<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Meaning Definable by Context</title>
	<atom:link href="http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html</link>
	<description>Berbagi cerita berbagi berita dan berkarlota</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 06:24:46 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Ahmad H</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2037</link>
		<dc:creator>Ahmad H</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 05:46:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2037</guid>
		<description>Sama-sama Yahya, semoga Allah senatiasa membimbing kita, sehingga tetap dalam ridlohNya. Semoga kita senantiasa Allah berikan ketajaman dan ketaatan hingga kita semua makin dapat merasakahn indah dan Nikmatnya Al- Islam yang telah diturunkan sejak Nabi Adam AS, hingga Ibrahim AS, serta seterusnya pada Nabi Isa AS dan terakhir Muhammad SAW.  
Salam untuk semua komunitas ini,khususnya alumni ICG, semoga semakin dapat saling memberi nasihat dengan kebaikan dan pemahaman. Semoga kita dijauhkan dari emosi(marah dan keras) dalam membawakan kebenaran Al-Islam. Jangan sampai indah dan dalamnya makna Islam kita rusak dengan perilaku kita yang tidak terkontrol. Kontrol kita adalah Islam maka bawalah Islam dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya sehingga dapat mendekati baik dan indahnya Islam yang sesungguhnya. Apabila ada perilaku salah dari kita dan umat Islam lainnya, jangan kita cepat-cepat generalisasikan kepada Al-Islamnya. Islam sungguh-sungguh jauh sangat mulia dibanding dari apa yang dapat kita tampilkan dari perilaku kita sebagai umat Islam.Kita adalah Islam, namun Islam jauh lebih agung dari kita.Karena itu bila ada keraguan dalam hati kita mari kita kembali memperdalam Al-Qur&#039;an dan Al-Hadist, selanjutnya kita minta bantuan kepada Ahlinya untuk menjelaskan lebih lanjut isinya untuk menjawab keraguan kita.Jangan Islam hanya kita simpulkan dari pikiran kita yang masih dangkal, ragu dan penuh emosi serta ketergesah-gesahan. Saya ingat, dulu pernah memberi pelajaran pada kalian tentang logika, ada yang kita sebut dengan generalisasi tergesa-gesa.Itu hanya akan membawa kesimpulan yang tidak tepat.  Ujilah premis major dan minornya sebaik-baiknya, dan gunakanlah prosedur berpikirnya secara tepat, apa itu silogisme, induksi, deduksi atau yang lainnya, semoga kita termasuk golongan yang benar cara berpikirnya. Allahlah yang dapat membimbing. kembalikan kepadaNya harapan dan pertolongan, agar kita dapat termbimbing dan tertolong.Amin Ya..Robbal&#039;alamin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sama-sama Yahya, semoga Allah senatiasa membimbing kita, sehingga tetap dalam ridlohNya. Semoga kita senantiasa Allah berikan ketajaman dan ketaatan hingga kita semua makin dapat merasakahn indah dan Nikmatnya Al- Islam yang telah diturunkan sejak Nabi Adam AS, hingga Ibrahim AS, serta seterusnya pada Nabi Isa AS dan terakhir Muhammad SAW.<br />
Salam untuk semua komunitas ini,khususnya alumni ICG, semoga semakin dapat saling memberi nasihat dengan kebaikan dan pemahaman. Semoga kita dijauhkan dari emosi(marah dan keras) dalam membawakan kebenaran Al-Islam. Jangan sampai indah dan dalamnya makna Islam kita rusak dengan perilaku kita yang tidak terkontrol. Kontrol kita adalah Islam maka bawalah Islam dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya sehingga dapat mendekati baik dan indahnya Islam yang sesungguhnya. Apabila ada perilaku salah dari kita dan umat Islam lainnya, jangan kita cepat-cepat generalisasikan kepada Al-Islamnya. Islam sungguh-sungguh jauh sangat mulia dibanding dari apa yang dapat kita tampilkan dari perilaku kita sebagai umat Islam.Kita adalah Islam, namun Islam jauh lebih agung dari kita.Karena itu bila ada keraguan dalam hati kita mari kita kembali memperdalam Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadist, selanjutnya kita minta bantuan kepada Ahlinya untuk menjelaskan lebih lanjut isinya untuk menjawab keraguan kita.Jangan Islam hanya kita simpulkan dari pikiran kita yang masih dangkal, ragu dan penuh emosi serta ketergesah-gesahan. Saya ingat, dulu pernah memberi pelajaran pada kalian tentang logika, ada yang kita sebut dengan generalisasi tergesa-gesa.Itu hanya akan membawa kesimpulan yang tidak tepat.  