UNG (Universitas Nan Gu***ok?)
Hari itu pengumuman kelulusan berkas CPNS Provinsi Gorontalo diumumkan. Nama saya tercantum di semua tempat yang saya lamar, Provinsi Gorontalo, Kota Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara (Gorut). Di Gorut data yang diumumkan lebih lengkap dari tempat lain. Selain nama dan nomor tes, juga dicantumkan IPK. Kaget saya melihat saingan saya untuk formasi Teknik Informatika di Gorut. Rata-rata IPKnya di atas 3,3. Bahkan yang tertinggi adalah seorang wanita yang IPKnya 3,85.
“She must be a God!”, kata saya.
Bayangkan saja untuk jurusan Teknik Informatika IPK seperti itu merupakan IPK Tuhan. Logikanya dia lebih pintar dari Onno Purba, bahkan Dimitri Mahayana. Tapi siapa dia? Kenapa saya tidak mengenalnya? Usut punya usut ternyata dia adalah lulusan ‘Kampus Ijo’, Universitas Ichsan. Sontak saya tertawa terbahak-bahak.
“Oalah…, ternyata lulusan kursus…”, lanjut saya.
Fakta IPK selangit ini bukan hanya terdapat di Ichsan yang merupakan universitas swasta, namun juga dapat ditemukan di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang katanya ‘paling universitas’ di Gorontalo. Dari tiga teman saya yang menjadi dosen di UNG, menceritakan bahwa mereka dilarang oleh sang rektor untuk memberikan nilai ‘C’ kepada mahasiswanya. Suatu saat saya dimintai tolong oleh teman saya untuk membuat soal Bahasa Inggris untuk mahasiswanya. Tentunya sebelum membuat soal kita harus mengetahui dulu apa yang telah diajarkan.
“What? Kayak gini? Buat mahasiswa?”, tanya saya kaget. Sumpah, masih lebih sulit ketika saya di SMU Insan Cendekia.
“Iya. Dulu 2 kali gua ngambil Bahasa Inggris karena yang pertama dapat ‘D’, pas liat di sini…”, jawab teman saya yang merupakan lulusan universitas terkenal di Jawa.
“Semudah gini aja sebenarnya paling tinggi dapat ‘D’”, lanjutnya yang kemudian membawa saya ke kisah tentang haramnya ‘C’ di UNG.
Wheeww… Kalo begini terus kapan adik-adikku yang sesuku ini bisa maju? Motif UNG dan universitas lain di Gorontalo jelas, mereka ingin output yang punya nilai tinggi tapi kualitasnya rendah (sebenarnya ‘rendah’ bukan kata yang tepat untuk menggambarkan buruknya kualitas, karena ‘rendah’ berarti masih ada, tapi tidak tinggi. Kira-kira ada yang lebih di bawah dari ‘rendah’ gak ya?).
Mungkin hal ini dilakukan untuk mendapatkan akreditasi. Sekedar perbandingan, Teknik Informatika STT Telkom sejak saya masuk sampai sekarang akreditasinya ‘A’. Tapi dari segi nilai, Demi Allah, untuk mendapatkan nilai ‘C’ saja susahnya minta maaf. Pernah untuk mata kuliah Artificial Intellegence (Kecerdasan Buatan) kami satu angkatan (2001) hanya satu orang yang mendapat nilai ‘A’ dan satu orang yang mendapat ‘C’. Sisanya mendapat nilai ‘E’. Jika niatnya untuk mencari akreditas dan nama baik lulusan, maka ‘aib’ seperti ini tidak mungkin terjadi. Namun, tetap saja, STT Telkom tidak peduli berapa lulusannya yang mendapat cum laude. Kenapa bisa ‘A’, karena akreditasi tidak hanya dilihat dari besar kecilnya IPK lulusan, tapi juga dilihat di mana saja lulusannya tersebar, dan posisi apa saja yang dipegang oleh lulusannya. Alumnus STT Telkom tersebar di perusahaan-perusahaan top nasional. Bahkan di sepanjang jalan Thamrin Jakarta, Anda dapat menemui lulusan STT Telkom di gedung-gedung yang tersebar.
Sepertinya tujuan perguruan-perguruan tinggi di Gorontalo hanya agar menghasilkan lulusan yang minimal bisa lulus berkas pada penerimaan PNS. Lihat aja, lulusan-lulusannya tersebar di counter-counter HP atau di Supermarket, kalaupun ada yang di swasta hanyalah di perusahaan finance yang tidak membutuhkan skill khusus.
Suatu waktu saya melihat transkrip nilai teman saya yang kuliah di UNG jurusan Teknik Informatika. Di transkrip itu terlihat ada sebuah mata kuliah yang bernama ‘Aplikasi Office (MS Word, MS Excel, Power Point)’. Mata kuliah tersebut diajarkan di kelas, ada SKSnya, bagi mahasiswa D3 Teknik Informatika. Mata kuliah yang sama yang diajarkan di SMU Insan Cendekia, sekarang MAN Insan Cendekia sejak kelas 1.
“Di mana-mana D3 lebih jago dari segi skill dibanding S1″, kata saya kepada teman saya.
“Koq kalian malah lebih buruk dari SMU?”, lanjut saya.
“Kalo kamu kesulitan di mata kuliah ini, temui anak kelas 1 MAN Insan Cendekia. Saya yakin, mereka lebih tau”, saran saya kepadanya.
Mahasiswa dapat disamakan dengan suatu produk. Konsumen yang membeli dan kemudian menggunakan produk ini adalah lapangan kerja atau perusahaan. Pabriknya adalah perguruan tinggi. Gimana produk mahasiswa di Gorontalo laku di pasaran, gak usah internasional dulu, nasional kalau pabrik yang memproduksinya GUOBLOK! Sampai kapan SDM Gorontalo akan terus dipandang remeh oleh daerah lain? Kapan perguruan tinggi di Gorontalo, khususnya UNG sebagai leader, lebih berkonsentrasi untuk mendidik masyarakat dan menghasilkan SDM berkualitas ketimbang mengejar KEHORMATAN SEMU?
Tolonglah Pak Rektor dan pejabat-pejabat UNG, saya bukan antipati dan menganggap remeh, tapi Anda sendiri yang meremehkan diri sendiri. Rasanya BERDOSA jika saya tidak mengganggap remeh universitas Anda dan lulusan Anda. Andalah pemimpin dari sekolah tinggi di Gorontalo. Kan demi kemajuan daerah kita juga. Please, fokus untuk SDM Gorontalo, jangan fokus untuk belajar nyetir mobil PLAT MERAH Anda saja! Jangan nodai perjuangan Bapak Nani Tuloli, Ibrahim Polontalo, dan kawan-kawannya!
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar, maafkan Bapak kami Nelson Pomalingo, dan staf-stafnya…












haaa!! pake IPK ??? kalo disini IPK ibarat pakain dalam…. malu kalau sampai keliatan
LOL….
Bener banget, Dude!!! Malahan saya lebih milih ngeliatin pakaian dalam dari pada IPK…
Apapun yang kita ungkafkan suatu nilai atau IPK, tohhhhhhhh pada akhirnya kita selesai kuliah cari kerja juga
maaf sejelek apapun universitas tidak perlu di jelek jelekkan di dalam blog yang sudah banyak di akses oleh orang lain, hal tersebut hanya menghina daerah sendiri toh ada teman anda yang menjadi dosen di sini juga.
terus terang saya lulusan universitas negeri di jawa
wahh
kalau dengar dari uraian saudara kohar tadi sangat memprihatinkan kondisi pendidikan tinngi di gorontalo(khususnya UNG).
sampai rektor intervensi pemberian nilai…(dengan argumen subuah akreditasi).Sya rasa sekarang jamannya kebebasan tidak ada lagi sebuah intervensi…apalagi dilingkungan yang notabene intelektual,idealisme…yang pilarnya adalah kebebasan berfikir…
Saya sarankan aja kepada teman2 yang sedang mengajar di UNG untuk mengubah kebiasaan tersebut…apa yang bisa di perbuat untuk sebuah kemajuan gorontalo khususnya bidang pendidikan maka lakukanlah…jangan ragu…
Tanggung jawab itu sekarang ada di kalain yang sekarang mengabdi di UNG…walaupun kita semua sebenarnya punya tanggung jawab untuk dunia pendidikan gorontalo…
Weleh-Weleh…
ternyata terjadi juga di Gorontalo…
ko ya kayak jamur toh yg seperti ini…
Seperti menanam Bom waktu dalam tubuh sendiri…
alih-alih mengejar sebuah nama kebesaran eh malah membunuh diri sendiri secara perlahan…
Dasar Politik…
OIa di bawah nya rendah ada Bawah…
di bawahnya bawah ada Dasar…
Setelah Dasar ga tw lagi…
oooo itu TK aka Tmn Kanak2…
dibawahnya lagi yo Playgroup….
ke bawah lagi….
yo wes lah sa’ karep mu dewe…
(^_^)
Seandainya UNG tarafnya lebih baik,
Ngapain pak Rektor menyekolahkan anaknya dia
yang lulusan Insan Cendekia harus Jauh-jauh ke Malaysia,
Jika di UNG bisa dapat nilai A dengan mudah
(^_^)V
Ada sedikit Cerita mengenai D3 Teknik Informatika UNG.
