Memimpin di saat Muda, WHY NOT?
Ditulis oleh : Iswahyudi Mertosono
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, begitu banyak pelajaran yang patut diambil hikmah sebagai referensi untuk membangun peradaban yang lebih baik. Salah satu aspek peradaban manusia adalah adanya pemimpin-pemimpin peradaban yang melakukan quantum leap pada banyak bidang yang kemudian mengantarkan manusia pada peradaban baru yang lebih baik. Para pemimpin ini terlahir dalam berbagai kondisi dan zamannya masing-masing dengan semua boundary condition yang secara alamiah terbentuk sebagai proses dari peradaban manusia itu sendiri. Hal menarik dari sejarah para pemimpin ini adalah masa-masa kepemimpinannya berada pada saat mereka masih muda. Sejarah mencatat nama-nama seperti Napaleon Bonaparte, Bill Gates, Habibie, Soedirman adalah orang-orang yang memimpin bidangnya masing-masing di saat mereka masih muda, malah sebagian dari mereka terbilang masih sangat muda. Pertanyaannya apa sebenarnya yang membuat orang-orang besar ini sudah menjadi pemimpin di saat usia mereka masih muda.
Dalam salah satu 10 MUST READS HARVARD BUSINESS REVIEW (HBR) Daniel Goleman menuliskan hasil penelitiannya tentang WHAT MAKES A LEADER? Yang kemudian menjadi Best of HBR 1998. Penelitian ini berisi tentang hal-hal mendasar yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin yang bukan saja menjadi LEADER, BIG LEADER tetapi bisa mencapai apa yang di sebut sebagai GREAT LEADER. Dalam tulisannya Goleman sebagai orang yang mengungkapkan istilah EMOTIONAL INTELLIGENCE pertama kali di khalayak umum menyatakan bahwa KEPINTARAN, DETERMINASI, KETAHANAN, dan VISI tidaklah cukup menjadikan seseorang menjadi seorang pemimpin, tetapi GREAT LEADER sejati adalah orang yang memiliki EMOTIONAL INTELLIGENCE yang tinggi. disinilah letak keunggulan para GREAT LEADER melewati sekat-sekat waktu sehingga mereka dapat meluncur dengan kecepatan cahaya dan merubah diri mereka menjadi GREAT LEADER saat usia mereka masih muda.
Lebih lanjut lagi Goleman menjelaskan hasil risetnya bahwa tingginya tingkat KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) para GREAT LEADER meliputi penguasaan yang sangat baik terhadap 5 hal mendasar dalam kecerdasan emosional yaitu KESADARAN PRIBADI (SELF-AWARENESS), KONTROL DIRI (SELF-REGULATION), MOTIVASI (MOTIVATION), KEAHLIAN BERSOSIALISASI (SOCIAL SKILL), dan EMPATI (EMPATHY). Kelima hal inilah yang perlu dilatih untuk mentransformasikan diri kita menjadi orang-orang yang menjadi GREAT LEADER di saat usia kita masih muda.
Letak permasalahan beratnya seorang anak muda menjadi pemimpin adalah adanya stigma bahwa disaat usia muda tingkat kematangan emosional seseorang masih rendah sehingga kapabilitasnya dalam memimpin menjadi rendah, Sehingga pembenaran bahwa pemimpin adalah orang-orang yang memiliki kematangan emosi yang berbanding lurus dengan kematangan usia seseorang mendapat pembenaran yang sempurna yang kemudian berangsur-angsur menjadi premis yang mendarah daging dan sulit untuk dibantah. Goleman membenarkan bahwa tingkat kecerdasan emosional manusia meningkat dengan bertambahnya usia, hanya saja ini tidak berarti bahwa kecerdasan emosional bukan merupakan sesuatu yang bersifat GIVEN tetapi merupakan sesuatu yang bersifat LEARNABLE.
Hal ini lah yang dipaparkan oleh goleman dalam karyanya. Lebih lanjut Daniel Goleman menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki IQ dan technical skill yang mumpuni memiliki peluang untuk menjadi pemimpin dalam bidang tertentu, hanya saja tanpa kecerdasan emosional yang baik maka kedua kemampuan tersebut tidak akan mampu menjadikan seseorang berjulukan GREAT LEADER hal inilah kenapa kemudian EMOTIONAL INTELLIGENCE disebut oleh Goleman sebagai the sine qua non of leadership. Menjadi hal yang menarik kemudian adalah penjelasan yang diberikan Goleman tentang parameter ukur yang dapat kita gunakan untuk mengetahui seberapa besar kecerdasan emosional melekat pada diri kita. Dari kelima kemampuan mendasar dari kecerdasan emosional Goleman kemudian memberikan ciri-ciri mengenai kelima hal tersebut yaitu :
Self-Awareness: Percaya diri (Self confidence), Penilaian diri yang realistic (realistic self-assessment), memiliki kemapuan mengungkapkan dan menanggapi rasa humor.
Self-Regulation: Integritas (integrity), terbuka terhadap perubahan (openness to change), tidak terganggu dengan ambiguitas.
Motivation: kemampuan yang kuat untuk mengarahkan diri dalam mencapai tujuan (strong drive to achieve), optimistis walaupun menghadpi kegagalan, komitmen organisasi (Organizational commitment).
Emphaty: Ahli dalam menemukan dan membangun talenta, sensitifitas pada budaya yang berbeda, berorientasi pada pelayanan pelanggan.
Social Skill: efektif dalam memimpin perubahan, persuasif, ahli dalam membangun dan memimpin tim.
Hal-hal inilah yang harus kemudian diasah dan diperkuat oleh para kaum muda, sehingga kehandalan dalam memimpin menjadi paten pribadi seorang anak muda yang siap memimpin dengan melewati sekat-sekat umur, pengalaman dan budaya.
Inilah tulisan yang akan menjadi pengantar bagi tulisan saya mengenai kemampuan-kemapuan mendasar dari EMOTIONAL INTELLIGENCE yang dapat menghantarkan generasi muda menjadi seorang yang mendapat sandangan GREAT LEADER.












5 bidang ga masuk semua.. hahahhahaha
-Pengenalan Diri, sayapun tak mengenal diriku.. potensi diriku.. singkatnya aku tak kenal aku.
- kontrol diri, banyak hal yg saya tak bisa mengendalikan diri. termasuk sekarang. Maleees..
-Motivasi: cita-citapun tak jelas boro-boro punya motivasi.
-social skill: 100% introvert
kayaknya mr hasan terlalu merendah,,,, buat iyon, please don’t let someone ask you to fix his name,,,,
hahahahaha. .
im so sorry mr Is. .
Oke, I’ll make it corrrect
Generasi Ok, tulisannya Ok, ide memimpin, why not? Yang penting buatlah Indonesia terbebas dari segala tekanan dan tipu daya asing.Buatlah Indonesia mampu mandiri dan mampu bergaul ramah dengan yang lain secara seimbang,terhormat,dan bermartabat. Ciptakan Indonesia mandiri pada masa datang…..