Keluar dari Zona Nyaman Pendidikan Gorontalo
“Allah meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat (Al-Quran).” Begitulah lantunan Al-Quran mengingatkan kita pentingnya peningkatan mutu pendidikan. Kata-kata itu, nampaknya menjadi cambuk bagi negeri tercinta ini.
Coba kita belajar dari Malaysia. Malaysia beberapa puluh tahun lalu, berduyun-duyun memasuki wilayah Indonesia menuntut ilmu. Sekarang, hasilnya nyata sekali. Malaysia menjadi salah satu negara yang kualitas pendidikannnya dijagokan di beberapa Negara ASEAN. Indonesia pun patut mengakui keunggulan Malaysia.
Lantas apa yang mesti kita lakukan sebagai wujud perbaikan kualitas dunia pendidikan saat ini?
Keluar dari zona nyaman. Itulah salah satu jawaban konkrit saya. Maksud saya kita harus berani keluar dari kungkungan rasa nyaman dengan pendidikan sekarang ini. Kita harus mencari formula tepat, solusi-solusi, alternatif, dan kreatifitas untuk memajukan dunia pendidikan. Oleh sebab itu, kita harus berkaca kepada Negara-negara lain. Kita harus mulai belajar dari negara luar sana. Termasuk berguru kepada Malaysia.
Kenyamanan dan tak mau mengambil risiko adalah hal yang paling terburuk dalam perjalanan pendidikan kita. Kalau hal ini kita biarkan saja, sudah dapat dipastikan sistem pendidikan kita jalan di tempat.
Sebuah langkah yang tepat, apabila guru-guru Gorontalo (MAN Insan Cendekia) bersilaturahim ke Malaysia. Ini sebuah langkah membangun kreativitas, mencari solusi-solusi dan alternatif dunia pendidikan. Dan tentunya, langkah tersebut sebuah keputusan terbaik untuk keluar dari zona nyaman pendidikan di Gorontalo. Setidaknya, dengan adanya kunjungan ke Malaysia, guru-guru Gorontalo (MAN Insan Cendekia) saling bertukar informasi (Transfer knowledge). Dengan begitu, ada harapan besar sekembalinya dari Malaysia: segera mengubah cara pandang dunia pendidikan Gorontalo.
Antara Mencontek atau Inovasi
Sebagian orang beranggapan mencontek tidak baik. Itu benar jika kita kaitkan dengan pembelajaran siswa saat ujian. Akan tetapi, kalau kita melihat sudut pandang yang lain, justru mencontek melahirkan ide-ide kreatif. Itulah yang sering orang menyebutnya inovasi. Alias melahirkan produk baru daripada produk yang sudah ada. Hal ini sudah dilakukan oleh Jepang. Negara ini bukan sekedar mencontek tetapi melahirkan inovasi.
Kita patut mencontek dunia pendidikan Malaysia. Maksud saya bukan mencontek begitu saja, tapi juga melahirkan sistem dunia pendidikan yang memiliki terobosan-terobosan terbaru. Dengan kata lain, mencontek pendidikan Malaysia tak jadi soal. Yang terpenting, berusaha memberikan yang terbaru, berupaya keras mencari inovasi.
Harapan besar saya, kunjungan guru-guru Gorontalo (MAN Insan Cendekia) bukan sekedar mencontek tapi juga melahirkan inovasi-inovasi terbaru demi perbaikan kualitas pendidikan Gorontalo. Dengan begitu, beberapa tahun ke depan, tak menutup kemungkinan, Gorontalo menjadi pusat pendidikan di daerah Sulawesi.
Antara Gorontalo, Kabupaten Malang, dan Fokus Pendidikan
Kabupaten Malang ketika berbenah menjadi sebuah kota, melakukan perumusan cita-cita yang dikenal dengan motonya tribina citra kota malang, yaitu melakukan pemilihan prioritas pada tiga hal yang terdiri dari pendidikan, industri, dan pariwisata. Akhirnya, pilihan jatuh pada pendidikan. Malang pun menjadi kota yang sangat terkenal dengan pendidikannya.