Hampir Seluruh Karyawan Insan Cendekia Gorontalo, mereka sekolah Disana ngambil Teknik Informatikanya. .
Ini sebuah wacana aja, mereka waktu itu ngomong am diriku bahasanya tinggi banget mulai dari bahasa anak Jaringan ampe bahasa Pemrograman, sampe2 diriku berpikir akulah orang terbodoh diantara komunitas mereka ketika diskusi.
Tapi kebobrokan itu keliatan sudah ketika aku nyoba ngetes mereka dengan pertanyaaan “Kalau dalam Jaringan 1.1.1.0/24 itu artinya apa ya?” harusnya artinya ada 255 IP.
Mereka ngomongnya ada 16 IP bahkan ada yang bilang 24 IP. .
Disitulah saya tau kebobrokan mereka. . . .
Hahahaha
woyyyyyyyyyyyyyyyyy…lu lu pade orang GTO kan? pendidikan tu bukan cuma tanggung jawab dosen pa rektor coy..tapi tanggung jawab semua pihak., kalo seperti itu berarti kita egois., makanya kalo ngerasa lebih pintar ayo sana bangun GTO NARENG_BARENG
JANGAN CUMA BISA NGOMONG ..emang lu lu pade tau apa yang sebenarnya terjadi
GW anak UGM tapi g prernah underestimate GTO tuh..i’m proud of GTO
kita muslim punya kewajiban untuk BERTINDAK bukan cuma BERBICARA
Dapat nilai A di sini juga g susah-susah amat tuh., jadi g usah ngerasa dah paling pinter hanya karena nilai C
itu bukan patokan coy…
MERDEKA
hohoho…ada yang marah le…but she has a gud point…
yu,emang ga susah2 amat ya dapat A di UGM? ana 4x ngulang ga dapet2 juga tuh A, sial bener deh…
kasihan juga yaa…pas baca tulisannya Qohar.
apalagi yang IPKx “selangit” itu mendaftar di Gorut, tempat lahir
beta….bagaimana kasihan Gorut mo maju kalo pegawainya kayak gitu…nanti nda ada lagi “Ophien-Ophien” berikutnya….hahahaha sedikit narsis gpp khan….!!!!
memang sudah menjadi rahasia umum kalo yang kuliah di Gorontalo (entah di PTN ato PTS apalah namanya) adalah “sisa-sisanya” ato sering dibilang tinggal depe ampas. Karena yang “termasuk bagus” itu rata2 ngelanjutin kuliah di luar Gorontalo. Jadi semestinya tidak ada yang harus disalahkan atau dipojokkan, karena yang membuat ini terjadi adalah keadaan.
saya sepakat dengan pendapat teman saya (Ibu Yuke, dosen UNG) yang mengatakan bahwa memajukan Gorontalo termasuk pesoalan SDM itu adalah tanggung jawab kita semua (anak Gorontalo). Tentunya dengan bidang/keahlian kita masing2.
Dan saya sangat yakin Yuke tau skali prosedur “penilaian” di UNG.
apalagi kita pernah sama2 satu kampus (beda fakultas ji…)
Kalo pun itu terjadi, mudah2an Ibu Yuke nanti yang akan menjadi “pioneer” pembaharuan di tempat ia mengabdi, insyaAllah.
sedikit pengalaman, dulu saya waktu kuliah (di Fak.Teknik UNHAS) pernah jadi aktivis gitu (ehhh ngakunya…). Keadaanya terbalik saya justru sering mendapat ancaman nilai “E”. Berbeda dengan di Gorontalo, Rektornya malah mengancam tidak boleh memberikan nilai “C” ato mionimal “B”…wah enak banget tuh. Coba saya kuliah di Gorontalo, mungkin saya selesai tidak selama saya kuliah disini, Makassar.
Wah… rame banget. gimana kalo Sang Rektor denger ya???
Maaf Mbak Yayuk… Coba deh baca lagi, di bagian mana kita (saya dan para komentator) merendahkan Gorontalo? Kita mendukung peningkatan SDM Gorontalo koq. Yang kita sesalkan adalah caranya. Ini PEMBODOHAN lho, bukan TIDAK MENCERDASKAN.
TIDAK MENCERDASKAN artinya karena kita terpaksa atau memang tidak ada sarana prasarana untuk mencapai kecerdasan. Misale kalo Gorontalo letaknya di pedalaman papua yang sulit dijangkau oleh pendidikan.
PEMBODOHAN artinya sarana prasarananya ada, kemauan belajar ada, tapi yang diajarkan adalah sesuatu yang membuat kita bodoh atau sesuatu yang seharusnya kita dapat lebih lho.
Gorontalo tidak terletak di pedalaman koq. Gorontalo juga gak miskin. Kalo kita bisa beli motor yang lebih cepat, kenapa harus beli sepeda? (Dalam kasus ini yang dibeli hanyalah SANDAL)
Mbak, SDM Gorontalo punya kualitas tinggi. Tapi kalo pendidikannya buruk, tetap aja… Sama kayak mobil Ferrari diisi minyak tanah. Hasilnya? Bagusan mana dibandingkan Suzuki Carry tapi pake pertamax? Siapa yang masuk surga, Ulama Sesat atau awam lurus?
Apalagi jika kita konversi nilai. “A(+)” di UNG mungkin sama dengan “C(-)” di universitas di Jawa. Padahal mahasiswa UNG mungkin kalo belajar di Jawa bisa dapat A. Kita semua punya pengalaman, gimana teman kita yang keluar dari SIC, baik karena DO maupun nyaris DO, jadi juara di SMU lain. Bahkan jadi wakil olimpiade. Seperti itulah perbandingan UNIVERSITAS dengan UNG. Saya yakin kalopun ada mahasiswa UNG yang hebat komputer misale, dia pasti otodidak.
Untuk soal NGOMONG DOANG, saya rasa kita semua tahulah blog memang ajang NATO. Karena kita tidak bisa memperlihatkan aksi kita di sini secara visual. So??? Lagian juga saya sudah pernah ngomong ke orang dalam UNG, jawabannya sama. Mumpung Mbak Yayuk dan teman-teman yang bisa secara langsung melakukan aksi, kenapa kacang? Di akhirat yang bakal ditanyain justru orang2 seperti Anda lho. “Kamu punya kesempatan dan kemampuan untuk mengubah UNG, kenapa tidak dilakukan?” Kita “orang luar” kalopun ditanya masih bisa jawab, “We didn’t hava a chance and position!”
MERDEKA dari pendidikan sesat.
tidak usah mara2 olo ibu yayuk…
semua juga tau kok deng kualitas anak2 UNG, mungkin hanya beberapa persen saja yang betul2 berkualitas..sebenarnya org2 gtlo itu pintar2 bo sayang tidak ada yang mau se maju pa dorang soale banyak olo org GTLO yang kuliah di luar kong serta lulus bo maju n sukses sandiri..bo sadiki yang mau jadi dosen di GTLO..