Ujilah premis major dan minornya sebaik-baiknya, dan gunakanlah prosedur berpikirnya secara tepat, apa itu silogisme, induksi, deduksi atau yang lainnya, semoga kita termasuk golongan yang benar cara berpikirnya. Allahlah yang dapat membimbing. kembalikan kepadaNya harapan dan pertolongan, agar kita dapat termbimbing dan tertolong.Amin Ya..Robbal&#8217;alamin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dunggio</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2026</link>
		<dc:creator>Dunggio</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 16:21:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2026</guid>
		<description>comment ini saya khususkan untuk mengklarifikasi comment2 saya sebelumnya yang mungkin sedikit agak &quot;aneh&quot; yang khusus saya tujukan buat Dini, Pak Ahmad dan juga K hasan. 
Saya secara pribadi minta maaf ke Dini atas commentku yang mungkin agak menyulut sedikit emosix Dini. 
Dan saya ucapkan banyak2 terima kasih untuk Pak Ahmad dan K hasan yang udah mau bersabar untuk comment saya yang agak amburadul.
Pissssssss......:) :) :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>comment ini saya khususkan untuk mengklarifikasi comment2 saya sebelumnya yang mungkin sedikit agak &#8220;aneh&#8221; yang khusus saya tujukan buat Dini, Pak Ahmad dan juga K hasan.<br />
Saya secara pribadi minta maaf ke Dini atas commentku yang mungkin agak menyulut sedikit emosix Dini.<br />
Dan saya ucapkan banyak2 terima kasih untuk Pak Ahmad dan K hasan yang udah mau bersabar untuk comment saya yang agak amburadul.<br />
Pissssssss&#8230;&#8230;:) <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.cendekia.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hasan</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2013</link>
		<dc:creator>hasan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 14:19:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2013</guid>
		<description>Allah berfirman yg artinya: Apabila kalian berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lbh utama dan lbh baik akibatnya. {Q.S.An Nisaaâ€™:59}

ayat lain, &quot;Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaannya. Kemudian kepada Rob mereka tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan&quot; (Q.S Al-An&#039;am:108)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Allah berfirman yg artinya: Apabila kalian berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lbh utama dan lbh baik akibatnya. {Q.S.An Nisaaâ€™:59}</p>
<p>ayat lain, &#8220;Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaannya. Kemudian kepada Rob mereka tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan&#8221; (Q.S Al-An&#8217;am:108)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ahmad H</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2011</link>
		<dc:creator>Ahmad H</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 12:52:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2011</guid>
		<description>Benar Yahya,Kebenaran memang hanya milik Allah, karena Allahlah yang maha tahu dan Allahlah yang menciptakan semuanya sehingga Allah Maha Tahu, sedangkan manusia serba terbatas.
Namun demikian bukan berarti &quot;yang benar bisa aja salah. kalo yang benar bisa salah berarti yang salah harusnya bisa dibenarkan&quot; (kutipan dari Dunggio). 
&quot;Salah&quot; dan &quot;benar&quot; itu sendiri sebenarnya mutlak sifatnya, yang relatif sifatnya sehingga dapat berubah adalah yang kita anggap benar atau yang kita anggap salah, dengan kata lain adalah &quot;benar&quot; dan &quot;salah&quot; yang kita persepsikan dan bukan &quot;benar&quot; dan &quot;salah&quot; yang hakiki. Karena yang hakiki milik Allah pastilah tetap sifatnya.