Saat ini, Malang menjadi salah satu tujuan pendidikan. Keberhasilan tersebut memberikan efek bagi perekonomian kota seperti bertambahnya konsumsi barang dan jasa di sana. Kehadiran pelajar dan mahasiswa di Malang telah membawa uang-uang kiriman orang tua yang digunakan untuk kos, konsumsi barang dan jasa, biaya pendidikan, dan sebagainya.
Bagaiman dengan Gorontalo? Kalau pendidikan Gorontalo berhasil dan menjadi salah satu acuan dari daerah lain, besar kemungkinan perokonomian Gorontalo turut mengalami kemajuan. Tak ada yang mustahil! Selama kita terus berupaya mengembangkan inovasi terbaru dan terus membangun infrastruktur pendidikan yang merata di Provinsi Gorontalo, insya Allah, kemajuan pendidikan akan terwujud. MAN Insan Cendekia patut kita berikan penghargaan atas upaya kerasnya memperbaiki kualitas pendidikan. Semoga saja MAN Insan Cendekia tetap berbagi dengan sekolah-sekolah lain di Gorontalo. Saling bersenergi untuk memajukan pendidikan Gorontalo di masa sekarang dan akan datang. Amin.












Analisis yang simple, tapi 100% benar apa yang kk katakan.
Saya mendukung kakak kali ini.
Benar Sekali, apa yang kakak katakan perlunya kita sharing knowledge.
Ada satu catatan khusus buat kita semua. Ketika kita berbicara elearning dengan Guru-guru, yang ada di kepala mereka sampai saat ini (Saya nggak tau, kalo pulang dari malaysia pola pikirnya uda berubah apa belom) akan membuat siswa jadi malas masuk kelas.
Padahal kan konsep elearning sendiri, yaitu memudahkan kita dalam diskusi, sharing pengetahuan, dls.
Semoga pola Pikir Kuno spt ini dapat dihilangkan dari kepala para guru kita, sehingga mereka tidak ketinggalan mengenai TIK.
ho oh…!?!
ikutan setuju deh…
Men(y/c)ontek tidak salah, yang salah adalah menjiplak-membajak-piracy-danlainsebagainya…
You know how japan so become kompi/lepi leader pada dekade ini…
you know how Taiwan ekspand they market with teknologi…???
mereka men(y/c)ontek…!!! yup betul mereka menyontek…
dengan mengetahui basic/dasar, mereka melakukan inovasi dengan mimpi2 mereka…
Gorontalo, dari ketiga bidang yg ada sajikan ga ada yg bisa dijual.
but Potensi itu selalu ada…you know why Pa habibie pernah tinggal di Gtlo???, You know HB.Jasin???, gila ye banyak banget orang intelektual & cendekiawan dari gtlo, knp juga pendidikan gak bisa menjadi yg diunggulkan di gtlo, tanya kenapa,??? terlalu bangga kah gtlo dengan sejarahnya???, atau malah kita sudah melupakan apa yg menjadi dasar pijakan kita…
@ iyon : masa sih yon sampe segitunya, Lantas yg sedang kita lakukan di blog ini apa??? bukankah ini salah satu bentuk sharing???,
untuk yg berwenang dan berkewajiban…
pengen sih berkomntar banyak, tapi rasa nya bukan posisi ku, “krn aku tidak merasakan apa yg kau rasakan…!?!”
kecuali dirimu berkomentar… (apa ya 7an ‘a????) ^^
Kalo gak percaya hubungi Toar Hatibie di (toar@marionsoft.com) dan Abdurrahman Datau a.k.a Uun di (oen@marionsoft.com)
Tanyakan pada mereka tentang pernyataan yang iyon lontarkan benar ap nggaknya.
Ato, sms aja di 085218240484 -> Toar.
Biar puas dengerinnya. .