Tidak usah muna..
bicara soal kualitas UNG, Buktinya ngapain ngoni sebagai putera puteri daerah trus jauh2 pi kuliah diluar GTLO…???pdhl ada UNG!!!an yakin ngoni samua tau apa depe alasan..
semoga abis ini makin banya org yg semangat 4 semaju ngoni pekualitas daerah yang ternyata faktanya spt itu..
buat ibu yayuk…
torang samua juga bangga deng GTLO euy cm harus ada yang brani buka kartu deng keadaan GTLO yang sebenarnya..
N soal nilai..nilai juga patokan kok…kalo dia dapa nilai C di universitas gaul n mantap (like UGM,ST3,UI,ERLANGGA,BRAWIJAYA,dll)..an yakin te rajal bukan bodo cuma mqn kadang2 malas saja..mar kalo dapa nilai C di UNG..itu so talewat-lewat poli am…
terakhir wa…jago skali ti ibu yayuk ini am, berarti Lulus kamari banyak nilai A, somo dapa cum laude situ e berarti so ada yang nanti yg mo semaju kualitas UNG nantinya…hehehe
ana no commont suuppp….
masalahnya ana sensitif kalo so baginggung masalah IPK,NILAI,KULIAH,UNIVERSITAS dan pokeke yang bagitu-2
maksum supp ana trauna dengan “NILAI BERDASARKAN No. STAMBUK” ato “NILAI BERDASARKAN KETAMPANAN”
……………………………………………………………………….
REDWHITE
SKALI MERdeka tetap Merdeka
ana no commont suuppp….
masalahnya ana sensitif kalo so ba singgung masalah IPK,NILAI,KULIAH,UNIVERSITAS dan pokeke yang bagitu-2
maklum supp ana trauna dengan “NILAI BERDASARKAN No. STAMBUK†ato “NILAI BERDASARKAN KETAMPANANâ€
……………………………………………………………………….
ana malu kalo penilaian so kayak bagitu
dan lebe bae kita di DO saja dari pada kayak bagitu…
REDWHITE
SKALI MERdeka tetap Merdeka
Hmmm…Mungkin ana yang berhak berkomentar disini karena ana Staf di UNG jg.
Btw,dari semua itu marilah kita ambil nilai positif. Kalo memang dp kenyataan begitu,yah mo bgm lagi. Tapi sebagai dosen disitu ana sudah mengajar sesuai dengan semestinya selayaknya dosen di universitas. Tinggal kembali pa de pe mahasiswa sendri mo dibawa kemana dia beserta dp pertanggungjawaban atas keilmuwannya. Kl memang ini kritikan, jangan cuma cari salahnya saja. Tapi solusinya jg bgm
Mungkin untuk alumni yang katanya kuliah di Jawa, agar lebih ariflah dalam memaknai suatu masalah yang ada. Seperti Anda memaknai Indonesia sekarang ini. Kalo Einstein bilang semua itu relatif, mo diliat dari sudut pandang mana dulu. “Mobil yang sedang berjalan itu BERGERAK,tapi terhadap apa dl.Kalo terhadap sopir mobil itu,kayak ga tuh”. Jadi, intinya lebih meninjau sesuatu masalah dari berbagai sudut pandang.
Kita kan sudah dewasa,jadi harus bersikap selayaknya orang dewasa-lah.Tp thanx buat qoru, cuma ana agak kurang dengan dp judul. Seperti kita ingin diperlakukan, maka selayaknya itulah yang kita buat. No bodies perfect. Tp dari ketidaksempurnaan itulah kita belajar untuk lebih baik.
“No bodies perfect!”
That’s right, Dude…! Tapi kata-kata ini HANYA berlaku untuk orang yang udah berusaha mencapai kesempurnaan tapi tidak kesampaian.
Kasus UNG adalah SENGAJA untuk TIDAK menyempurnakan diri.
“We’ve tried our best!”, that’s what a LOSER said.
Solusinya ya kebalikannya lah… Berikan pendidikan yang sesuai dengan standar universitas dan jangan melarang orang memberikan nilai yang sepantasnya. (gitu aja koq repot…)
Jadi UNG relatif bagus dari sudut pandang mana, Mas? SMK Pertanian Gorontalo? Pasti UNG terlihat hebat dari situ.
MAN IC? Masa SMU lebih bagus pendidikannya dari Universitas?
Atau dari sudut pandang universitas lainnya? Jadi di mana nih hukum relatifnya berlaku?
Dude (baca dud poli…), untuk menghasilkan kualitas UNG saya menggunakan PRADUGA BERSALAH. Kalo emang UNG TIDAK GUOBLOK, buktikan! Bisa diadu sama anak MAN IC kelas 2… Mau terima tantangan saya?
baca http://www.gorontalopost.info hari ini!!!
Mutu Pendidikan Gorontalo Peringkat 5 Nasional…
setuju???
nga???!!!!!!!
sempat baca sih judulnya doank….
malas baca isinya… mesti banyak hoax-nya :-p
Judulnya doang kaleee… Mungkin isinya tentang target 100 tahun ke depan…
Atau mungkin peringkat 5 Nasional se-SLTP…
Lagian, mana pernah gorontalopost ngomongin yang benar. Isinya kampanye mulu… udah gitu nggak melindungi sumber lagi. Tulisan2 saya di sini dari dulu pengen saya masukin di gorontalo post, tapi berhubung ada pengalaman dikeroyoknya orang yang ngeritik, gk jadi deh… Mending kalo mano y mano, udah keroyokan, sama preman lagi…
wah…wah…tambah seru juga perdebatannya ya…!!!
saya tidak bermaksud untuk ikut campur…tapi kalo sudah menyinggung masalah “PENDIDIKAN”, seharusnya kita semua sebagai “Putra Daerah” dapat memberikan sumbangsih terhadap kemajuan pendidikan di Gorontalo.
dengan modal berbagai disiplin ilmu yang kita punya…saya pikir itu bisa digunakan untuk membangun daerah kita tercinta Gorontalo termasuk di dalamnya pendidikan. Memang ada orang yang mengabdikan diri sebagai praktisi pendidikan di Gorontalo…(ada beberapa alumni IC), tapi ada juga yang menggeluti dunia lain …( bukan hal mistik lo…) nah…seharusnya kita semua sedikit positif thinking bahwa apapun yang mereka lakukan, itu semua demi kemajuan Gorontalo.
di samping itu ada juga orang yang memulai karirnya di daerah lain…(seperti saya dan teman2 lainnya). Untuk saya pribadi, berkarir di daerah lain, bukan berarti saya tak ingat lagi dengan daerah saya. Justru saya berusaha “kumpul Modal” untuk membangun Gorontalo….(amiiieenn…!!!). nda tau bgmn dengan teman2 yang lainnya
kembali ke laptop…!!! o iya…dulu pernah saya berencana ingin membuat semacam “sekolah rakyat” di Gorontalo. Tujuannya untuk misi pemberantasan buta huruf. Karena sewaktu saya masih kuliah, pernah juga saya buat hal serupa di Makassar. dan ternyata masih banyak orang di Makassar yang “Buta Huruf”. saya tidak bermaksud membanding2kan antara Makassar dengan Gorontalo dalam hal “Buta Huruf” itu tadi, tapi saya berfikir, kalo hal itu berhasil saya buat di daerah orang lain, kenapa nda dibuat di Gorontalo juga???
singkat cerita, yang saya dapatkan di Gorontalo, ternyata lebih parah lagi. Bukan pada seberapa banyak jumlah orang yang “buta huruf”, tapi niat baik saya itu menemuai berbagai kendala. kalian bisa tebak kendalanya apa…????
saat itu proposal saya ditolak oleh pemda di Gorontalo, dengan alasan yang sangat “menggelikan dan memalukan”. Alasannya:
1. Kalo untuk “project” seperti itu pasti akan memerlukan
“dana” yang tidak sedikit, itu alasannya Pemda.
2. Pemda yakin skali bahwa di Gorontalo sudah tidak ada lagi
yang “buta huruf”, padahal dari survey yang saya lakukan di
salah satu kecamatan di Gorontalo, ternyata masih ada
orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.