Namun demikian bukan berarti anggapan atau persepsi salah ataupun benar milik seseorang dapat mudah diubah-ubah dalam pengertian yang salah dapat dibenarkan, sebab pengertian dapat berubah tidak identik dengan dapat diubah.Perubahan terhadap suatu persepsi seseorang dapat terjadi bila sudah ada pemahaman persepsi  yang berbeda dari persepsi sebelumnya oleh pemilik persepsi itu. Apalagi kalau persepsi itu sudah berupa kesimpulan hidup dan sebagainya.
Oleh karena itu yang dapat dilakukan bukan membenarkan dalam arti memperbaiki persepsi orang lain, tetapi lebih tepatnya kita perluas persepsi kita terhadap persepsi orang lain yang berbeda dengan kita itu, lalu kita sama-sama menguji dan merenungkan persepsi kita masing-masing, tentunya dengan instrumen bimbingan yang tepat dan kuat. Dari situlah akan muncul kesimpulan masing-masing orang dengan pemahaman yng penuh dan kuat akan mengubah atau tidak persepsinya. Orang lain tidak dapat mengubahnya.
Tugas manusia mencari kebenaran, oleh karena itu jangan berhenti dengan satu kebenaran yang telah kita temukan atau persepsikan. Dalami kebenaran yang kita persepsikan itu, perluas, dan diuji.... terus menerus sampai Allah memanggil kita. Itulah lagunya hidup seorang manusia. Perlu kita belajar dari Nabi Ibrahim AS, terus belajar sampai akhirnya beliau menemukan dienullah, Al-Islam, yang kemudian didalami oleh nabi-nabi penerusnya; Ismail, Ilyas,s.d.Isa AS dan terakhir Muhammad SAW. 
Kita teruskan minat belajar, kita sebar kasih sayang, agar semua orang bahagia.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Benar Yahya,Kebenaran memang hanya milik Allah, karena Allahlah yang maha tahu dan Allahlah yang menciptakan semuanya sehingga Allah Maha Tahu, sedangkan manusia serba terbatas.<br />
Namun demikian bukan berarti &#8220;yang benar bisa aja salah. kalo yang benar bisa salah berarti yang salah harusnya bisa dibenarkan&#8221; (kutipan dari Dunggio).<br />
&#8220;Salah&#8221; dan &#8220;benar&#8221; itu sendiri sebenarnya mutlak sifatnya, yang relatif sifatnya sehingga dapat berubah adalah yang kita anggap benar atau yang kita anggap salah, dengan kata lain adalah &#8220;benar&#8221; dan &#8220;salah&#8221; yang kita persepsikan dan bukan &#8220;benar&#8221; dan &#8220;salah&#8221; yang hakiki. Karena yang hakiki milik Allah pastilah tetap sifatnya.<br />
Namun demikian bukan berarti anggapan atau persepsi salah ataupun benar milik seseorang dapat mudah diubah-ubah dalam pengertian yang salah dapat dibenarkan, sebab pengertian dapat berubah tidak identik dengan dapat diubah.Perubahan terhadap suatu persepsi seseorang dapat terjadi bila sudah ada pemahaman persepsi  yang berbeda dari persepsi sebelumnya oleh pemilik persepsi itu. Apalagi kalau persepsi itu sudah berupa kesimpulan hidup dan sebagainya.<br />
Oleh karena itu yang dapat dilakukan bukan membenarkan dalam arti memperbaiki persepsi orang lain, tetapi lebih tepatnya kita perluas persepsi kita terhadap persepsi orang lain yang berbeda dengan kita itu, lalu kita sama-sama menguji dan merenungkan persepsi kita masing-masing, tentunya dengan instrumen bimbingan yang tepat dan kuat. Dari situlah akan muncul kesimpulan masing-masing orang dengan pemahaman yng penuh dan kuat akan mengubah atau tidak persepsinya. Orang lain tidak dapat mengubahnya.<br />
Tugas manusia mencari kebenaran, oleh karena itu jangan berhenti dengan satu kebenaran yang telah kita temukan atau persepsikan. Dalami kebenaran yang kita persepsikan itu, perluas, dan diuji&#8230;. terus menerus sampai Allah memanggil kita. Itulah lagunya hidup seorang manusia. Perlu kita belajar dari Nabi Ibrahim AS, terus belajar sampai akhirnya beliau menemukan dienullah, Al-Islam, yang kemudian didalami oleh nabi-nabi penerusnya; Ismail, Ilyas,s.d.Isa AS dan terakhir Muhammad SAW.<br />
