalau pabrik yang memproduksinya GUOBLOK! Sampai kapan SDM Gorontalo akan terus dipandang remeh oleh daerah lain? Kapan perguruan tinggi di Gorontalo, khususnya UNG sebagai leader, lebih berkonsentrasi untuk mendidik masyarakat dan menghasilkan SDM berkualitas ketimbang mengejar KEHORMATAN SEMU?</p>
<p style="text-align: justify;">Tolonglah Pak Rektor dan pejabat-pejabat UNG, saya bukan antipati dan menganggap remeh, tapi Anda sendiri yang meremehkan diri sendiri. Rasanya BERDOSA jika saya tidak mengganggap remeh universitas Anda dan lulusan Anda. Andalah pemimpin dari sekolah tinggi di Gorontalo. Kan demi kemajuan daerah kita juga. Please, fokus untuk SDM Gorontalo, jangan fokus untuk belajar nyetir mobil PLAT MERAH Anda saja! Jangan nodai perjuangan Bapak Nani Tuloli, Ibrahim Polontalo, dan kawan-kawannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar, maafkan Bapak kami Nelson Pomalingo, dan staf-stafnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/05/ung-universitas-nan-guok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>74</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rusuh Pilwakot</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2008/04/rusuh-pilwakot.html</link>
		<comments>http://www.cendekia.web.id/2008/04/rusuh-pilwakot.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 03:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Qoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Gorontalo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Sempet kaget pas nonton berita kantor KPU diserang ama massa pendunkung AW Thalib atau lebih dikenal &#8216;AW Thalib Fans&#8217; beberapa pekan lalu. Hebring!!! Udah bisa demo dan ngancurin kantor. Gini, gua mongajak itung-itungan nih&#8230;
Tau gak, kantor kelurahan yang kecil, anggaran perawatan untuk tiap tahunnya rata-rata Seratus Juta Rupiah. Minimal lho&#8230; Semua gedung pemerintah seperti itu. Apakah yang bisa diperbaiki dengan seratus juta di Gorontalo? Jawabnya adalah, bikin gedung baru. Kebayang kan duitnya lari kemana? Skarang ngoni rusak. Kebayang gak berapa biaya perbaikan untuk kantor KPU? Anggran pemeliharaan yang gak harus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sempet kaget pas nonton berita <a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/03/20/15531636/jago.ditolak.kantor.kpu.dirusak" target="_blank">kantor KPU diserang</a> ama massa pendunkung AW Thalib atau lebih dikenal &#8216;AW Thalib Fans&#8217; beberapa pekan lalu. Hebring!!! Udah bisa demo dan ngancurin kantor. Gini, gua mongajak itung-itungan nih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tau gak, kantor kelurahan yang kecil, anggaran perawatan untuk tiap tahunnya rata-rata Seratus Juta Rupiah. Minimal lho&#8230; Semua gedung pemerintah seperti itu. Apakah yang bisa diperbaiki dengan seratus juta di Gorontalo? Jawabnya adalah, bikin gedung baru. Kebayang kan duitnya lari kemana? Skarang ngoni rusak. Kebayang gak berapa biaya perbaikan untuk kantor KPU? Anggran pemeliharaan yang gak harus aja dikorupsi, apalagi pas ada momen kaya&#8217; gini. Begh! Asli, where&#8217;s your brain?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-375"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Gua sih gak nuduh KPUD korup. Gua juga punya temen lho yang kerja di situ, cuma tau sendiri kan gimana kewajiban PNS Republik Indonesia? Minimal korupsi waktu. Selebihnya? Elu pikir aja, yang gak diminta saja bisa ditilep, apa lagi yang diminta. Anggarannya dari mana Mas? Kalo dari kantong pegawai KPU mah aing ikhlas-ikhlas aja. Itu duit buat benerin kantor yang kalian rusak asalnya dari kalian juga yang masuk kas daerah, entah dalam bentuk APBD or whatever it called. Trus nanti pas ketauan duit rakyat dikorupsi, pada demo lagi&#8230; Ingat, kejahatan ada bukan hanya karena niat pelakunya! Kalo gak mau duitnya dikorupsi, jangan bikin celah dong! Yang jujur aja bisa kegoda kalo liat dana segitu banyak dan berlebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Come on, masyarakat Gorontalo, benahi diri.. Masih banyak hal positif yang belum kita tiru dari daerah lain, jangan langsung nyalip niruin rusuh pilkada yang emang lagi ngetrend di tiap daerah. Daerah lain boleh aja rusuh. Wong daerahnya gede koq. Suku-sukunya campur aduk. Gorontalo? Satu suku masih aja rusuh. Yang demo sama pegawai KPUnya kalo ditarik silsilah keluarga pasti nyambung. Minimal temennya temen. Semua orang Gorontalo pasti punya pengalaman yang membuktikan kalo orang Gorontalo itu pasti nyambung. &#8220;Bo kalo motelusuri bae-bae, samua orang gorontalo itu baku tau.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo emang gak dicalonin, terimalah dengan ikhlas. Rasul bilang kekuasaan itu gak boleh diminta, apalagi dituntut kaya&#8217; gini. Kan bisa jadi opposan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi ada udang di balik batu kiapa dia tolak ini, Pakuni&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Let&#8217;s say that KPU curang. Suda jo baku-baku hitung ulang yang di atas wa, KPU yang curang, kong torang le yang dapa dosa? Apa depe beda? Dua-dua maso neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo tida bisa maso di hati, kase maso di otak. Cuma binatang yang nya ada dua-dua.</p>
<p style="text-align: justify;">Stez Love Hulonthalo&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.cendekia.web.id/2008/04/rusuh-pilwakot.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