3. “Nanti kalo jadi disetujui nt pe proposal, jangan lupa
bagi2 depe uang waa…” kata salah satu staf di Pemda yang
saya temui waktu itu.
teman2 pasti sudah bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya…
yang pasti saat itu saya hanya dengan alasan “sibuk kuliah”, maka rencananya saya batalkan dengan penuh kekecewaan…
itulah Gorontalo….
jauh dari Gorontalo saya hanya bisa berharap kedepan gorontalo bisa lebih maju dari kondisi skarang untuk seluruh bidang kehidupan….(terutama PENDIDIKAN)
sowry sup…agak sedikit “Curhat”. sengaja saya tidak publikasikan, cukup ditulis saja sebagai comment untuk masalah yang berhubungan.
minta tanggapannya juga dari teman2….
yup, itulah gorontalo q!!!
ketika orang ingin membuat maju selalu saja kendalanya seperti itu, mulai dari negatif thinking sampe embel bla…bla…
intinya kalo ingin memajukan gorontalo harus benar” siap lahir batin n modalnya ikhlas…(koq kayak mau persiapan puasa ya???)
tapi,,,,
hari gini ada nda yang memiliki itu???
Assalamu’alaikum wr.wb.
jumpa “anak2ku” yang pinter2…
boleh khan…(mantan gurumu ikutan nimbrung?)
selama 6,5 thn sy mengabdi di bumi holontalo, sebenarnya akan byk yg bs saya tuliskan (walopun nnt tdk smuanya…).
Sy mengkiaskan anak2 gtlo bagai sebuah intan yang belum terasah dan msh blepotan dgn lumpur hitam. Cerdas tapi belum terasah dan terbina dg baik. Itulah kesan pertama saat mengajar angk.1 thn ’97. Perumpamaan itu bisa dilihat dr perjalanan prestasi nilai yg dicapai si Human-Harmono-Ircham sangat jauh rentang nilainya dibanding “putera daerah” pada semester 1. Lambat tp pasti, sedikit demi sedikit, ke-3nya stagnan, putera daerah nilainya menyusul mendekati, akhirnya setelah 3 thn digembleng/diasah, hasil NEM, putera daerah bisa menyusul bahkan mengungguli ke-3 putra non daerah itu.
Kembali….ke…inti masalah.
Sy yakin dan sdh buktikan gorontalo bs maju, jk pola pikir dan pola tindak “subjek” mau berubah (sbg bandingan model : popi dan poti Insan Cendekia-lah, yg so menghasilkan orang yg berjiwa spt kalian…). Singkat tulisan…jika bu Yuke dan pak Ivan so jd Dosen di UNG, selamat, sebenarnya Anda bs jd “agent of change” di UNG. Dan saya yakin, banyak dosen yang msh “bernurani pendidikan” demi kemajuan pendidikan sejati (tdk ada relatifnya…).
Saya sbg mantan gurumu sangat berbangga dg Anda berdua, dengan harapan bisa mewarnai kualitas UNG, krn Anda cerdas dan pintar. Semua lulusan adalah pilihan, jika semua menjadi dosen di UNG, Insya Allah, nilai2 Insan Cendekia pasti akan terbawa, dan majunya UNG bisa setara majunya IC.
Sayang ya, tdk semua dosen seperti bu Yuke dan Pak Ivan yg sy so tahu kualitasnya. Sy punya pengalaman nyata saat saya msh di ICG dan sy terpilih menjadi penatar PPKn tingkat Propinsi. Sewaktu di-test kompetensi oleh Dikmenum Jakarta thn 2002, alhamdulillah saya di posisi teratas nilainya dari lebih kurang 6000 guru PPKn yg di test di 5 provinsi, termasuk Gorontalo. Dari 2 orang dosen jurusan PPKn- UNG (tdk etis disebut nama..) yg ikut test nilainya tdk sampe separo dari nilai yg saya peroleh, bahkan ada seorang guru (dr salah satu SMP di Telaga) yg bisa mengalahkan kedua dosen itu. Alamak kompetensi dosen dikalahkan guru SMP. Info yg sy dptkn knp bs bgtu, krn proses seleksi dosennya menganut asas musyawarah & kekeluargaan(kayak pelajaran sj..). Bayangkan jika IC diajar guru yang kualitasnya begitu, sy yakin Anda2 yg suka nulis di sini, psti tdk jd orang seperti skrg ini deh. (Jane lbih ringan judul diganti..”SeBAgiAn dOsEN UNG..GuO***K)
Gitu saja…ya. Maaf, jika ada pihak yang tdk berkenan..
sampai jumpa pd tulisan lain,ini msh ada sambungannya, krn saat ini posting, sy mau brangkat ngawal tour anak2 Ngawi ke Malang, ya ingat sama Matozzz lg deh..seperti di Makassar dulu, tp yg jelas jalannya muluzz tdk zeperti di Mamuju…kenangan nan sulit dilupakan
wassalamu’alaikum wr.wb.
Is kakak-kakak, biar jo kasian, smua yang torang bicarakan ini pastinya bukan cuma torang yang pikir, itu t Pak Nelson juga pasti b pikir ini, tapi yang pasti ada sesuatu di balik smua ini yang torang t tawu, ibarat tidak ada orang tua yang mau dp anak masuk neraka,,,
Asyik nih, tambah rame forum ini. Sebelumnya, saya berterima kasih kepada teman2 dan ade2 yang yang sudah turut peduli dengan Pendidikan di Gorontalo, Khususnya di Univ Nan G***ok. Apalagi Ada Pak Wid yang sudah berkesempatan meluangkan waktu beliau di forum ini,
Memang fakta yang ada sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh saudara Qoru dan teman2 yang lain. Buktinya juga adik2 dari cendekia tidak ada “yang nekat†melanjutkan ke UNG.
“No bodies perfect!â€
That’s right, Dude…! Tapi kata-kata ini HANYA berlaku untuk orang yang udah berusaha mencapai kesempurnaan tapi tidak kesampaian.
Memang sih, paragraf diatas benar,tp bukankah usaha untuk mencapai kesempurnaan dicapai dalam waktu yang instant? Seperti halnya manusia, tumbuh dan berkembang sesuai dengan waktu untuk kemudian mencapai proses kedewasaan. Kl mmg ada manusia yang baru lahir langsung makan Jagung bakar, itu baru SAYA SALUT dengan itu.
Untuk Center pendidikan yang TOP RANK di Indonesia, kan tidak langsung bisa jadi seperti skrg ini. Karena kerja keras org2 terdahulu mereka, org2 yang sekarang telah menuai hasil dari kerja keras mereka terdahulu. Ga jauh2 bro, liatlah trg p skolah CENDEKIA. Berkat kerja keras dari guru2 kita,semua pihak, terutama siswanya yang ingin selalu maju/up to date dari dahulu-sekarang, hasilnya yang menikmati juga Anak gorontalo n Indonesia. Hehe…!
Kl memang kita ingin pendidikan di Gorontalo maju, maka Saya mengundang kepada Teman2 yang sudah berguru di negeri orang atau di tempat yang menurut orang TOP RANK di Indonesia untuk berpartisipasi berinvestasi ke dunia pendidikan itu sendiri, terutama di gorontalo. Menerapkan ilmu yang Anda dapat ke Gorontalo. “KALO INGIN MEMAJUKAN SUATU TIM SEPAKBOLA, REKRUTLAH TALENTA2 YANG AHLI PADA BIDANGNYA (mulai dari manajer, pelatih, pemain, official, dsb). BUKAN MEREKRUT KOMENTATOR yang hanya memakai setelan dan dengan gagahnys menyoroti org yang sedang bertanding, tanpa berkeringat sedikitpun. Kalo merekrut WASIT? So laen poli dp cerita…!
Contohlah klub Bola yang ada sekarang : MU, Chelsea, Inter, dsb (yang klubnya x disebutin jgn mrh wa). Mulai dari Back, sampe Striker (semua Yahud uti, smp bikin org tdk tdr cm mo lia pa drg. BAGI YG SUKA BOLA TANTU). Coba kalo Universitas rekrutmenx dibikin kyk bgt. Ampun DJ…!