Kita teruskan minat belajar, kita sebar kasih sayang, agar semua orang bahagia&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dini ayu</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2010</link>
		<dc:creator>dini ayu</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 11:26:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2010</guid>
		<description>Jelas donk kebenaran milik Allah. Klo manusia mah gudangnya &quot;salah&quot;. Makanya knp ada hukum2 dlm islam, ada peraturan dlm Al Quran. Supaya manusia punya pedoman untuk hidup. Biar manusia dgn otaknya yg DEWASA bisa mentukan SIKAP. Bisa bertindak manusiawi, sesuai kodrat, dan insya Allah berada pd pemahaman &quot;kebenaran&quot; yg hakiki. Jadi kak... ga perlu repot2 muter otak mikirin konsep kebenaran, yg menurut kak bisa aja salah, atau kesalahan bisa aja dibenarkan.... Krn menurut otak simple saya (yg alhamdulillah udh doktrin guru2 cendekia) di islam ga ada yg dibolak-balik gitu fakta &amp; sejarahnya. Jelas Al qurannya, al fatiha-nya, dan sholatnya. Ga ada versi perjanjian lama ato baru.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jelas donk kebenaran milik Allah. Klo manusia mah gudangnya &#8220;salah&#8221;. Makanya knp ada hukum2 dlm islam, ada peraturan dlm Al Quran. Supaya manusia punya pedoman untuk hidup. Biar manusia dgn otaknya yg DEWASA bisa mentukan SIKAP. Bisa bertindak manusiawi, sesuai kodrat, dan insya Allah berada pd pemahaman &#8220;kebenaran&#8221; yg hakiki. Jadi kak&#8230; ga perlu repot2 muter otak mikirin konsep kebenaran, yg menurut kak bisa aja salah, atau kesalahan bisa aja dibenarkan&#8230;. Krn menurut otak simple saya (yg alhamdulillah udh doktrin guru2 cendekia) di islam ga ada yg dibolak-balik gitu fakta &amp; sejarahnya. Jelas Al qurannya, al fatiha-nya, dan sholatnya. Ga ada versi perjanjian lama ato baru.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Dunggio</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2006</link>
		<dc:creator>Dunggio</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 09:16:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2006</guid>
		<description>&quot;kebeneran sesungguhnya milik Allah&quot; 
kalo kebenaran sesungguhnya itu hanya milik Tuhan, berarti kebenaran yang kita pahami adalah kebenaran yang relatif. Artinya yang benar bisa aja salah. kalo yang benar bisa salah berarti yang salah harusnya bisa dibenarkan.
pissss.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;kebeneran sesungguhnya milik Allah&#8221;<br />
kalo kebenaran sesungguhnya itu hanya milik Tuhan, berarti kebenaran yang kita pahami adalah kebenaran yang relatif. Artinya yang benar bisa aja salah. kalo yang benar bisa salah berarti yang salah harusnya bisa dibenarkan.<br />
pissss&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hasan</title>
		<link>http://www.cendekia.web.id/2010/03/meaning-devainable-by-context.html/comment-page-1#comment-2002</link>
		<dc:creator>hasan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 08:46:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=1074#comment-2002</guid>
		<description>Definable or Devinable?

terima kasih pak atas pencerahannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Definable or Devinable?</p>
<p>terima kasih pak atas pencerahannya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