Sebenarnya ada satu masalah besar di IC itu. Mereka tidak mau membuka diri akan masuknya teknologi di Lingkungannya. Pimpinan udah berpikir jauh lebih maju, dan kembali pada user jika user tidak mau menggunakan jadinya kan sia2.
Sampai-sampai ada kalimat yang keluar dari guru-guru waktu itu, ketika kami sharing dengan mereka tentang pentingnya sistem informasi serta penerapan elearning di Sekolah. Mau tau??
niy sebagai berikut : “Kami ini cuma bisa bawa sepeda. Jadi jika pimpinan sediakan pesawat canggih boeing yang terbaru dan kami tidak bisa menggunakannya, gak ada gunanya toh?” Artikan saja sendiri. Kan kalo anak kecil di kasih mainan pasti dia akan belajar memainkan mainan tersebut, tentunya dengan bantuan orang yang ngerti dengan mainan itu.
Salah satu tujuan tersirat (Mungkin) dari guru-guru yang diikut sertakan ke Malaysia adalah untuk membuka mata mereka tentang peranan teknologi dan sistem informasi di dunia pendidikan. Soalnya list guru-guru yang diberangkatkan bareng unsur pimpinan itu adalah mereka-mereka yang menentang tentang ide pimpinan menerapkan teknologi dan sistem informasi di Sekolah kita.
*Piss*
dari Pak Rusdin sendiri punya solusi yang kongkrit mungkin??
yang kira2 bisa langsung diterapkan??
nalo, ti kk ada tugas k jkt tgl 20 juli – 3 agustus, titip wa….
wei.. nt pe no. hp berapa uwty (sms pa ane wa, te cacu tau ane pe no.) hehe…
eh kalo nt sempat, ajak jjs ti kk wa, skalian nt mo beli oleh2 for nt pe ponakan di sini uwty.. cewek om onal.
thx wa..
SCHOOL (not education-red) makes you LOOSER. So, bring it out and take it away..
Cacuuuuuuu… ti kk tdk jd ke jogja lansung, hehe… k jkt dulu baru singgah di brotoseno.. mo nyanyi di dego2 le yusuf kata nyambi minum es jeruk le Mak’e
Berbicara masalah pendidikan memang harus mempertimbangkan banyak aspek karena pendidikan memang menyangkut kehidupan segala aspek tersebut.
Berbicara pendidikan juga harus melihat jauh kedepan bukan hanya setahu,dua tahun atau lima tahun ke depan tetapi puluhan tahun kedepan…
kerena memang dampak yang di rasakan dari hasil pendidikan yang bagus membutuhkan waktu…
malaysia di awal tahun 1960 an masih banyak belajar ke indonesia…tapi mereka tetap konsisten untuk memajukan pendidikan mereka hasilnya tidak sampai setengah abad kiat udah jauh tertinggal dari mereka….
oleh karena itu menurut saya untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus mempunyai visi misi jauh kedepan…tidak berfikir jangka pendek…
Terima kasih banyak atas apresiasi teman-teman. Sungguh saya sangat berbahagia. Ternyata, teman-teman masih memiliki “impian” mendatang untuk Insan Cendekia dan kemajuan Pendidikan Gorontalo.
Saudara Marion: Mengenai penggunaan tekonologi seperti sistem informasi, e-learning, dll saya setuju. Bahkan, Skripsi saya sekarang ini bertopik Sistem Informasi Evaluasi Dosen. dan ini bisa diterapkan juga di MAN Insan Cendekia.
untuk semuanya: saya yakin sekali kita tetap berpikir positif terhadap aktivitas man insan cendekia (termasuk guru-gurunya). Lag-lagi, untuk mengubah paradigma berpikit memang membutuhkan waktu yang lama. Apalagi, meninggalkan kebiasaan lama, butuh waktu yang lama pula. Maka kungkungan guru-guru ke Malaysia salah satu langkah untuk membuka mata hati mereka, bahka kita harus maju..maju…maju dan maju secara konsisten.
Salam hangat,
Rusdin S. Rauf
mantan ketua OSIS tergalak