Mungkin perlu waktu untuk mengubah suatu tatanan system pendidikan yang ada digorontalo. (Perlu waktu tp ada batasannya,bkn seperti PECUNDANG yang tdk memberi batasan waktu dalam pencapaian target kerjanya). 3-5 tahun? Atau Kenapa kita ga berbuat dari sekarang? Illustrasi : Bagaimana jadinya jika DEKAN FAKULTAS, bahkan REKTOR yang ada di UNG adalah ALUMNI INSAN CENDEKIA, yang alumninya dibekali dengan berbagai bidang ilmu dan kemampuan yang di atas rata2. Tentunya kebijakan yang nanti akan dilaksanakan mengacu pada sebuah sistem yang Nan Megah seperti bagaimana SUATU SISTEM BERBASIS INSAN CENDEKIA diciptakan. This is not Mission Impossible, bro…! Sorry, bukan rasialis poli ini. Cuma mengingat trg p amunisi (ALUMNI IAIC yang di atas rata2) yang semakin banyak dan siap mengadakan suatu perubahan, setidaknya ke Pe-de an dikit/bnyk ga papa to.
Ketika kondisi itu tercapai ga ada lagi yang berani menulis paragraph di bawah ini :
â€Jadi UNG relatif bagus dari sudut pandang mana, Mas? SMK Pertanian Gorontalo? Pasti UNG terlihat hebat dari situ.
MAN IC? Masa SMU lebih bagus pendidikannya dari Universitas?
Atau dari sudut pandang universitas lainnya? Jadi di mana nih hukum relatifnya berlaku?
Dude (baca dud poli…), untuk menghasilkan kualitas UNG saya menggunakan PRADUGA BERSALAH. Kalo emang UNG TIDAK GUOBLOK, buktikan! Bisa diadu sama anak MAN IC kelas 2… Mau terima tantangan saya? “
Manusia itu diciptakan dalam kondisi yang paling sempurna diantara makhluk2 ciptaan-Nya.Tp bukan dengan kondisi seperti itu manusia se-enaknya sendiri. ALLAH menunjukkan dibalik ke-sempurnaan itu manusia masih bnyk kekurangan, spy manusia itu bisa mengoreksi diri agar supaya tidak sombong dan angkuh.
Pak Widodo, kita semua kangen nih…!Mudah2an Pak Wid beserta keluarga selalu diberi kesehatan dan dilindungi oleh ALLAH SWT. Salam buat Faiz yah.
FYI, saya skarang ngajar (dosen luar biasa) di Univ. Muhammadiyah Gorontalo. Saya memang diberikan silabus, tapi saya lebih banyak membelot. Misalnya, ketika dosen lain memberikan teori, saya langsung memberikan praktek. Saya memberi contoh dan analogi yg mudah didapat di masyarakat. Dalam kuliah saya tidak ada catatan rapi. Tapi mahasiswa saya langsung mencatat apa yang saya katakan tanpa didikte. Ketika saya mengintip catatatan mereka, yang saya liat mereka mentransfer yang saya sampaikan ke dalam bentuk kata-kata mereka sendiri. Bahkan ada yang menggunakan bahasa (logat) Gorontalo. Salah satu bentuk kreatifitas yang saya munculkan dari pribadi mereka masing-masing.
Saya juga selalu menekankan bahwa mata kuliah ini tidak ada kitab sucinya. jadi semua pendapat dapat dibenarkan. Contoh, klasifikasi Teknologi Informasi berdasarkan kegunaan. Saya membebaskan mereka untuk membaginya dalam berapapun klasifikasi. Ahli yang mengklasifikasikannya juga manusia, bukan Tuhan, berarti teorinya MASIH TERBANTAHKAN. Kecuali untuk hal-hal yang eksak, seperti 3×3=9, walaupun tidak ada dalam kitab suci manapun yang menerangkannya secara eksplisit, tetaplah kita percaya kebenarannya.
Konsep yang saya tanamkan adalah REVOLUSI PENDIDIKAN. Untuk bisa mengendarai sepeda motor, Anda tidak harus bisa mengendarai sepeda dulu. Untuk bermain sebuah game, seperti NFSU, kita langsung bisa ke level medium tanpa harus khatam di level easy terlebih dahulu. Umur si mahasiswa tidak panjang. Apalagi di kelas saya yang rata-rata 22 tahun. Apa iya kita harus ngajarin dari awal lagi. Umur berapa, bro mereka bisa expert???
INTINYA, skarang abdulqohar.com sojadi AGENT of CHANGE. Klo ngoni yg laen masih “babaakal” (membodohi) ngoni pe mahasiswa, sapa yang kurang ajar? Kalo kita skarang so tida NATO kong ngoni masih bagitu2 le sapa yang talalu?
Ini yg ngoni bilang jgn cuma bicara, kita sobekeng kamari. MOBAAPA le ngoni? Di kehidupan yang mana ente mo menang lawan kita???
Agap k’ Kohar,
Jangan pake Esmosi. .
Yah seenggaknya k’Kohar so berikan contoh, dan semoga contoh ini bisa ditiru. .
Aku baru baca semua commen’ sampai ada yang curhat mengenai proposal pembelajaran yang buta huruf yang di Tolak.
Kalo mo dikata orang yang bicara disini NATO gak juga tuh, buktinya beberapa orang alumni yang bergerak di bidang IT kerjaannya, sedang menggarap project bersama PEMDA Provinsi Gorontalo yaitu melahirkan sebuah Master Plan Pengembangan Teknologi Informasi di Gorontalo untuk Periode 2009-2013. Jadi sebenarnya gak ada yang NATO posisi sekarang ini, cuma saja Pergerakan kita yang kurang Nampak bagi orang yang menganggap kita NATO.
Mungkin kami belom menjamah dunia pendidikan (Seperti Menjadi Dosen) tapi kalo dosen lepas alias dosen terbang mungkin Kami siap memberikannya. . itupun kalo dibutuhkan.
Santai, Bro!!!
Ana tida emosi uti… ana itu profesional. Klo baku bantah di sini, abis di sini no… beda kalo so di luar. Dari dulu ana slalu ingat cerita Mr. Bambang Astadi. Ceritanya DN Aidit dengan Sutan Syahrir itu klo di forum sorupa somo baku tikam, tapi klo pas makan siang bareng so rupa sudara kandung.
Kalo kita bagitu, kita harap juga orang2 yang pernah baku bantah dg kita di forum manapun, terutama dr. Ivan, juga menerapkan hal itu.
OOOOOppps. . . No Hurt Feelin’ pliszz…
Ini forum kan emang adu argumen gak ada yang kalah dan benar. .
Jadi jangan sampe nya baku togor di luar sana. .
Heheheheh
Thanks na dah dtng ke acara hajatan pernikahan aq, slm sm Dewi yach
Kumaha damang Kang Qohar…..??
Bos bgmana carax jd DLB di UMG, ana biar cm di fak sospolnya sup…..
dasar anda mengatakan bahwa kampus ijo atau unisan gorontalo adalah sebuah universitas tempat kursus dasarnya apa sih ni gue berpikir kadang-kadang orang kalau menganggap dirinya pintar dalam mengemukakan pendapat yang ngga berdasar seperti mengatakan lulusan dari kampus ijo merupakan lulusan tempat kursus yang bagi sebagian orang yang mendalami ilmu di kampus itu yang dengan semangat 45 datang dengan niat yang tulus pingin menunutut ilmu di kampus tersebut memang merasakan langsung persaingan yang ada dalam mendapatkan sebuah nilai B atau nilai A itu bagi mereka ngga mudah lo dan itu bagi saya seharusnya anda shering dengan lulusan kampus ijo tsb agar anda tau kualitas dri orng tsb jadi jangan asal ngomong krn melihat dari ipk orang tsb,mungkin saja tu orang secara teori maupun praktek bisa ataupun mampu mempertanggung jawabkan di siplin ilmu demi menjaga kulaitas dari alumni kampus ijo tsb…………….salut buat anda yg brani menyamakan lulusan sebuah universitas sama dengan lulusan dari sebuah tempat kursus.
@ANAK BODOH
whew…
hmmm,kayaknya ini bukan masalah si mhswa bisa dapat nila A atau IPK yang sangat tinggi,
tapi lebih ke masalah apakah si dosen bener2 ngasi materi yang sesuai dengan yang seharusnya diajarkan ke anak D3 atau S1…
yah kalo cuma MsWord,Excel,
soal bhsa Inggris setaraf anak SMU,
and wolo lahepa itu,…
semua orang bisa dapet A lah..
wahh,, tambah seru..
btw “orang bodoh” siapa yah?? setauku di sulawesi ga ada fam “orang bodoh”,, huehehe,,,
Makin hot aja neh. .
