Home » Catatan Ringan, Seputar Gorontalo

Juara 1 Andai Aku menjadi Gubernur Gorontalo: “Mimpiku untuk Hulonthalo”

, 12 Januari 2012 One Comment

Dibawah ini merupakan tulisan yang menjadi pemenang pertama untuk lomba Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo, oleh Alfian Nangili.

Sebelum saya benar – benar menjadi Gubernur Gorontalo, maka ada banyak persoalan yang sudah harus saya selesaikan. Diantara berbagai macam persoalan itu adalah listrik yang mirip lampu diskotik, air bersih yang berwarwa coklat, jalan umum yang banyak jerawat, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang setengah hati, penegakan hukum yang tebang pilih dan seluruh kebutuhan serta fasilitas rakyat yang memang sudah menjadi hak mereka yang sudah dirampas dan diperkosa oleh para penguasa.

Nah, jika saya dapat menyelesaiakan satu saja persolan diatas, barulah saya pantas untuk mewujudkan mimpi menjadi Gubernur Gorontalo.

Mengapa demikian ? ( Tanya kenapa ).
Anda mungkin bertanya, bagaimana mungkin melakukan itu sedangkan saya bukan siapa siapa.

Ingat…! Soekarno dulu bukan siapa – siapa, tetapi berkat pengabdian dan jasanya maka sampai saat ini namanya tetap dikenang dan dibanggakan. Prinsipnya, bekerja dulu barulah meminta. Sebab Pemimpin adalah mereka yang telah lama melalui proses belajar mensejahterakan sesama sebelum ia disejahterakan.

Singkatnya ;

Tidak ada yang pantas diangkat menjadi pemimpin kecuali mereka yang telah berjasa dan membuktikan visi misinya, jauuuuuuuuuh sebeum dia menjadi pemimpin.

Olehnya Terlepas dari berbagai macam persoalan dan keluhan klasik di atas maka saya mempunyai sebuah mimpi dan mimpi itu akan Insya Allah saya wujudkan jika saya telah menjadi Gubernur Di Gorontalo ini.

Salah satu Diantara banyak mimpi itu ada satu yang ingin saya wujudkan bila saya menjadi Gubernur Gorontalo.

Yaitu : Filosofi adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah harus benar – benar dibuktikan dan diterapkan.

Berangkat dari kepedulian saya terhadap generasi muda Gorontalo yang saat ini sepertinya hidup jauh dari Agama.

Percaya atau tidak, 6 hari yang lalu anda bisa melihat pada perayaan Pesta Kembang Maksiat, Malam Pelepasan Iman, Yang dimeriahkan oleh syetan – syetan dan disponsori oleh Iblis, Agama ditinggalkan, Tuhan Dilupakan. Itulah malam Pergantian Tahun alias malam tanggal satu.

Inilah fakta …! Sekali lagi Ini nyata terjadi, bukan karangan saya semata. Tak perlu rasanya saya ceritakan bagaimana kronologi perayaan menyimpang dan apa saja yang sudah terjadi pada perayaan tradisi kafir ini. Yang jelas, esok paginya sampah berserakan dan jalanan pun menjadi tempat tidur bagi mereka yang mabuk maksiat semalam.

Lalu Solusinya Apa ?

Jika memang pemerintah ingin menggelar kegiatan Keagamaan, maka larang keras setiap perayaan yang dapat menggangu . Kalaupun tidak maka buatlah acara yang mempunyai nilai – nilai positif yang dapat membendung perbuatan – perbuatan yang tidak terpuji. Jangan mengkolaborasikan antara kemunkaran dan kebathilan. Memang harus disadari sulit untuk membendung animo masyarakat yang sudah mendarah daging ini, tetapi apakah kita harus membiarkan ini berlangsung samapi ke anak cucu kita ?
Jika bukan kita, maka siapa lagi dan kalu bukan sekarang maka kapan lagi.

Selanjutnya, Akhlak dari generasi muda kita makin hari sudah semakin mencemaskan. Betapa tidak, makian dan cacian seolah menjadi hiasan bibir. Ini hanyalah contoh kecil, tetapi ingat semua masalah besar itu awalnya dari persoalan – persolan yang kecil. Dan sebenarnya masih banyak lagi persolan besar yang sama bahayanya dengan hal itu. Misalnya pergaulan bebas, minuman keras, narkoba dan lain sebagainya.

Solusinya apa ? Berikan Pemahaman Ilmu Agama yang maksimal mulai dari Taman Kanak – kanak sampai perguruan tinggi. Pertegas saknsi hukum untuk setiap pelanggaran. Itu saja…

Kedua hal ini yang menurut saya saat ini dianggap perlu diwujudkan oleh seorang Pemimpin di Gorontalo. Anda mungkin bertanya…..

mengapa hanya persoalan Agama dan Generasi muda yang jadi objek permasalahnnya ?

bagaimana dengan problematika hidup rakyat yang lainnya yang belum terselesaikan ?

Apakah dengan begitu Gorontalo bisa maju dan dikenal oleh dunia ?

Jawabannya :
- Bila setiap pemuda – pemudi Gorontalo berakhlak baik, saya yakin 5,10,20 tahun yang akan datang tidak akan ada Anggota Legislatif yang berkelahi bahkan saling mengumpat pada saat rapat di DPR.
- Bila setiap orang faham hukum Agama, maka walaupun setiap sudut Kota gelap dimalam hari, saya yakin tidak akan akan namanya prostitusi, perjudian dan sejenisnya.
- Bila setiap Aparatur Negara memiliki sopan santun dan akhlak yang baik, maka saya yakin KOTAK SARAN dari Rumah sakit, Kantor kelurahan, Kantor Kecamatan, PLN, PDAM, dan sebagainya tidak akan penuh dengan keluhan/kritikan akan BURUKNYA PELAYANAN TERHADAP RAKYAK MISKIN.
- dan banyak lagi, yang intinya mau jadi Gorontalo Kedepan tergantung dari bagaimana rakyatnya mempraktekkan filosofi “adat bersendi sara, sar bersendi Kitabullah”

Kesimpulannya :

Jika saya menjadi Gubernur Gorontalo saya akan mewujudnyatakan Fiosofi “Adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah” bukan hanya sebagai slogan dari daerah yang di juluki Serambi Madinah tetapi benar – benar dilakukan dan kehidupan sehari – hari maka saya yakin dan percaya Semua Problematika Hidup Rakyat Gorontalo Akan Mudah Terselesaikan.
Jika saya menjadi Gubernur Gorontalo Saya akan memperbaiki moral dan merangkul Para Generasi Gorontalo Muda agar terlibat dalam segala aspek kehidupan sebab Jika kita sudah tidak dapat menghentikan kemunkaran yang dibuat para pendahulu kita, maka cegahlah anak cucu kita , dan dimana – mana Hancurnya Sebuah Negara Dimulai Dari Rusaknya Moral Dari Generasi Muda.
Itulah Mimpi yang akan ku buat menjadi kenyataan Jika Aku Menjadi Gubernur Gorontalo.

Sumber: http://www.radar-gorontalo.co.cc/2011/10/mimpiku-untuk-hulonthalo.html

RSS feed | Trackback URI

1 Komentar »

Komentar by sitti aisjah
2012-01-25 20:44:40

sangat mendukung dengan mimpi anda, mudah-mudahan juga menjadi mimpinya pemimpin yg sekarang hingga dia terbangun

 
Nama (wajib)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Komentar Anda (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.