Sikaaat
Gak perlu menegaskan dengan ID udah ketahuan ko kalo Anda BODOH… Dari tulisan gua udah jelas DASAR-DASAR why (kenapa) saya berani menulis seperti itu… Ente BUTA apa BODOH??? Ente sekolah dulu lah baru ngasih komen…
Yaiyalah, dimana2 orang goblok salut ke orang pintar… Tapi gak slalu juga sih. Buktinya saya salut atas kebodohan Anda!!!!
Buat Orang Bodoh yang saya hormati. .
Dari Kalimat itu anda terlihat sangat bersemangat membela almamater anda. Namun, terkadang luapan emosi anda perlu di jaga atau di kontroll sehingga tidak membuat almamater anda semakin tercoreng lagi. . Jika anda pengen menggunakan idiom dalam bahasa inggris. harap memperhatikan kata yang mau di tulis, bisa-bisanya seorang lulusan S1 dari Universitas menuliskan kata Sharing, jadi shering?? maksudnya iki piye toh?
Cerminan lulusan Unisan ato kampus ijo seenggaknya bisa terlihat dari cara menulis anda yang menggunakan idiom-idiom bahasa inggris masih sering salah. .
Masalah nilai, saya itu sudah sering ngobrol dengan teman2 anda yang sedang dan telah lulus dari unisan. . yah bisa dikatakan yang anda maksud dengan yang lulus dengan bersusah payah mendapatkan nilai dari 100 hanya 5 orang. soalnya dari temen-temen saya itu, kebanyakan dari mereka mendapatkan nilai dengan mudah. petikan ato cuplikan sewaktu mereka ngomong dengan saya :
“Ngana tau Yon, kita kalo ujian susah, gampang kalo mo suka dapa A ato B, tinggal bilang pa dp dosen ‘Pak, ntar malam saya tunggu di Mawar Sharon’. dan si Dosen tersenyum tandanya mengiyakan. setelah acara makan malam itu, nilai pun didapat.”
Simpulkan sendiri hal-hal dari pernyataan saya diatas.
Bukan saya mau menjelekkan, namun itu fakta.
Assalamualaikum
kutan nongkrong yak…
ya Robbi…
jadi rame bgt yak ini artikel, commentnya !!!
mudah2an kita semua gak cuma bisa perang di comment ajah, tapi bisa memberikan bukti nyata dilapangan. Karena Pendidikan adalah tujuan dasar dari negara tercinta Indonesia seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dimana kita semua bertanggung jawab ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
ttg caranya, yah di kembalikan kepada masing2 pribadi, karena semua itu bernilai relative.
dah ah gak mau NATO lagi. gak baik saling memojokkan dan menganggap diri paling benar. semuanya saling memperbaiki (gilingan gw bisa ngomong bijak juga ya)
mohon maaf kalo ada salah2 kata…
Wassalam…
*lari ^_^
(>>gilingan<< gw bisa ngomong bijak juga ya)
mohon maaf kalo ada salah2 kata…
k’yudi emang bijak ya, begitu tau salah langsung minta maap..
patut ditiru…
hehehe, piss k’….
Mas-mas, hargai orang dong… Makanya kalo masuk sini sebelum ngasih komen baca dulu wacananya, trus baca komen2 yg lain. Liat alasan pro kontranya. Jgn kayak orang bodoh yg tiba2 ngasih komen yg … “what the…?”
Dari awal tidak ada seorangpun yg mengatakan kalo org gtlo. Malah saya berulang kali telah menegaskan bahwa org2 gtlo pintar-pintar, tapi gak dikasih ilmu yg benar. Ibarat kata teuh, otak SMA dikasih pelajaran SD. Yang kurang ajar siapa? si mahasiswa apa institusinya? BJ Habibie kalo gk pernah ke Jerman atau kalo tinggal di pedalaman Papua, gak mungkin beliau mendapat predikat sbagai orang paling pandai di Indonesia. Kenapa? Karena beliau gak pernah dapat ilmunya. Makanya saya saranin, skolah dululah baru ngasih komen…
Busyet, hebat banget si Qoru sekarang. Salut deh buat loe. loe lumayan bisa nginspirasiin orang lain. Bravo buat loe dah. I vote Qoru for the next election president. Soalnya kalo diliat-liat Qoru kayaknya mirip ama BArack Obama.
Hehehe…just kidding qoru, but actually i hope it will be true. because we need perubahan.
sory kalo bahasanya agak ngaco.
but whateverlah, yang penting ngomong.
Iya nih Bang Qoru mkn Mantabs dan Istiqomah. Apalg di blog nye sndri wuih SaLuTe dah…
menanggapi comment diatas setelah dilakukan riset lebih lanjut, bener juga ya, ko mirip Barack Obama…
Vote Qoru for SEnate Gtlo (ikut mencalonkan diri jd Caleg gak bang???)
akhir kata mohon maaf. piss bang. ^_^
Terserah deh modibilang mirip siapa… Barrack Obama ke’…, Pasha Ungu ke’…
Jadi caleg? Sekitar 5 bulan lalu seorang teman yang kebetulan termasuk Tim Sukses salah satu caleg di BTN menanyakan kepada saya kalau saya berniat untuk jadi caleg. Teman saya ini menanyakannya di depan rekan2nya sesama TS dan Sang Caleg ybs.
“Tida bole jadi caleg ana, aba… Dia tida motarima”, kata saya.
“Ah, masa olo… Kiapa so?”, tanya teman saya.
“Soalnya kita pe ijazah asli. Yang memenuhi syarat jadi caleg itu harus ijazah palsu…”
Sang Caleg dan TS lainnya saat itu mukanya kayak mau jatuh, tapi tetap tersenyum. Sepertinya dalam hati mereka berkata,
“Sebenarnya butul deng lucu, tapi sala2 kita motatawa…”
Mohon maaf bagi yang tersinggung… Sapa makan rica dia rasa pidis…
[...] tulisan saya sebelumnya tentang UNG, saat ini saya malah datang dengan bukti yang lebih real lagi. Saat ini tahap penerimaan sudah [...]
wololo hasilnya kawan apa anda dinyatakan lulus berkas…………..
bos sadar ngga lu ngasi coment
Wuah…. lagu lama..
Aq pernah juga n s/d skrg diminta ngajar di Univ swasta yg katanya paling OK se Gorontalo karena Univ meragkap BUMD disebuah Kabupaten yang Bupatinya OK juga dg Gov mobilenya (atau mgkin lebih tepat pake “mobile gov”?????, tau ah !!!)
Suatu ketika aq pernah ngasih nilai D ke MAHASISWAx yang memang berdasarkan standar yang jadi tolok ukurku ya bisanya segitu itu…
Tau gak apa reaksi Dekannya…? NGASIH SURAT SAKTI BO !!! Via mahasiswa minta nilai perbaikan yang dituker sama (ada aja deh, malu2in jika diomongin disini..)
Aq aja di UNHAS dapat nilai B aja susahnya minta ampun.. dah gitu perbaikan paling juga klo gak ngontrak ulang di semester panjang tahun berikutnya bisa di semester pendek tapi gak ada jaminan bisa nilainya naik apalagi LULUS.
Wah.. ngelus dada deh, ke Mhaswa ama dekannya aq kasih tau tidak masalah aq ksh nilai apa, tapi masalahnya mahasiswa bisa tanggungjawab tdk dengan nilai segitu… Dunia-Akhirat !!!!
Alhamdulillah, meskipun aq jadi diCAP sbg dosen “Paling KIKIR nilai’ tapi gak apa2 deh… dari pada juga ………..
hahaha UG ya…
[...] jumlah komentar terbanyak (45 Komentar) di blog cendekia.web.id dipublikasikan pada bulan ini. Tulisan tersebut menyoroti salah satu perguruan tinggi negeri di Gorontalo, UNG. Tulisan ini juga dikomentari dengan [...]
Hm… Makin rame dan seru saja… Satu hal yang saya percaya, teman-teman semua punya satu keinginan yang sama untuk memajukan daerah Gorontalo kita tercinta. Soal “bagaimana”, saya rasa punya cara masing-masing makanya punya pandangan yang berbeda-beda (wong banyak kepala jelas beda isinya lah!).
Mungkin maksud kak Qohar bukan untuk menjatuhkan universitas/lembaga pendidikan yang dimaksud karena saya pun yang sudah beruntung bisa menimba ilmu di SIC tetap merasa malu kalo melihat kenyataan yang ada yaitu kualitas pendidikan di Gorontalo masih mengecewakan. Mo setinggi apapun prestasi Insan Cendekia hanya akan sia-sia kalo tidak bisa membawa perubahan pada lembaga pendidikan lainnya.
Yang kita bicarakan kan sistemnya dan yang kurang disadari adalah kita juga termasuk dalam sistem itu. Cuman tidak semua dari kita terlibat langsung, ada kak Yuke dan kak Ivan disana. Ya lewat mereka ini kita sumbangkan pendapat dan hasil pikiran, kita dukung mereka, beritahu mereka kalo ada yang kurang, kasih solusi untuk tiap permasalahan yang ada, insya Allah dengan bekerja sama kita bisa membawa perubahan walopun cuman sedikit.
Intinya, kalo kita bisa menerima kenyataan dan mengakui kebenaran tentang kekurangan di diri kita maka kita bisa mengambil langkah selanjutnya yaitu memperbaiki diri. Selama tak bisa mengakui, maka tak akan bisa berubah ke arah yang lebih baik.
Tetap semangat demi kemajuan bersama…
ikutan niy,
maap bru bs gabung skrg cz bru sempet.
knp ya kt cmn bs merendahkan saudara kita, tanah kita, ktka smua pengetahuan dan teknologi mengisi penuh otak kita hingga jadikannya buta dengan kenyataan. bakan waktunya lagi tuk saling merendahkan, saatnya saling menggenggam erat jemari dan melangkah bersama guna tg lbh baik, jayanya pendidikan, jayanya gorontalo, jayanya bangsa.
jayanya gorontalo bukan berarti jayanya bangsa. Indonesia bukan cuma gorontalo bung. Indonesia ini luas, dari ujung sabang sampai merauke kecuali timor-timur.
Saya kurang setuju anda katakan buta dengan kenyataan. . buta itu jika kita tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya telah terjadi di sana.
ini kan mr. Kohar memaparkan keadaan sebenarnya, berarti gak ada yang buta donk. .
ya yg maju gk hanya gtlo doank donk, apa gunanya kt berangkulan td klo cmn majuin gtlo aj. kan indo gk hanya gtlo sprti yg saudara katakan td.
Indonesia ini luas, dari ujung sabang sampai merauke kecuali timor-timur.
buta yg saya maksudkan bukan buta gk bs ngelihat tp buta hati. bs d crna kan. takbantu ngunyah klo gak abiz deh.
coment orang awam.
samua itu koment yang ente2 sampaikan benar, tapi kalau mwnurut ana
samua tergantung dari SDM itu sendiri kalau so tau gampang IPL tinggi setelah itu nyandak ba usaha menambah kualitasnya ya jadi manusia bodoh ( Ada Band ). kong masuk kerja nyandak lulus, nyalakan panitia seleksi padahal udah tahu sendiri kualitasnya
gimana. trs jadi pengahambat kemajuan daerah ditambah lagi pandai
ba akal pa orang bodoh, apa nyadak lebeh ancur GTO deng orang macam
dia tuh !!. kita kaseh saran juga pa ngoni yg lebeh pintar tolong
GTO dari keterpurukan ini kaseh batu-batu supaya bisa lewati hal ini, kita tau disana banyak batu di batu daa he.he..he ! orang gorontalo yg awam tentang GTO (meranto sampai ka sumatra)
Hukondaloo Lipuu.
Torang peranto manangis dengar debat kusir yang harusnya diusir ,
kita memang lulusan Manado kong marantau di Riau. Disini SDM lebeh rendah lagi padahal daerah kaya, tapi lebeh kaya deng Korupsi. disini masih ada orang yg masih pakai baju kulit kayu, tapi belum
semaju SDM di hulondalo lipuu, makanya torang dari sini menghimbau
masih banyak daerah yang masih jauh dari torang, kaseh maju kagi GTO jagan hanya ba carlota, tunjukan bahwa perjuangan Bapak Pulontalo dkk. tdk menjadi sebuah kertas buram yang akhirnya dibuang ke tong sampah. tapi menjadi pemicuh torang yang muda2 untuk menjadikan target GTO 2010 menjadi daerah dengan SDM yang siap meyambut Blobalisasi bukan hanya tingkat nasional saja tapi
sanpai ke Internasional.
huabis deh
yah.. lulusan SIC memang pintar2 tapi mentalnya kayak tempe. di ejek dikit nangis, dikasih soal yg bukan teori mikirnya lama sampe rambut pada ubanan. banyak tuh yg alumni SIC yg kuliah di UGM, ITB, UI, dll tapi cuman jago teori doang. ana2knya didik cuman buat lulus perguruan tinggi aja. cucian deh lu… ngaca dulu dong sebelum komentar. lihat sekelilingmu, alumni SIC yang Atheis juga ada.
kelihatan dari komentar si Qohar yang merasa paling jago, paling pintar dan paling lurus, kayak gitu anak SIC dididik. bisa dikit omongnya gueede, kasian SIC telah melahirkan tuhan-tuhan kecil, yang mengambil hakNya untuk memvonis hanya berdasarkan sedikit info. Banyak-banyaklah bergaul, semakin banyak pengalaman semakin rendah hatimu, semakin tajam lidahmu untuk mengasah kecerdasan bukan untuk menusuk dan membelah.
maap y mas/mba’ nonte..postingan d atas anggap aj kritik yg membangun..tiap org punya cara masing2 dalam menyampaikan sesuatu termasuk kritik..ad yg galak ad yg lembut..ad yg pake sindiran ad jg yg ‘to the point’..jd skrg balik lg k yg dikritik, sadar g kalo lg diomongin org..kl sadar cepat2 berubah selagi sempat..kalo g, k laut aj sono (bkn mas/mba mksdnya)..
peace love and money..v(^_^)v (>_<) $$$$
melihat komen2 yang berseliweran, banyak yah orang yang pintar BICARA di gorontalo?
kok gorontalo begini2 aja yah? lebih luas lagi, kok INDONESIA begini2 aja yah?
tanya kenapa
assalamualaikum
nonte(lo siapa sih):jelasin deh arti peran lo..tiba2 muncul entah darimana dan langsung menghina lulusan IC,tau apa kao??!….
drpd kurang kerjaan,
mending lo berdiri di depan cermin dan berkata ke org yang muncul di cermin “lo kurang kerjaan men”
ilovemycountry: tanya kenapa?jawabnya begini:
1.khusus untuk anda,pertama-tama keluarlah dulu dari tempurung,jangan kelamaan
2.tumbuhkan rasa cinta bangga terhadap gorontalo dan indonesia
3.tumbuhkan kesadaran dan kepedulian untuk membangun indonesia bahkan dalam bentuk sekecil apapun(membuang sampah pada tempatnya bisa menjadi contoh)
4.jika rasa cinta dan bangga sudah ada,akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan peingkatan kesadaran dan kepedulian membangun tanah air,maka langkah selanjutnya gunakan mata dan telinga untuk melihat dan mendengar perkembangan nyata gorontalo dan indonesia yg positif dari berbagai media yang sumbernya terpercaya.
5.akan anda sadari ada perkembangan nyata dalam tubuh negeri ini ketika disaat yang bersamaan tumbuh juga rasa malas anda dalam membuka wawasan dan mencoba menumbuhkan semangat nasionalitas..
no hurt feelings..haha..
wassalam
to fikri:
now, people like you is what this country really need. hope u can realize what u just said. especially about the “buang sampah”.
Hmmm. .
Saya pikir, mari kita akhiri diskusi yang panjang ini. jadikan ini masukan dan segeralah melakukan aksi. Saya udah ulang2 kali menekankan, kita dilahirkan bukan untuk orang yang NATO, tapi DOMOTALE (Do More, Talk Less).
kyapa ion,hahaha
to ion:
yang jadi dilemma adalah, negara kita lebih menghargai orang yang jago bicara daripada JAGO beneran, pintar bicara daripada pintar beneran…hehehhehee….. CMIIW
Wahh ini topik hot lagi.. banyak yang akses..
Wah keren, nice share gan :2thumbsup ane kasih :rate5 :toast :cendolbig , semoga ke depannya menjadi lebih baik :beer:
ane bantu sundul ah biar rame :sup2: :iloveindonesia :ilovegorontalo
tulisan asal tapi memotivasi!
menarik…
bagaimana jika rektor itu sengaja? Untuk menimbulkan orang2 yang nantinya terbuka matanya, seperti anda2 yg diatas… saya pikir anda semua mumpuni untuk mengubahnya.
ya.. meskipun hal ini termasuk jahat jika dilarang memberikan nilai C…
thanks…
keren artikelnya kak Qoru..sudah lama d post tp bru baca..
sy mendukung artikel ini..karena seperti itulah kondisi Indonesia dan Gorontalo skrng ini..org2 lebih mengutamakan Kuantitas dri pada Kualitas..semua di lihat dari harga dan nilai saja..sedangkan kualitas..di nomor duakan..
pdhal klo kita mengejar kualitas, InsyaAllah kuantitas juga bakal dapat deh..
nah..berhubng d atas ada yg membela almamter, sy jg ingin membela almamater..
>dgr anak2 IC sdh tersedia kursi yah klo mau masuk UG or UNG klo tdk slah..smpt trdengar d tahun kelulusan ku 2008 sprti itu..dan ternyata d tahun 2011 juga sy msih mendengar hal itu..dgr2 anak2 IC….<
nah klo berkuantitas..nnt msih akan di tuntun kualitas..(nah loh) syukur dah yg pnya IPK 3.85 tuh klo bener berkualitas..klo cma berkuantitas??bisa mati bunuh diri dia di dunia kerja tar..
smoga artikelnya semakin membuka mata orang2 daerah yah kak…^^
bahwa kualitas tuh tdk hanya di ukur dengan angka…klo cma ngejar angka..sia-sia kita sekolah tinggi2..
tp klo kita mengejar ilmu..mau kualitas dan kuantitas pst bisa d raih..itu yg d ajarkan di Insan Cendekia..itu rahasianya knp Insan Cendekia terlihat "wah" d mata masyarakat..
wah..ada artikel yg hilang..kyknya gara2 pke simbol macam2
“klo kita berkualitas, mslah kuantitas belakangan deh..
nah klo berkuantitas..nnt msih akan di tuntut kualitas kita..(nah loh) syukur dah yg pnya IPK 3.85 tuh klo bener berkualitas..klo cma berkuantitas??bisa mati bunuh diri dia di dunia kerja tar..”
Wah menarik sekali tulisan ini. Saya sendiri dosen UNG di fakultas sastra meskipun terhitung masih baru beberapa kali memberikan nilai C buat mahasiswa…dan saya baru tau dari tulisan ini kalo ada larangan dari rektor untuk memberikan nilai C. dalam artian itu mungkin cuma isu..untuk kualitas lulusan mungkin kita tidak bisa overgeneralisasi (sudah bukan zamannya lagi) banyak kok lulusan UNG yang nilai-nilai nya bagus terterima di dunia kerja. bukan itu saja bahkan mereka go nasional dan international. silahkan saudara cek lulusan2 dan mahasiswa di fakultas sastra dan budaya, banyak dari mereka yang berprestasi, ikut lomba dan event2 nasional dan berhasil membawa nama UNG dan menjadi juara. tidak sedikit pula mahasiswa dan lulusannya ikut pertukaran pemuda antar negara dan program2 LN lainnya. mungkin ada kasus di UNG yang seperti saudara sebutkan diatas, tapi bukan berarti semuanya..semoga bisa mencerahkan pemikiran kita semua.semuanya punya plus minus jadi bagaimana bijaknya kita mensikapi hal2 tersebut. makasih sharingnya juga…
trend skrg…
dosen lebih doyan ngejar proyek daripda menyelesaikn tanggung jwab memberi kuliah kpda mahasiswa… rugi leh mahasiswa tiap smter klo dp dosen mangajar cma se-enak perut mereka…
klo lgi ada proyek bnya,, cpat2 brngkat k luar daerah kong mahasiswa drg kse full dgn tugas2 yg tida berbobot… hele dosen mo mngjar sja masi ta bingong2 pa lagi klo dp dosen tida jga maso????? so bukan bingong leh…
atiolo mahasiswa [khusus for mahasiswa yg sadar bhwa pendidikan itu penting] klo yg cma mo b tepos di kampuz mending b pajeko jo disawah,, lebe rame mo b tepos akan…
Tulisannya dibuat tahun 2008, berarti udah lebih dari 3 tahun usia tahun ini. Kalo di UNG udah ada perubahan yang signifikan, Alhamdulillah. Yang parah kalo masih gak ada perubahan, atau perubahan dikit banget.
Idealnya universitas mampu melahirkan alumni yang gajinya lebih besar dari dosennya. Kalo masih lebih dari 50% alumni gajinya masih di bawah dosennya, berarti universitasnya gagal, bukan?
Kondisi di 2008 itu, banyak alumni UNG yg tersebar di toko-toko sebagai penjaga toko. Kalo kondisi skarang saya gak tau. Yang jelas, kalo kita jalan bareng, dalam waktu 1/2 jam saya bisa menunjukkan pada Anda 20 alumni UNG yg masih jadi pramuria. (saya belum sensus, tapi saya berani bertaruh) *sombong*
Soal generalisasi, kalo ada 3 dosen dari 3 fakultas yang berbeda mengakui hal itu, bukankah kita boleh mengeneralisasi? saya gak ketemu dari fakultas lain lho…
Oh, iya Bu Tia, saya nitip saran. Saya menemukan mahasiswa PGSD yang tugasnya masih dalam bentuk tulisan tangan. Mungkin tujuannya untuk menghindari copy-paste. Tapi ternyata dosen pun tidak dapat mengontrol mahasiswa ini untuk tetap copas dari internet. Intinya, idenya tetap bukan dari mahasiswa sendiri. Jadi bahan yang dari internet, ditulis tangan kembali. Di saat mahasiswa di jawa (gak usah jepang ya) udah bikin robot, kita masih tulis tangan??? Jangan heran ketika mereka menjadi guru nanti, pasti siswanya disuruh mencatat melulu.
Berhubung, tradisi copas tidak dapat dikontrol oleh dosen, kenapa gak kita biarkan saja mereka cari bahan di internet tapi kemudian mereka mempresentasikannya di depan kelas. Minimal kemampuan bicaranya terlatih. Daripada tulis tangan yang tidak melahirkan skill apapun, bahkan keindahan tulisan pun tidak meningkat sama sekali…
Ass……..
Kata Maryanto Ngeluh “SUPER SEKALI”…
salut buat tulisan Saudara Qohar yang sudah menarik banyak komentar pro maupun kontra…
salut juga pro…salut juga buat coment kontra…
tulisan saudara Qohar saya anggap sebagai deskrisi kebenaran..
tulisan ini bisa saya katakan sebagai tulisan bertema “kritik dunia pendidikan Gtlo” yang paling empirik….
klo boleh saya sarankan bikin lagi jilid duanya..trus masukkan ke penerbit CIVICA UNG… berani????? wkwkwk wss wr wb
Ass……..
Kata Maryanto Ngeluh “SUPER SEKALI”…
salut buat tulisan Saudara Qohar yang sudah menarik banyak komentar pro maupun kontra…
salut buat yg pro…salut juga buat coment kontra…
tulisan saudara Qohar saya anggap sebagai deskrisi kebenaran..
tulisan ini bisa saya katakan sebagai tulisan bertema “kritik dunia pendidikan Gtlo” yang paling empirik….
klo boleh saya sarankan bikin lagi jilid duanya..trus masukkan ke penerbit CIVICA UNG… berani????? wkwkwk wss wr wb